Puisi Quotes

Quotes tagged as "puisi" Showing 1-30 of 444
Chairil Anwar
“Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar”
Chairil Anwar

Sapardi Djoko Damono
“Waktu berjalan ke Barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang.
Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan.
Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang,
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan.”
Sapardi Djoko Damono

Sapardi Djoko Damono
“JARAK

dan Adam turun di hutan-hutan
mengabur dalam dongengan
dan kita tiba-tiba di sini
tengadah ke langit; kosong sepi”
Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni

Chairil Anwar
“sekali berarti sesudah itu mati”
Chairil Anwar

Goenawan Mohamad
“Kenapa selama ini orang praktis terlupa akan burung gereja, daun asam, harum tanah: benda-benda nyata yang, meskipun sepele, memberi getar pada hidup dengan tanpa cincong? Tidakkah itu juga sederet rahmat, sebuah bahan yang sah untuk percakapan, untuk pemikiran, untuk puisi—seperti kenyataan tentang cinta dan mati?”
Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2

“ke Lethe, murung penuh hantu memandang
bintang dan neraka
menjemur mereka dan aku.”
Bagus Dwi Hananto, Dinosaurus Malam Hari
tags: puisi

Joko Pinurbo
“Cinta seperti penyair berdarah dingin
Yang pandai menorehkan luka.
Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya.”
Joko Pinurbo, Kekasihku

Usman Awang
“Tajam keris raja, tajam lagi pena pujangga.”
Usman Awang

Helvy Tiana Rosa
“Kita perlu jatuh cinta atau patah hati untuk dapat membuat puisi yang bagus.”
Helvy Tiana Rosa

Leila S. Chudori
“Dan bibirnya adalah sepotong puisi yang belum selesai. Aku yakin, hanya bibirku yang bisa menyelesaikannya menjadi sebuah puisi yang lengkap.”
Leila S. Chudori, Pulang

Goenawan Mohamad
“Kesusastraan adalah hasil proses yang berjerih payah, dan tiap orang yang pernah menulis karya sastra tahu: ini bukan sekadar soal keterampilan teknik. Menulis menghasilkan sebuah prosa atau puisi yang terbaik dari diri kita adalah proses yang minta pengerahan batin.”
Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 3

Helvy Tiana Rosa

Puisi bisa menjadi semacam magnet yang melekatkan kita pada seseorang, bahkan bila kita membencinya. Puisi yang kita tak tulis tak akan perah mati, bahkan bila kita mati.”
Helvy Tiana Rosa, Risalah Cinta

Kassim Ahmad
“Kian lama kita mati dalam setia
Kali ini kita hidup dalam durhaka!”
Kassim Ahmad
tags: puisi

Sam Haidy
“Malam adalah ladang pembantaian abadi
Jiwa-jiwa tandus yang digerus sepi
Yang tak menyisakan apa-apa selain puisi”
Sam Haidy, Malaikat Cacat

Goenawan Mohamad
“Mereka yang terbiasa dengan kekuasaan dan aturan memang umumnya sulit memahami puisi.”
Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 3

Sam Haidy
“Senja melarutkanku di batas waktu
Ketika ada dan tiada sejenak menyatu
Ada yang beringsut menjauh
Ada yang perlahan merengkuh

Bayanganku mengais sisa terang
Sebelum terkubur malam panjang”
Sam Haidy, Nocturnal Journal

Titon Rahmawan
“Hidup terentang antara lahir dan mati. Jarak, hanya sebatas sehembus nafas.”
Titon Rahmawan

Avianti Armand
“Di baris ke tujuh sebelah kiri, empat kursi dari
ujung, Tuhan duduk dan menangis. Di
tangannya tergenggam sebuah dadu. Pada
semua sisinya tertulis: dosa.”
Avianti Armand, Perempuan Yang Dihapus Namanya
tags: puisi

“Delusi leluasa beranjak dari linimasa, menerka jarak dari lesatnya sang warsa.

Kau tau kenapa kata ingin itu ada?
Itu karena kata butuh masih terasa begitu asing di kepala.”
Robi Aulia Abdi

Goenawan Mohamad
“Seseorang pernah mengatakan, guna puisi adalah dengan hadir tanpa guna. Ia tak bisa dijual. Ia menegaskan tak semua bisa dijual.”
Goenawan Mohamad, Pagi dan Hal-Hal yang Dipungut Kembali
tags: puisi

Sam Haidy
“Manakala hidup terasa menjepit
Tengadahlah ke langit
Di sana kau akan melihat
Bebanmu menyusut berjuta kali lipat”
Sam Haidy

“Dulu kita pernah tertawa,
bahkan berbagi senja sepiring berdua.

Dulu kita pernah merdu di telinga,
namun kini ia hanya sebatas kata.”
Robi Aulia Abdi

“Rindu adalah rezim yang tak pernah bisa dikudeta.”
Ilham Gunawan

Sam Haidy
“Ada yang perlahan binasa setiap kali puisi tercipta.
Ia selalu meminta nyawa dari kenangan atau impianmu.
Ia tak segan merampas tidurmu dan meretas bangunmu.
Kelak, ia akan terus bersuara dari dalam kuburmu....”
Sam Haidy, Malaikat Cacat

“Rindu adalah perkara ruh, bukan perkara jasad. Merindukanmu barangkali omong kosong yang masuk akal. Sedangkan, perpisahan hanyalah perkara mata dan ingatan, sama sekali tak berlaku pada hati dan jiwa.”
Ilham Gunawan

“Bahasa terpisah daripada tulisan jati diri, membawa tajam tapi tak menikam.”
Shapiai Mohd. Ramly

“Sebuah puisi adalah suatu pengalaman kehidupan yang terungkap - betapapun sukar dalam kesakitan; dan dalam kesempatan.”
Leo AWS, Gelombang Cengkerama dan Tsunami
tags: puisi

“Pelukmu bagiku adalah teduh, tempat berlabuh segala asa yang tiba untuk berkeluh.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

Titon Rahmawan
“Perasaan-Perasaan yang Tak Kau Sadari

Sudah lama engkau bersembunyi dari rasa sakitmu sendiri. Bentang langit luas yang susah-payah kau simpan ke dalam gelas.

Engkau tidak sedang menyusun riwayat dari perasaan-perasaan yang tak engkau sadari. Sebuah manifestasi; perwujudan kebencian kepada matahari dan ketidakpedulian kepada dunia. Bagaimana sikap diammu bisa menjawab semua pertanyaan itu?

Coba katakan padaku, berapa lama sudah engkau menutup diri dari sekelilingmu? Dari orang-orang yang selama ini peduli dan mengindahkan dirimu. Sebaliknya, engkau melihat mereka hanya melulu lewat tajam pisau curiga yang bisa sewaktu-waktu menikam punggungmu.

Seperti paku yang tak menghiraukan palu yang mengetuknya ke dinding. Mereka yang datang hendak mengobati rasa sakitmu, menghalau gundahmu, atau sekadar untuk menanyakan kabar.

Bukankah burung gereja itu sengaja mengetuk jendela dengan paruhnya hanya untuk mengucap salam? Dan kucing-kucing liar itu menyentuh kakimu dengan bulunya sebagai pernyataan kasih sayang. Mereka tak datang untuk mempertanyakan amarah dan rasa kecewa yang terlanjur engkau sembunyikan.

Tak pernah ada halangan buat semesta untuk menerima hadirmu kembali. Semudah mereka memberikan perhatian dan menyatakan rasa cintanya kepadamu lewat hal-hal yang bersahaja; desau angin, gemercik air, hangat mentari, gersik pasir atau guyuran hujan yang kepagian.

Akan tetapi, jawaban apa yang engkau beri? Apakah engkau selalu menyambut pagi dengan sepenuh hati? Dan menerima uluran tangan rembulan dengan sebuah senyuman?

Mungkin saja, bagimu hidup memang tak sesederhana itu. Kau tak menganggap hari-hari yang kau jalani sebagai rangkaian pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Hidup tak menghadirkan sesuatu yang wajib kau pahami. Sudah terlalu lama engkau berhenti untuk merasa peduli. Sudah lama engkau bahkan tak memikirkan hal lain selain dirimu sendiri.

Seperti dendam yang terlanjur membutakan matamu. Aku tak tahu lagi, bagaimana mesti menerangi kegelapan yang mengungkung jiwamu? Membiarkan dirimu dirundung perasaan yang tak kunjung bisa aku mengerti. Menyia-nyiakan waktu dan semua perhatian yang membuat duniamu mengabur dalam khayalan. Dunia yang tercipta dari ilusi rasa takutmu sendiri.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Perasaan-Perasaan yang Telah Menyusun Dirinya Sendiri

Ketika ia dan aku telah menjadi kita:

"Aku akan melakukan apa saja untuk membuat kita bahagia," begitu katanya kepadaku, seperti ia berkata kepada dirinya sendiri.

Aku tersenyum bahagia mendengar pernyataannya:

"Aku pun demikian. Aku akan melakukan apa saja untuk membuat kita bahagia," jawabku kemudian sambil menggenggam tangannya, sebagaimana aku menggenggam tanganku sendiri.

Lalu, ia dan aku saling berpelukan sebagai kami. Begitulah awal mula kisah bagaimana kami menikah. Setelah itu tak ada lagi ia atau aku, seterusnya hanya ada kami atau kita. Beranak pinak dan berbagi cinta dalam segala hal.

Semua perasaan telah menyatu, menyusun dirinya sendiri sebagai sebuah kebersamaan yang tak lagi terpisahkan satu dengan yang lain. Begitulah akhir kisah bagaimana kami tetap hidup berbahagia sampai hari ini.”
Titon Rahmawan

« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 14 15