Kebenaran Quotes

Quotes tagged as "kebenaran" (showing 1-27 of 27)
Soe Hok Gie
“Ketika Hitler mulai membuas maka kelompok Inge School berkata tidak. Mereka (pemuda-pemuda Jerman ini) punya keberanian untuk berkata "tidak". Mereka, walaupun masih muda, telah berani menentang pemimpin-pemimpin gang-gang bajingan, rezim Nazi yang semua identik. Bahwa mereka mati, bagiku bukan soal. Mereka telah memenuhi panggilan seorang pemikir. Tidak ada indahnya (dalam arti romantik) penghukuman mereka, tetapi apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran.”
Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran

Goenawan Mohamad
“Seorang novelis sebaiknya menciptakan “sebuah wilayah di mana tak seorang pun memiliki kebenaran...tapi di mana setiap orang punya hak untuk dimengerti”
Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 3

Mochtar Lubis
“Banyak orang yang takut hidup menghadapi kebenaran, dan hanya sedikit orang yang merasa tak dapat hidup tanpa kebenaran dalam hidupnya.”
Mochtar Lubis, Harimau! Harimau!

Seno Gumira Ajidarma
“...kuketahui bahwa pemandangan yang tertatap oleh mata bisa sangat mengecoh pemikiran dalam kepala: bahwa kita merasa menatap sesuatu yang benar, padahal kebenaran itu terbatasi sudut pandang dan kemampuan mata kita sendiri.”
Seno Gumira Ajidarma, Nagabumi I: Jurus Tanpa Bentuk

Goenawan Mohamad
“Orang yang menjadikan kebenaran tergantung kepada salah seorang ahli ilmu saja, maka orang itu lebih dekat kepada pertentangan.”
Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2

Goenawan Mohamad
“Yang penting adalah percakapan dengan kebebasan. Juga kemerdekaan untuk mencari sendiri apa yang benar dan yang adil - dengan sikap ingin tahu, ragu, juga gigih.”
Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 7

Goenawan Mohamad
“Yang logis belum tentu yang benar. Untuk memahami ini cukup baca Agatha Christie.”
Goenawan Mohamad, Pagi dan Hal-Hal yang Dipungut Kembali

S.M. Zakir
“manusia yang sering memiliki pertanyaan-pertanyaan
tidak mungkin memiliki sebuah jawapan yang tepat
melainkan keraguan yang tercipta daripada akal

(Perjalanan 22)”
S.M. Zakir, Perjalanan Sang Zaman

“Cinta itu hebat, bahkan lebih hebat dari dunia perkawinan itu. Doa adalah bagian penuturan cinta pada sebuah cita-cita yang belum kita capai. Dia bukan urusan Tuhan, melainkan urusan manusia. Dan Tuhan ada pada seberapa besar rasa cinta kita akan kebenaran itu. Nah, berdoalah dengan cinta, tapi jangan berdoa untuk cinta... Cinta itu dalam dirinya mengandung sebagian kecil rasionalitas, tapi penuh dengan benih rasa yang tidak perlu dihitung secara matematik mengapa dia ada.”
Munir, Keberanian Bernama Munir

“Jika ada seribu orang yang membela kebenaran, aku berada diantaranya. Jika ada seratus orang yang membela kebenaran, aku berada diantaranya. Jika ada sepuluh orang pembela kebenaran, aku tetap ada di barisan itu. Dan jika hanya ada satu orang yang tetap membela kebenaran, maka akulah orangnya.” - Umar bin khattab ra”
futuh

Khalif Muammar
“Bukanlah suatu kesalahan apabila seseorang itu mengatakan kepada orang lain bahawa ia berada di jalan yang salah, jika keadaan memerlukannya untuk berterus terang, meskipun hal ini perlu dielakkan jika keadaan tidak menuntutnya berbuat demikian. Malahan adalah sesuatu yang tidak jujur untuk mengatakan kepada orang lain bahawa ia berada di jalan yang benar hanya untuk mengambil hatinya, esdang ia meyakini sebaliknya. Kerana dengan demikian ia telah menzalimi dirinya dan diri orang lain tersebut.”
Khalif Muammar, Islam dan Pluralisme Agama: Memperkukuh Tawhid di Zaman Kekeliruan

Khalif Muammar
“Pada prinsipnya kita bersetuju bahawa pandangan manusia, dan oleh kerananya ilmu-ilmu yang dibangunkan olehnya, dalam bidang apapun tidak boleh dikultuskan dan dianggap absolut. Hanya ilmu Tuhan yang mutlak (absolute). Menyedari keterbatasan ilmu manusia ini maka kita harus bersifat terbuka dalam menerima kepelbagaian pandangan, dan pada tahap ini kita bersetuju dengan idea pluralisme. Namun apabila kita berbicara mengenai konteks yang lebih besar iaitu tentang kebenaran dan realiti, dan bukan sebatas kebenaran dan realiti yang ditayangkan oleh akal fikiran manusia semata, tetapi suatu yang ditayangkan oleh pandangan alam Islam maka kita harus berhati-hari kerana ia melibatkan bukan hanya ilmu manusia tetapi juga ilmu Tuhan yang telah disampaikan kepada manusia melalui para nabi dan rasulNya. Oleh kerana itu dalam konteks Islam tiada pluralisme agama kerana di sini kita berbicara tentang wahyu dan makna-makna yang dibangun oleh al-Qur’an itu sendiri, dan bukan semata-mata hasil budaya dan produk sejarah manusia.”
Khalif Muammar, Islam dan Pluralisme Agama: Memperkukuh Tawhid di Zaman Kekeliruan

“Ketika orang tertidur kau terbangun, itulah susahnya. Ketika orang merampas kau membagi, itulah peliknya. Ketika orang menikmati kau menciptakan, itulah rumitnya. Ketika orang mengadu kau bertanggungjawab, itulah repotnya. Oleh karena itu, tidak banyak orang bersamamu di sini, mendirikan imperium kebenaran.” - Ustadz Rahmat Abdullah”
futuh

“Akal itu neutral sifatnya; manusia yang menggunakan akal dengan dasar kebenaran memperoleh faedah yang besar sementara manusia yang menggunakan akal dengan tidak memahami kebenaran semakin jauh daripada keadaan fitrahnya.”
Awang Sariyan, Catatan Ringkas Sejarah Kebudayaan Melayu

Lenang Manggala
“Kebenaran mungkin memang bisa disembunyi-belok-salahkan. Tapi kebenaran, selamanya tak kan pernah bisa dikalahkan.”
Lenang Manggala, Negara 100 Kata

Wan Mohd Nor Wan Daud
“Sufastaiyyah membunuh hujah sendiri
Bila menolak mutlak ilmu milik insani
Merosak akal, aqidah, agama, sekalian hikmat anugerah Ilahi
Bila mereka berteriak-gila: "ilmu manusia semuanya nisbi"
"Hanya Allah yang mutlaq dan Ilmu-Nya yang kekal abadi."
Sungguh bebal sufastaiyyah ini: ilmu yaqini nur minal-Lahi
Walaupun bertempat diakal insani, sumbernya tetap di Alam Suci.”
Wan Mohd Nor Wan Daud, Mutiara Taman Adabi : Sebuah Puisi Mengenai Agama, Filsafat dan Masyarakat

“Selalu kelilingi diri Anda dengan teman-teman yang memiliki banyak cahaya di dalamnya. Dengan begitu, Anda akan selalu memiliki lilin di sekitar Anda saat hari gelap.”
Suzy Kassem, Rise Up and Salute the Sun: The Writings of Suzy Kassem

Toba Beta
“Ada keganjilan dalam kebenaran yang tak pahit.”
Toba Beta, Master of Stupidity

S.M. Zakir
“mimpi yang datang dari revolusi
untuk membunuh para raja dan bangsawan
dan mendirikan sebuah kerajaan rakyat
tidak pernah mempunyai kata-kata
yang mampu melahirkan sebuah puisi
tetapi cuma keinginan dan hasrat untuk berkata-kata
dengan laungan yang menggegarkan bumi
tetapi setelah menang mereka dengan segera
kembali menggantikan raja-raja dan para bangsawan
melakukan penindasan dan perhambaan yang sama
terhadap semua rakyat yang terpukau oleh sihir

(Perjalanan 10)”
S.M. Zakir, Perjalanan Sang Zaman

“Orang yang tidak sibuk dengan hal-hal besar, akan selalu sibuk dengan hal-hal kecil. Diantaranya adalah sibuk mencari kesenangan ketimbang sibuk mencari kebenaran.”
Evan Setiawan Parusa

S.M. Zakir
“lalu dia melaungkan kebenaran, kebebasan, dan kemurnian
untuk masyarakatnya, manusia dan dunia
sedang si Rousseau ini tidak pernah mengenal
tentang kebenaran dan kemurnian dalam dirinya sendiri

(Perjalanan 5)”
S.M. Zakir, Perjalanan Sang Zaman

“Jangan membenarkan hal yang biasa, tapi biasakan melakukan hal yang benar.”
Lugas Anegah

Goenawan Mohamad
“Kini ada sebuah bahaya, siapa yang menguasai TV bisa mengemas fitnah hingga diterima sebagai kebenaran.”
Goenawan Mohamad, Percikan: Kumpulan Twitter @gm_gm Goenawan Mohamad

Dian Nafi
“Pada akhirnya kita akan menemukan jalan, bahwa nafsu bukan segala2nya, dan kebenaran adl hal yg selalu diharapkan (Bejana15 hari-Aida-OMR)”
Dian Nafi, Once More Ramadhan

George R.R. Martin
“[...] orang-orang sering mengklaim lapar akan kebenaran tapi jarang yang menyukai rasanya ketika disajikan”
George R.R. Martin, A Clash of Kings

Wan Mohd Nor Wan Daud
“Ilmu di peringkat maknawi dan yaqini
Kawanku, bukan lagi nisbi ciptaan basyari
Anugerah Rabbul Jalil, harus disyukuri, dinikmati
Dan amalkan sepenuh hati, disebarkan ke seluruh negeri.”
Wan Mohd Nor Wan Daud, Mutiara Taman Adabi : Sebuah Puisi Mengenai Agama, Filsafat dan Masyarakat

S.M. Zakir
“kota-kota dan mukim diisi oleh kegilaan para manusia
yang mencintai akal fikiran seperti emas paling berharga
menjunjung dan menjulang hak kebebasan individu tanpa batas
dan mencipta nabi-nabi baru dari dongeng-dongeng kota
yang membawa sihir pencerahan palsu dari helang masalalu

(Perjalanan 3)”
S.M. Zakir, Perjalanan Sang Zaman