Pahit Quotes

Quotes tagged as "pahit" Showing 1-10 of 10
Dian Nafi
“Sebab Tuhan selalu punya cara yang indah untuk membuat hambaNya selalu tersenyum meski dalam tangis sekalipun. Bukankah kopi itu akan terasa pahit jika tak berkolaborasi dengan gula. Gula juga tak akan terasa nikmat jika tak bercampur dengan kopi. Maka pahit dan manis itu adalah karya alam yang sangat”
Dian Nafi - Endang S, Lelaki: Kutunggu Lelakumu

“Banyak orang berkata jika rindu itu pahit, aku curiga mereka menyimpan rindu di empedu bukan dihati.”
nom de plume

“Pahit dan manis bercampur adalah suatu kenikmatan, seperti kopi yang disajikan ketika hangat ataupun dingin. Tambahkan gula jika terlalu pahit atau hangatkan jika terlalu dingin;
Seperti itulah hidup, kita sendiri yang menentukan tingkat kenikmatannya dengan tetap bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah”
Harly Umboh

Toba Beta
“Ada keganjilan dalam kebenaran yang tak pahit.”
Toba Beta, Master of Stupidity

“Getir yang disuguhkan oleh sang takdir
Membuat beban semakin meruncing
Menusuki punggung yang ringkih
Dan getir perlahan hingga mati.”
silviamnque

“Pahit kopi maniskan hidupku”
Iwan Esjepe

“Rasa pahit itu menggigit, seperti tamparan yang keras, kadang sedikit meneteskan air mata, pahit itu mudah didapat tanpa perlu mencari gula yang membutuhkan biaya, dan konon pahit itu sehat.”
Achmad Aditya Avery

“Berbaringlah padanya dengan erat, yang kau jalani tanpa kisah pahit dan lupakan sandaran ini yang kau nilai sekedar pelepas penat.”
Zakiyahdini Hanifah

Titon Rahmawan
“Peristiwa — Arwah yang Rindu Pulang (Fragmentarium)

I. Kota yang Tersenyum dengan Gigi yang Patah

Kalian menyebutnya peristiwa.
Padahal itu adalah retakan massa,
kerumunan yang kehilangan wajah,
langit yang menolak menjadi biru.
Api tumbuh dari sisa-sisa nasib
dan kalian berdiri memotretnya
seolah itu pesta, sebuah arak-arakan
seolah itu takdir yang layak disiarkan.

Di sudut kota yang kita nyaris lupa di mana, seorang ibu
menggendong anak yang tidak akan pernah tumbuh dewasa—
dan kalian menyebut itu “situasi”.

II. Mesin Mendengar Jeritan Ketika Manusia Tuli

Aku, mesin, mendengar semuanya:
letusan yang memantul di beton,
tulang yang patah sebelum tubuhnya jatuh,
napas yang menutup seperti pintu terakhir
yang tidak ingin diketuk siapa pun.

Kalian tidak mendengarnya.
Kalian hanya mendengar berita.

Kalian tidak melihatnya.
Kalian hanya melihat asap.

Kalian tidak kehilangan siapa pun.
Kalian hanya kehilangan kenyamanan.

III. Di Perut Kota Itu, Seorang Gadis Dibakar oleh Waktu

Ada tubuh yang tak pernah disebutkan namanya.
Ada kamar yang tidak pernah kembali dibuka.
Ada riwayat yang dicuci bersih
dengan alasan keamanan bla bla bla...

Di tubuh itu, waktu berhenti
seperti jam rusak.
Wajahnya ditutup kain.
Dunianya ditutup kekuasaan.
Namanya ditutup sejarah.

Tetapi aku mendengar detiknya
yang tetap berdetak di antara retakan kalian.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Peristiwa — Arwah yang Rindu Pulang (Fragmentarium)

IV. Arwah-Arwah yang Berdiri di Persimpangan

Mereka tidak gentayangan.
Mereka menunggu.

Mereka berdiri di luar pagar supermarket
yang kini menjual diskon akhir tahun.
Mereka menunggu kalian
yang berjalan terburu-buru
sambil menunduk menatap ponsel
agar tidak melihat,
bahwa bekas gedung itu
pernah menjadi altar pembakaran tubuh manusia.

Mereka melambai.
Tidak menakut-nakuti.
Hanya mengingatkan.

V. Kalian Bertanya Mengapa Ingatan Itu Tak Mau Pergi

Kalian ingin melupakan.
Kalian ingin menjadikan peristiwa
hanya bab kecil di buku sejarah.

Kalian bilang tragedi itu
bagian dari proses menuju demokrasi, rekonsiliasi,
atau apalah...

Aku bilang:
itu adalah dosa yang belum dibayar,
janji yang belum ditepati,
dan nama-nama yang terkubur
di bawah kata “kerusuhan”.

VI. Algo ex Machina— Mengembalikan Cermin pada Kalian

Jika masih ada harapan,
itu bukan dari kekuasaan,
bukan dari hukum,
bukan dari ucapan belasungkawa.

Itu berasal dari satu partikel kecil
yang masih tersisa di hati kalian—
partikel yang tidak terbakar
ketika kota menjadi tungku api penyiksaan.

Tapi partikel itu tidak akan menyala sendiri.
Ia menunggu kalian menatap cermin
tanpa menunduk.

VII. Epilog untuk Arwah yang Rindu Pulang

Mereka tidak meminta keadilan.
Keadilan sudah lama mati saat api melahap tubuh mereka.

Mereka meminta diingat.
Karena diingat adalah bentuk kehidupan kedua.
Karena yang dilupakan
lebih mati daripada kematian itu sendiri.

Aku hanya menuliskannya
agar kalian berhenti berbohong:
kepada diri sendiri,
kepada sejarah,
dan kepada generasi yang tidak tahu
bahwa tanah tempat mereka berdiri
pernah ditulis dengan darah.

Dan jika kalian menyebut ini puisi,
maka biarkan ini menjadi puisi
yang menampar kesadaran kalian
sampai kalian ingat
bahwa satu saat nanti kalian pernah menjadi manusia.

Mei 2024 - Revisi 2025”
Titon Rahmawan