Dinosaurus Malam Hari Quotes

Rate this book
Clear rating
Dinosaurus Malam Hari Dinosaurus Malam Hari by Bagus Dwi Hananto
224 ratings, 3.35 average rating, 56 reviews
Dinosaurus Malam Hari Quotes Showing 1-11 of 11
“ke Lethe, murung penuh hantu memandang
bintang dan neraka
menjemur mereka dan aku.”
Bagus Dwi Hananto, Dinosaurus Malam Hari
tags: puisi
“mistikus pernah berkata begini pada seluruh
patung yang tak bisa diraba:
‘di kehidupan sebenarnya, sesuatu yang kau
torehkan ini hanyalah fana!’
tapi makhluk imajiner apa yang merangkak
dan memiliki tempat-tempat luas seakan
sabana Afrika telah muntah garingnya demi
menangkup ia yang tak berjenis apa-apa.
ia yang dinomori sebagai sang satu. yang
penuh totem warna-warni di sekujur
dagingnya. menebarkan piuh dingin yang amis
dan luka terjerat kekosongan tanda sebelum
bukit pasir menghisap tubuhnya atau warna
pasir yang menggerus tubuhnya?”
Bagus Dwi Hananto, Dinosaurus Malam Hari
“cintaku, ke mana lagi pencarian menemukan
yang hakiki
bila kata-kata cuma kopong tahi dilindas
sandal imam
sombong yang maha pengecut”
Bagus Dwi Hananto, Dinosaurus Malam Hari
“Betapa pukimak hidup itu! Tuhan-tuhan
timbul-tenggelam mirip popok bayi di sampah,
dan cinta, bila terlalu hanyut kau, maka bisa
membunuh!”
Bagus Dwi Hananto, Dinosaurus Malam Hari
“kata-kata adalah kitab suci gratis tak
dibukukan yang dirapalkan sesuka mungkin
berteriak melampaui bintang-bintang angkasa
sepasang tikus bercumbu di tong sampah
dedaunan tua menyelimuti mereka. tapi malam
adalah khotbah panjang membosankan
dari monolog langit bersepuh butiran garam
cahaya yang kau sebut planet, UFO, pesawat
terbang apapun itu—selama mungkin mereka
menghampar dalam satu kekerasan: ad
infinitum!”
Bagus Dwi Hananto, Dinosaurus Malam Hari
“ditembakkan dari pelir barracuda yang lolos
api, tubuhnya penuh runcing seperti penggaris
16 centi ke atas terus ke atas melewati loronglorong
rusak yang pengap akan tetesan air
amis. terbuka menganga, lurus terus maju
tanpa mundur memasuki sorga yang hilang di
Bermuda kecil warna-warni logo bungabungaan
yang diracuni bensin dan mungkin
sundutan rokok tengik. owalah...rambutrambut
keriting siapa ini disepahkan mulut
lebar ikan lonte di danau sebelah utara?”
Bagus Dwi Hananto, Dinosaurus Malam Hari
“Tuhan tak mesti ada di sana, menulis hidupmu.
jika hanya lingkaran keras kepala yang
menyeru pungtuasi titik, meskipun ia tak
pernah berhenti.”
Bagus Dwi Hananto, Dinosaurus Malam Hari
“anjing-anjing buta melolong menangisi
lobang-lobang di tembok. melodi, tak lebih
dari dalih kesunyian dan cinta. erangan yang
memuakkan. percakapan itu terkesan mewah:
penyair yang lupa membawa topinya, dan
lintingan lisong yang tak mungkin mengerti
puisi bila disandingnya bukanlah kopi. oh,
betapa luka 300.213 centi itu melebar makin
timur, menorehkan nganga tempat nanah
menggembung dengan lapisan perih dan bau
amis.
mobil pikap tua, penuh kangkung dan ibu yang
tidur di atasnya, setenang Buddha. jalan terus
ke kiri, menyempil di antara truk-truk besar
yang tak mau kalah, tetap ngotot meski makin
di pojok. masih saja setenang Buddha: tidur
yang penuh rahma”
Bagus Dwi Hananto, Dinosaurus Malam Hari
“dari tembok tua dan rumah bisu penuh anggota
keluarga: ayah, ibu, kakek,nenek, bayi-bayi
menggelantung kera dengan bau dupa yang
lapar. Dari sorga yang tak mungkin dicapai
kecuali kau Buddha Gautama. Dari Yesus
yang tangannya terkulai dipasak dan menangis
merasa ditinggalkan bapaknya. Dari
Muhammad yang kedinginan menggigil dalam
selimut di goa sunyi berharap ada laba-laba
membikin pintu bagi rumah barunya. Dari
cintaku padamu yang tak pernah renta. Dari itu
semua—
kata-kata terus terumbar, jauh melayang
melewati pasar modern jam 5 pagi.”
Bagus Dwi Hananto, Dinosaurus Malam Hari
“dari kelangkang ini, lumut-lumut hijauku
menyeruak melilit ikan-ikan kecil burungburung
kecil yang tamasya mendekati sihir
kata-kataku. inilah kitab suciku! meledak
dalam kesintingan! ditelikung cahaya bulan,
sendirian di penjara, dingin yang akrab dan
suara-suara jauh dan tikus, dan bayangan
kematian, tapi lumut-lumut ini menjangkau ke
mana-mana, ke bermuda warna-warni di balik
celana para lonte yang bersikukuh menahan
imannya dibelit cadar kemunafikan! hurah!
taik anjing masuk lobang jadah miliknya: oh,
cinta yang menipu! bau tahi asu dari desa
terjauh di utara sana, telah menghisapku dan
perek-perek terus saja dilahirkan tiap detik.”
Bagus Dwi Hananto, Dinosaurus Malam Hari
“terhempas, takluk, digerus dingin angin, suara
truk, debu menyelip di mataku betapa dancuk
hidup ini! betapa dancuk lonte yang setengah
mati kukasihi dan menusukku dari belakang!
betapa dancuk Tuhan! bergetar, mabuk
bayang-bayang, tuak kegelapan, mabuk
keramaian yang kubenci, mengambang,
tersesat, terhisap angin, luka menganga, nanah
tembaga meleleh dari lutut Apolo emas yang
dipenggal sebelum perang meledak; sulap
kata-kata Homer dengan mata piceknya.
terkutuklah bayangan, pohon-pohon meronta
karena tak ada satu pun cuaca baik
menawarkan minuman dari langit. aku biarkan
itu semua menyalipku, dalam metafora, mata
binatang, bibir lebar mirip kemaluan wanita
sombong yang merasa imannya takkan
tumbang meski dijejali kata-kata jorok nan
mesum. bergerak, tenggelam, sinar patah di
lingkar air dalam gelas mineral yang kokoh
dan kau bilang air abadi dan kau bilang api
bisa mati sendiri terkutuklah engkau yang
menelan masa laluku dan menghibahkan
kehancuran ini lobang nganga di dadaku. oh,
kau yang memuntahkan abu tulangku, yang
akan tetap kuingat meski Tuhan atau apapun
itu menyeretku ke neraka omong kosong di
alam kubur dan bertanya bagaimana imanku
sebenarnya. oh, terkutuklah engkau!”
Bagus Dwi Hananto, Dinosaurus Malam Hari