Ilmu Quotes

Quotes tagged as "ilmu" (showing 1-30 of 66)
Emha Ainun Nadjib
“Apa gunanya ilmu kalau tidak memperluas jiwa seseorang sehingga ia berlaku seperti samudera yang menampung sampah-sampah. Apa gunanya kepandaian kalau tidak memperbesar kepribadian seseorang sehingga ia makin sanggup memahami orang lain?”
Emha Ainun Nadjib

Pramoedya Ananta Toer
“Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya. Kan begitu Tuan Jenderal?”
Pramoedya Ananta Toer, Jejak Langkah

Pramoedya Ananta Toer
“Jangan kau mudah terpesona oleh nama-nama. Kan kau sendiri pernah bercerita padaku: nenek moyang kita menggunakan nama yang hebat-hebat, dan dengannya ingin mengesani dunia dengan kehebatannya—kehebatan dalam kekosongan. Eropa tidak berhebat-hebat dengan nama, dia berhebat-hebat dengan ilmu pengetahuannya. Tapi si penipu tetap penipu, si pembohong tetap pembohong dengan ilmu dan pengetahuannya.”
Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

Syed Muhammad Naquib al-Attas
“Ibarat manusia tanpa keperibadian, universiti moden tidak mempunyai pusat yang sangat penting dan tetap, tidak ada prinsip-prinsip utama yang tetap, yang menjelaskan tujuan akhirnya. Ia tetap menganggap dirinya memikirkan hal-hal universal dan bahkan menyatakan memiliki fakulti dan jurusan sebagaimana layaknya tubuh suatu organ - tetapi ia tidak memiliki otak, jangan akal (intellect) dan jiwa, kecuali oleh dalam suatu fungsi pengurusan murni untuk pemeliharaan dan perkembangan jasmani. Perkembangannya tidak dibimbing oleh suatu prinsip yang akhir dan tujuan yang jelas, kecuali oleh prinsip nisbi yang mendorong mengejar ilmu tanpa henti dan tujuan yang jelas.”
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism

Syed Muhammad Naquib al-Attas
“Definisi epistemologis yang paling tepat untuk ilmu, dengan Allah Subhanallahu wa Ta'ala sebagai sumbernya, ialah tibanya (husul) makna (ma'na) sesuatu benda atau objek ilmu ke dalam jiwa. Dengan memandang jiwa sebagai penafsir maka ilmu adalah tibanya (wusul) diri (jiwa) kepada makna sesuatu hal atau suatu objek ilmu.”
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism
tags: ilmu

Wan Mohd Nor Wan Daud
“Ketiadaan budaya ilmu bersepadu dalam tamadun hari ini telah mengakibatkan peluasan bencana kehilangan adab. Kebiadaban ini telah melahirkan banyak kerosakan dalam pemikiran dan akhlak manusia serta alam tabii. Dalam pemikiran dan akhlak, kejahilan atau kebebalan dan kemalasan intelektual dikaitkan (sebagai alasan) dengan pengkhususan; kedayusan moral disebut sebagai toleransi dan kesederhanaan; pembaziran dimaknakan dengan rekreasi atau mempertahankan kedudukan; korupsi akhlak dan ekonomi atau kedua-duanya sekali dimaafkan sebagai lumrah kehidupan moden; dan penjahanaman alam sekitar disebut sebagai harga tabii kemajuan.”
Wan Mohd Nor Wan Daud, Budaya Ilmu: Satu Penjelasan

Adian Husaini
“Dengan segala kehebatannya dalam dunia keilmuan, tengoklah bagaimana sikap 'tahu diri' seorang al-Ghazali. Beliau tetap menempatkan dirinya di bawah mazhab Shafii dalam soal metodologi ushul fiqh. Beliau tidak merasa lebih hebat dari Shafii. Banyak ilmuan besar Islam tetap memelihara sikap adil dan beradab dalam mengkaji dan menyebarkan ilmu kepada masyarakat.”
Adian Husaini, Filsafat Ilmu: Perspektif Barat dan Islam

Adian Husaini
“Banyak orang tidak tahu bahwa seorang doktor dan profesor itu biasanya hanya menguasai satu bidang yang kecil sahaja. Mereka punya kekhususan. Ada profesor yang bidangnya sejarah tidak mengkaji syariah secara mendalam, tetapi sering bicara tentang syariah. Orang memanggilnya ulama, padahal ilmu agamanya belum mendalam. Makanya, di pesantren kita diajarkan adab, bukan hanya ilmu. Kita harus tahu diri, kalau tidak tahu harus mengatakan tidak tahu. Masalahnya, akan menjadi sangat rumit jika orang tidak tahu tetapi merasa tahu. Ini yang namanya orang yang tersesat.”
Adian Husaini, Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat

Syed Muhammad Naquib al-Attas
“Di sisi Islam maka ilmu, jikalau tidak bersabit dengan mengenal diri, mematuhi ajaran agama, menyempurnakan masharakat, membimbing negara, menyatakan hikmah, menegakkan keadilan, mengukuhkan akhlak dan budipekerti - hanyalah sia-sia belaka; di sisi Islam seseorang itu tiada dapat dikatakan berilmu, atau alim, jikalau tiada ia membayangkan dalam dirinya kesan ilmu itu pada seluruh segi kehidupannya sebagaimana dijelaskan di atas.”
Syed Muhammad Naquib al-Attas

Goenawan Mohamad
“Sebagian besar pengetahun kita agaknya memang tidak berdasar pada penalaran ataupun eksperimen, melainkan, pada otoritas. Dan ketika segala gelar disebut dan stempel keahlian diterakan, ilmupun tak lagi dilihat sebagai proses, melainkan sabda. Kekuasaannya semakin besar, maka semakin besar pula kemungkinannya untuk menggampangkan, memendekkan, menjustai. Kemudian lahirlah tahayul.”
Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2

Goenawan Mohamad
“Orang yang menjadikan kebenaran tergantung kepada salah seorang ahli ilmu saja, maka orang itu lebih dekat kepada pertentangan.”
Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2

Syamsuddin Arif
“Ada sebuah ungkapan bijak yang mengatakan bahwa manusia itu ada empat macam. Pertama, mereka yang tahu bahawa dirinya tahu. Yang ini patut dipercaya dan diikuti. seperti disinyalir dalam al-Qur’an: ula’ika l-ladziina hadallah, fa-bi-hudaahum iqtadih! (al-An’aam: 90). Kedua, mereka yang tidak tahu bahwa dirinya tahu. Yang seperti ini harus diingatkan dan disadarkan dulu sebelum diikuti. Ketiga, mereka yang tahu bahwa dirinya tidak tahu. Yang semacam ini perlu dibimbing dan ditunjukkan. Keempat, mereka yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Yang model begini tidak perlu dilayani, kerana cenderung ngeyel ‘merasa tahu tetapi tidak tahu merasa’. Kepada golongan ini kita disarankan cukup berkata: salaamun ‘alaykum la nabtahghi l-jaahiliin (al-Qashash: 55).”
Syamsuddin Arif, Orientalis & Diabolisme Pemikiran
tags: ilmu, tahu

Malik Ibn Anas
“Ilmu itu didatangi bukan mendatangi”
Malik Ibn Anas
tags: ilmu

Ishak Haji Muhammad
“Orang-orang di zaman akan datang akan gemar sekali bercakap-cakap pada perkara-perkara yang mereka tidak tahu, merendahkan mutu orang lain: menghina dan mencela dengan tidak usul periksa lebih dahulu dan dengan tidak bersebab apa-apa.”
Ishak Haji Muhammad, Anak Mat Lela Gila

“Demikian potret sosok-sosok yang berdedikasi dalam menyunting khazanah keilmuan. Ilmu adalah tujuan mereka; ikatan pikirannya; dan cinta adalah darahnya. Mereka laksana bangunan kokoh yang tersusun dari berbagai raga tapi jiwa merek satu.”
Yusri Abdul Ghani Abdullah, Historiografi Islam: Dari Klasik Hingga Modern

Syed Hussein Alatas
“Hal ini saya lakukan untuk menjelaskan bagaimana soal-soal kebudayaan dan peribadi Melayu telah dibahaskan dengan cara jauh daripada ilmiah. Mereka yang membahaskan soal peribadi Melayu bukan ahli dalam ilmu-ilmu yang bersangkutan dengnnya.

Walaupun setengah daripada mereka ini berkelulusan ijazah, ini belum bermakna mereka itu ahli dalam ilmu masing-masing. Ijazah itu menandakan tingkat pelajaran dalam sesuatu bidang, belum keahlian dalam sesuatu ilmu. Selain itu, dalil-dalil yang mereka gunakan untuk menentukan peribadi Melayu kebanyakannya lemah, penentuan masalah pun kurang teratur cara-caranya.”
Syed Hussein Alatas, Siapa Yang Salah: Sekitar Revolusi Mental dan Peribadi Melayu

Sutung Umar RS
“Aku mencari guru yang mursyid
tetapi yang kutemui ulama fasik.
Mereka mengajar tentang kebenaran
tetapi mereka melakukan hal yang sebaliknya.

(Mazmur V)”
Sutung Umar RS, Puisi: Nyanyian Mazmur

“Kakakmu ini tak ingin memberikanmu sepeda atau baju baru. Akan tetapi, ilmu. Agar kau bahagia selamanya. Bukan hari ini saja. Agar kau tidak hanya tertawa, tapi berdayaguna.”
Lenang Manggala, Founder Gerakan Menulis Buku Indonesia

T. Alias Taib
“bunga yang sekuntum
madu yang setetes
belalang yang lahir di situ
tak mengetahui rahsianya
kumbang yang berbatu-batu
datang menikmati

(rahsia)”
T. Alias Taib, Seberkas Kunci

“Sangat aneh jika umat Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak rajin membaca, padahal wahyu pertama yang diterima beliau adalah perintah: Iqra, "Bacalah!”
syaikh fuad shahih

“Gantungkan cita-citamu setinggi gunung, sedalam lautan, bahkan seluas belantara hutan. Karena selapar apapun kita nanti... ilmu tidak akan pernah mati.”
Andin

Dini Nuzulia Rahmah
“Menuntut ilmu bisa dimana saja, kapan saja. Tak terbatas tempat, tak terkekang usia.”
Dini Nuzulia Rahmah, Anak-Anak Kolong Langit

Abu Hamid al-Ghazali
“Bersungguhlah kamu dalam menuntut ilmu, jauhilah kemalasan dan kebosanan kerana jika demikian engkau akan berada dalam bahaya kesesatan.”
Abu Hamid al-Ghazali

“ILMU DITIMBA, ILMU DIAMAL, ILMU DISEBAR”
Muhd Fariz Ismail

Ahmad Fuadi
“Uthlubul ilma walau bisshin,” meaning, “Seek knowledge, even if it’s as far as China.” -17”
Ahmad Fuadi, Negeri 5 Menara

“Janganlah engkau senang bila sudah banyak mengetahui ilmu dunia, tapi belum banyak mengetahui ilmu akhirat. Dengan kata lain, bagaimana mungkin engkau merasa nyaman ketika tidak mengetahui aturan agama tentang tata cara ibadah, padahal engkau tidak merasa nyaman ketika engkau tidak mengetahui pandangan ilmu pengetahuan dalam masalah-masalah duniawi?”
syaikh fuad shahih

“Sumber yang paling utama sebagai rujukan kesusasteraan spiritual di seluruh dunia Islam itu dan yang paling penting ialah al-Qur'an sendiri, diikuti dengan hadis Rasulullah terutamanya hadis Qudsi dan hadis yang berkaitan dengan fahaman dan doktrin spiritual. Selepas itu fahaman-fahaman metafizikal dan juga kosmologikal, doktrin yang telah dirumus oleh ahli-ahli metafizik Islam dan doktrin para wali Sufi berasaskan sumber keagamaan dan fahaman tradisional yang tidak bercanggah dengan doktrin spiritual kaum Sufi.”
Baharudin Ahmad, Al-Qasidah Al-Maymunah

Sam Haidy
“Ciri orang pintar itu cuma satu: tidak memperdebatkan yang bukan ilmu.”
Sam Haidy

Abu Hamid al-Ghazali
“Ketahuilah olehmu bahawasanya apa jua cabang nasihat itu adalah berasal daripada sumber kenabian (maksudnya hadis Rasulullah saw). Oleh kerana itu, apabila telah sampai kepadamu suatu nasihat yang berpunca daripda sumber ini maka apa perlunya lagi engkau kepada nasihat saya. Dan apabila masih belum sampai kepadamu suatu nasihat daripada sumber ini maka sebenarnya ilmu apa yang telah engkau pelajari selama ini?”
Abu Hamid al-Ghazali, أيها الولد

“Alasan yang lebih mendasar yang melatarbelakangi al-Attas memilih istilah ta'dib adalah, adab berkaitan erat dengan ilmu, sebab ilmu tidak dapat diajarkan atau ditularkan kepada anak didik, kecuali jika orang tersebut memiliki adab yang tepat terhadap ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang. Kemudian, konsep pendidikan Islam yang hanya terbatas pada makna tarbiah dan taklimat itu telah dimasuki pandangan hidup barat yang berlandaskan nilai-nilai dualisme, sekularisme, humanisme, dan sofisme, sehingga nilai-nilai adab menjadi kabur dan semakin jauh dari nilai-nilai hikmah Ilahiah. Kekaburan makna adab tersebut mengakibatkan kezaliman, kebodohan, dan kegilaan. Kezaliman yang dimaksud di sini adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya, sementara kebodohan adalah melakukan cara yang salah untuk mencapai hasil tujuan tertentu, dan kegilaan adalah perjuangan yang berdasarkan tujuan dan maksud yang salah.”
Ahmad Alim

« previous 1 3