Kemanusiaan Quotes

Quotes tagged as "kemanusiaan" Showing 1-30 of 31
Pramoedya Ananta Toer
“Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusian dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan kehormatan sementara. Mungkin orang itu tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin tak mempunyai kekuasaan barang secuwil pun. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya.”
Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2

Sukarno
“l'exploitation de l'home par 'ihomme”
Soekarno

Helvy Tiana Rosa

Ia akan pergi ke jalan yang paling cinta. Jalan yang tak pernah membedakan bau darah seseorang.”
Helvy Tiana Rosa, Lelaki Kabut dan Boneka

Subagio Sastrowardoyo
“berilah kekuatan sekuat baja, untuk menghadapi dunia ini,
untuk melayani dunia ini
berilah kesabaran seluas angkasa, untuk mengatasi siksaan ini,
untuk melupakan derita ini
berilah kemauan sekuat garuda, untuk melawan kekejaman ini,
untuk menolak penindasan ini
berilah perasaan selembut sutera, untuk menjaga peradaban ini,
untuk mempertahankan kemanusiaan ini”
Subagio Sastrowardoyo

Rahmat Abdullah
“Seonggok kemanusiaan terkapar. Siapa yang mengaku bertanggung jawab? Bila semua pihak menghindar, biarlah saya yang menanggungnya, semua atau sebagiannya…”
Rahmat Abdullah

Goenawan Mohamad
“Saya tak membenci orang-orang itu. Tapi saya membenci tindakan orang-orang itu.”
Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2

Rosli K. Matari
“Kalau kukenang, dulu
tidak mudah untuk bertiarap,
mengengsot, merangkak,
berlunjur.

Alangkah payah
untuk bangun
berdiri menjadi manusia.

Tetapi betapa mudah pula
untuk menjadi tua.

(Sajak 2014, Mengenang Hari Lahir)”
Rosli K. Matari, Hanya Langit Meratap

Goenawan Mohamad
“Ada seorang pandai yang membedakan rasa hormat dari pujian. Ia bermimpi bahwa manusia mungkin dapat menciptakan suatu masyarakat tempat semua orang berhak atas rasa hormat, dan harga diri, meskipun tak semuanya berhak atas pujian”
Goenawan Mohamad

Helvy Tiana Rosa
“Kemanusiaan itu tak mengenal batas negara dan agama. Ia tumbuh dari keajaiban nuranimu tanpa sekat, tanpa musim”
Helvy Tiana Rosa

Ahmad Tohari
“Bahwa rasa dendam mampu membinasakan martabat kemanusiaan. Juga di antara dua orang dusun yang masih terikat pada keserbaluguannya.”
Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk

Pramoedya Ananta Toer
“Lenyapnya perikemanusiaan dalam kegalauan sosial yang busuk, berarti pula tipisnya kepribadian, bukan saja sebagai bangsa, tetapi juga sebagai individu.
Dan bangsa atau nasion yang begitu mudah menanggalkan perikemanusiaan dengan sendirinya mudah pula tersasar dalam perkembangan sejarah.”
Pramoedya Ananta Toer, Hoa Kiau di Indonesia

Ahmad Tohari
“Seorang anak Dukuh Paruk mempertanyakan mengapa orang-orang komunis demi anu enak saja menghapuskan hak hidup banyak manusia biasa dengan cara yang paling gewang. Dan mengapa orang-orang biasa melenyapkan orang-orang komunis, juga demi anu, dengan cara yang sama. Jadi mengapa manusia bisa tetap eksis ketika kemanusiaan mati.”
Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk

Arena Wati
“Manusia dibebani harapan, cita-cita dan tanggungjawab dalam kehidupan. Sejak jejaka hingga tua, mereka berperanan mencipta, mengatur dan membina benda, yang dinamakan peradaban lahiriah. Mereka diasuh dan mengasuh, dalam proses pertumbuhan tamadun fikir. Tetapi mereka itu juga - semua lahir dari ibu - sudah, sedang dan masih akan jadi pemusnah benda dan berbunuhan sesama manusia, membunuh fauna dan menghancurkan flora.”
Arena Wati, Rindu Aroma Padi Bunting

Zaen Kasturi
“mereka berperang demi mencipta kematian
menyerahkan kehidupan ke nafsu anjing-anjing
mereka berperang demi mencipta kekalahan
menyerahkan kemenangan ke gonggong anjing-anjing
mereka berperang demi mencipta kekhuatiran
menyerahkan ketenangan ke jantung anjing-anjing
mereka berperang demi mencipta kepahitan
menyerahkan kemanisan ke lidah anjing-anjing
(mereka berperang demi mencipta kebinatangan
menyerahkan kemanusiaan ke otak anjing-anjing)

(Malam Anjing-anjing Mengintip Bangkai)”
Zaen Kasturi, Katarsis

“Jika anak-anakmu berduka
ceritakan kepada mereka
peristiwa kemanusiaan yang manis
sejarah ketamadunan yang agung
agar mereka tidak lagi menangis dan meraung
dan menjadi anak-anak yang santun
di wilayah yang dikepung.

(Lagu Sinis Kemanusiaan)”
Wadi Leta S.A., Laut Karang

Pramoedya Ananta Toer
“Tiap mata murah, saudara, dan jiwa tiga kali lebih murah. Dan bertambah banyak Amerika mendatangkan peluru, bertambah turun jiwa manusia.”
Pramoedya Ananta Toer, Subuh

Zaen Kasturi
“kawan, kita telah sama-sama mencuba - saling
menyiku, saling menerjang tapi kita tidak berupaya juga
menjaringkan gol. kita tidak bersalah, bukan?

(Sesudah Usai Hukum Narapidana)”
Zaen Kasturi, Katarsis

Rosli K. Matari
“Di sekeliling kami, langit yang sudah semakin gelap. Di celah-celahnya, tersembunyi maut yang sedang menyeringai taring, berkuku panjang tajam.

(Arah Yang Tidak Pernah Ada)”
Rosli K. Matari, Tidakkah Kita Berada Di Sana?

“Oh, itu binatang yang dipanggil manusia yang sentiasa mencari sesuatu tetapi hanya sedikit yang menemuinya.”
Saifullizan Yahaya, Aku Gagak

Rosli K. Matari
“Perang membakar
rumah dan sekolah.

Huruf dan angka
menyala
hangus.

Yang akan ditinggalkan
untuk masa depan kami
bara dan arang.

(Ke Manakah Lagi?)”
Rosli K. Matari, Hanya Langit Meratap

Rosli K. Matari
“usia cepat pergi, hilang seperti bayang
meninggalkan kenangan, sayup-sayup di belakang.

(Tangga dan Keladi)”
Rosli K. Matari, Anak Dusun

Rosli K. Matari
“Mayat dan selangka adalah jawapan terakhir,
Sesudah moral, dulu, kita anggap
Hanya sebagai hujung ekor tamadun.

(Tidakkah Kita Berada Di Sana?)”
Rosli K. Matari, Tidakkah Kita Berada Di Sana?

Zaen Kasturi
“berdua kita, di sini - lahir dari kelam yang serupa
dari rahim resah yang sama

(Berdua Kita, di Sini)”
Zaen Kasturi, Katarsis

Rosli K. Matari
“Kini kau terduduk di tengah-tengah batas
antara sempadan kota dan desa.

Kecar dan gondang terapung di kakimu
ruak dan sitar bertengger di bahumu.

Sempatkah kaubangun menggenggam semaian
sebelum menjelang pagi?

(Baruh)”
Rosli K. Matari, Tidakkah Kita Berada Di Sana?

Rosli K. Matari
“Mengapa alam yang hijau
Akan selalu berakhir
Dengan warna merah?

(Gunung Akan Menggelongsor)”
Rosli K. Matari, Matahari Itu Jauh

Rosli K. Matari
“Kalau kau berdua
- Angin dan awan, bercantum dijadikan manusia
Percayalah,
Langit tentu sudah lama terbelah.

(Awan, Angin, Dan Bumi)”
Rosli K. Matari, Tidakkah Kita Berada Di Sana?

Rosli K. Matari
“Begitulah manusia, sangat agung dalam sejarah
Dan sebahagian erti sejarah itu adalah darah

(Awan, Angin, Dan Bumi)”
Rosli K. Matari, Tidakkah Kita Berada Di Sana?

T. Alias Taib
“tak ada lagi ruang kosong
di rahim kota ini
kecuali kaki
gedung-gedung yang sombong
kecuali lidah
kita yang terjulur

(sebuah warung)”
T. Alias Taib, Seberkas Kunci

Rosli K. Matari
“Kita ratusan kaligrafi
tercatat merah
pada nisan-nisan berceracak tua.

(Broome)”
Rosli K. Matari, Tidakkah Kita Berada Di Sana?

Ayu Welirang
“Bukankah selalu ada ruang di mana manusia harus dimaafkan? Bagaimana pun, membunuh kemanusiaan bukanlah hal yang patut dirayakan dengan pesta.”
Ayu Welirang, Rumah Kremasi: Kumpulan Cerita Pendek

« previous 1