Keluarga Quotes

Quotes tagged as "keluarga" (showing 1-13 of 13)
Hamka
“Panggilan 'ayah' dari anak-anak, ketika si buruh pulang dari pekerjaannya, adalah ubat duka dari dampratan majikan di kantor. Suara 'ayah' dari anak-anak yang berdiri di pintu, itulah yang menyebabkan telinga menjadi tebal, walaupun gaji kecil. Suara 'ayah' dari anak-anak, itulah urat tunggang dan pucuk bulat bagi peripenghidupan manusia.”
Hamka, Cermin Penghidupan

“Sebagai perempuan Indonesia yang lama tinggal di Jerman, mendiang Ibu Ainun merupakan inspirasi bagi saya, juga bagi banyak perempuan Indonesia di Eropa. Penampilannya sederhana namun sempurna. Mengurus rumah tangga sendiri, masak sendiri, mendorong suami berkarier, bahkan kadang menyopiri ke kantor, mengantar anak-anak sekolah, merawat ketika sakit, membesarkan mereka hingga mengantarkan mereka menjadi orang-orang sukses.”
A. Makmur Makka, dkk., Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat

Adhitya Mulya
“Menjadi panutan bukan tugas anak sulung-kepada adaik-adiknya, tapi tugas orang tua kepada semua anak”
Adhitya Mulya, Sabtu Bersama Bapak

Sutung Umar RS
“Begitulah kehidupan, kawan yang suatu waktu dulu begitu rapat, begitu mesra pada waktu lain menjadi begitu jauh dan malahan tak pernah bertemu. Dalam waktu sama terbentuk pula kawan-kawan yang baru oleh pelbagai sebab - sama ada kerana profesion yang sama ataupun kerana bekerja di pejabat yang sama atau tinggal pada satu kawasan kejiranan yang sama.

Sementara itu keluarga terdekat, seperti misalnya sepupu dan seumpamanya, oleh sebab tidak tinggal berdekatan menjadi jauh dan semakin jauh. Anak-anak masing-masing tidak pernah lagi kenal-mengenal antara satu sama lain - masing-masing sibuk dengan tugas dan tanggungjawab masing-masing. Kalau berjumpa pun hanya sesekali apabila ada kenduri-kendara ataupun apabila ada sesuatu kematian dalam keluarga.”
Sutung Umar RS, Dia dan Nya

“Ring 1 dari pertahananmu adalah keluargamu, kokohkanlah ring 1-mu itu.”
Hilaludin Wahid

Rahimidin Zahari
“kupesankan
untuk isteri, katakanlah kepada
anak-anak kita
sekiranya aku telah tiada
bahawa hatiku ini
tidak pernah
kubelah dua.

(segenggam hati)”
Rahimidin Zahari, Kulukiskan Engkau Biru Dan Engkau Bertanya Kenapa Tidak Merah Jambu Seperti Warna Kesukaanku?

“Kakakmu ini tak ingin memberikanmu sepeda atau baju baru. Akan tetapi, ilmu. Agar kau bahagia selamanya. Bukan hari ini saja. Agar kau tidak hanya tertawa, tapi berdayaguna.”
Lenang Manggala, Founder Gerakan Menulis Buku Indonesia

Dian Nafi
“bagaimana kabar baik dan bahagia tadinya, bisa menjadi beban dan masalah yang justru membebani keluarga?”
Dian Nafi, Matahari Mata Hati

Kusumastuti
“Ia datang sebagai ulat yang nyaris tercekik dalam kepompongnya. Kini ia menjadi kupu-kupu. Dan keluarganya datang, untuk mengembalikan dia ke dalam kepompong.”
Kusumastuti, Among the Pink Poppies

Yoza Fitriadi
“Apapun keadaannya, aku bangga menjadi anak ayah”
Yoza Fitriadi, Menjemput Akhir

Kusumastuti
“Bukan ikatan darah yang dapat menjadikan sekelompok orang menjadi keluarga. Bukan di mana atau bangunan tertentu yang dapat disebut rumah. Tapi renjana yang ada ketika sekelompok orang bersama.”
Kusumastuti, Among the Pink Poppies

“Saat naik ke puncak gunung ada masanya kita turun, saat pergi ada masanya kita pulang, saat bertemu ada masanya kita berpisah. Pada akhirnya kita sadar bahwa semua ada masanya. Tapi saya harap tidak untuk pertemanan, tidak ada teman pada masanya, hanya teman untuk selamanya.”
Arief Subagja

Tere Liye
“Aku tahu kehidupan Bapak rumit. Ambisinya. Kisah cintanya. Dia bukan orang yang sempurna, hidupnya dipenuhi kekecewaan. Aku tahu, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga Mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamakku dibanding di matanya.
Tapi sekarang, aku tidak tahu lagi, berapa banyak air mata yang pernah disebabkan oleh Bapak dalam kehidupannya.”
Tere Liye, Pergi