Hati Quotes

Quotes tagged as "hati" Showing 1-30 of 104
Dee Lestari
“Rasakan semua, demikian pinta sang hati. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan inilah hatiku, pada dini hari yang hening. Bening. Apa adanya.”
Dee, Rectoverso

Pramoedya Ananta Toer
“Biarlah hati ini patah karena sarat dengan beban, dan biarlah dia meledak karena ketegangan. Pada akhirnya perbuatan manusia menentukan, yang mengawali dan mengakhiri. Bagiku, kata-kata hiburan hanya sekedar membasuh kaki. Memang menyegarkan. Tapi tiada arti. Barangkali pada titik inilah kita berpisah...”
Pramoedya Ananta Toer, Arus Balik

Dee Lestari
“Buat apa ia pelihara luka hati yang cuma bikin matanya berair?”
Dee, Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
tags: hati, luka

Goenawan Mohamad
“Kita tak jadi bijaksana, bersih hati dan bahagia karena membaca buku petunjuk yang judulnya bermula dengan "How to"...Kita harus terjun kadang hanyut, kadang berenang dalam pengalaman. Kita harus berada dalam perbuatan, dalam merenung dan merasakan dalam laku. Ujian dan hasil ditentukan di sana.”
Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 1

Radhar Panca Dahana
PERCAKAPAN DUA RANTING

kalau pernah kamu bertemu dulu, apa yang
kau inginkan nanti? sepi. kalau nanti kau
dapatkan cinta, bagaimana kau tempatkan
waktu? sendiri. bila hari tak lagi berani
munculkan diri, dan kau tinggal untuk
menanti? cari. andai bumi sembunyi saat
kau berlari? mimpi. lalu malam menyer-
gapmu dalam pandang tiada tepi? hati.
baik...aku tak lagi memberimu mungkin?
kecuali. baik..baik, aku hanya akan menya-
pamu tanpa kecuali? mungkin. dan jika
tetap seperti itu, embun takkan jatuh dari
kalbumu? sampai. akankah kau patahkan
tubuhmu hingga musim tiada berganti?
mari. lalu kau tumbuhkan bunga tanpa
kelopak tanpa daun berhelai-helai? kemari.
juga kau benamkan yang lain dalam jurang
di matamu? aku. katakan bahwa kau mene-
rimamu seperti aku memberimu?...
kau? ya. kau?...aku.


Besancon, oktober sebelas 1997.
Radhar Panca Dahana, Lalu Batu: Antologi Puisi

Goenawan Mohamad
“Ketidakjujuran adalah isyarat ketidakbebasan hati”
Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2

“aku mau hidup; tanpa hati”
adrie

Okky Madasari
“Hati yang sudah terikat oleh beban tak bisa menghasilkan apa-apa selain kegelisahan dan ketakpuasan.”
Okky Madasari, Maryam

“Perhatian-perhatian kecil yang keluar dari hati tetap dapat menyentuh hati. Tidak melulu diperlukan hal besar untuk menyentuhnya.”
Mel

“Mentari terbit menerangi bumi; kamu terbit menerangi hati.”
Adrie

Abu Hamid al-Ghazali
“Semua sifat-sifat ini terhimpun di dalam hati, seolah-olah di dalam diri manusia itu ada binatang babi, anjing, syaitan dan pendita. Maksud babi ialah nafsu syahwat, sebab babi itu dikeji bukan kerana warna dan rupanya tetapi kerana kegelojohan, nafsu syahwat dan kerakusannya. Maksud anjing ialah nafsu marah kerana anjing itu bersifat garang dan bermusuh. Babi sentiasa mengajak supaya bersikap gelojoh melakukan keburukan dan kemungkaran, dan anjing pula mengajak supaya bersikap marah dengan melakukan kekejaman dan penganiyaan. Sementara syaitan pula sentiasa menyemarakkan nafsu syahwat babi dan nafsu marah anjing itu serta menggalakkan keduanya menyaingi satu sama lain. Maksud pendita ialah akal yang diperintahkan supaya mematahkan godaan syaitan dengan mendedahkan tipu helahnya melalui cahaya yang terang-benderang, melumpuhkan kerakusan dan syahwat babi itu dengan mengarahkan anjing supaya mengawalnya, kerana nafsu syahwat dapat dilumpuhkan dengan nafsu marah, dan mengawal kegarangan anjing dengan mengarahkan babi kepadanya, serta menjadikan anjing itu tunduk kepada perintahnya (akal). Jika akal dapat berbuat demikian nescaya segala-gala akan berjalan dengan lurus dan baik di dalam kerajaan jasmani. Jika gagal menundukkan nafsu syahwat dan nafsu marah, maka akal akan menajdi hamba kepada kedua-duanya, sebagaimana yang terdapat di kalangan kebanyakan orang yang menumpukan minat ke arah nafsu perut dan nafsu seks dan kepada usaha-usaha menyaingi hebat orang lain. Ini bererti akal tunduk di bawah telunjuk syaitan kerana syaitanlah yang mendorong nafsu syahwat dan nafsu marah supaya berkhidmat kepadanya. Dengan kata lain akal ketika itu adalah menyembah dan ber'abdi kepada syaitan.”
أبو حامد الغزالي, Penyakit-penyakit Hati

Jostein Gaarder
“Memiliki hati nurani tidak sama dengan menggunakannya”
Jostein Gaarder, Sophie's World

Mitch Albom
“Hati yang utuh adalah hati yang pernah patah.”
Mitch Albom, Have a Little Faith: a True Story
tags: hati

Toba Beta
“Ungkapan cinta tulus yang persisten
sangat efektif untuk meluluhkan hati.”
Toba Beta, Master of Stupidity

Auni Zainal
“Pada saat hati kita tersihir dengan perasaan, kita hanya nampak apa yang perasaan kita mahu lihat. Adakah kita kejam jika masih berdendam? Adakah kita perlu melepaskan hanya kerana mereka menyesal? Adakah semuanya akan pulih dengan hanya memaafkan? Memang dunia tidak akan berputar balik ke belekang jika kita memaafkan. Disebabkan ia takkan berputar baliklah kita harus melepaskan dan terus pandang ke depan. Adakah semuanya akan pulih dengan hanya memaafkan? Jawapannya tidak. Semuanya tidak akan pulih hanya dengan memaafkan. Tetapi hati manusia pulih. Hatinya pulih.”
Auni Zainal, Mawaddah Ilmi Ingin Pulang

“Mulut boleh mahir berucap
namun hati piawai berdusta,
kau boleh berkata ibadahmu untuk siapa,
namun hatimu tahu tujuannya.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Kamu yang sering hilang dan datang dengan sebuah senyum manis, menawarkan sebuah tempat nyaman yaitu sebuah hati. Ketika kamu kembali hilang, kau semakin menegaskan bukan hanya aku di tempat itu.”
Zakiyahdini Hanifah

“Cuaca cerah pagi ini

Persis menggambarkan hatiku

Tetapi awan mendung terlihat diujung langit

Seperti menunjukkan pemikiranku

Apakah aku benar-benar menyukaimu

Atau aku yang jatuh cinta pada perasaanku sendiri”
Zakiyahdini Hanifah

“Dari sekian yang ku tau,
Doa adalah media terbaik untuk menampung hati para perindu ❤”
Rahma Sinta

Dionisius Dexon
“Jika kamu berani jatuh cinta, kamu juga harus berani menerima kemungkinan bahwa cinta itu hanya terjadi satu arah—dan itu akan membuatmu tersesat.”
Dionisius Dexon, Jangan Sembunyi di Bumi

Dionisius Dexon
“Aku mencintaimu seperti angin. Kamu tidak akan merasakannya jika kamu tak ingin.”
Dionisius Dexon, Jangan Sembunyi di Bumi

Dionisius Dexon
“Meski kamu sudah berusaha membakar hati dengan berbagai macam cara, akan tetap ada satu orang yang dengan setia tinggal di sana.”
Dionisius Dexon, Jangan Sembunyi di Bumi

Dionisius Dexon
“Mungkin, bagi orang-orang yang sudah tak lagi percaya dengan komitmen, cara berpikir yang sederhana itu seperti ini: pedulikan siapa saja yang tinggal, abaikan siapa saja yang tanggal.”
Dionisius Dexon, Jangan Sembunyi di Bumi

Dionisius Dexon
“Hanya karena aku tak pernah lagi menghubungimu, jangan anggap aku telah kehilangan rasaku. Melupakanmu tak pernah semudah itu. Di antara bisingnya repetisi semu, tengoklah langit-langit kamarmu. Ada beberapa harap yang kugantungkan di sana; manifestasi dari untaian doa yang kukirim setiap kali namamu terlintas dalam kepala. Pastikan itu menjadi bunga tidurmu. Cukupkan itu menjadi obat lelahmu.”
Dionisius Dexon, Jangan Sembunyi di Bumi

Dionisius Dexon
“Kita semua pernah kecewa karena gagal tumbuh di hati orang lain.”
Dionisius Dexon, Jangan Sembunyi di Bumi

Dionisius Dexon
“Kalau mencintai masih butuh alasan, lebih baik jangan dikatakan. Jangan libatkan orang lain dalam debar jantungmu yang masih pilih-pilih itu.”
Dionisius Dexon, Jangan Sembunyi di Bumi

Dionisius Dexon
“Setiap manusia lemah dengan caranya masing-masing. Apa yang bisa menguatkannya adalah penerimaan dalam dekap yang tak asing.”
Dionisius Dexon, Jangan Sembunyi di Bumi

Dionisius Dexon
“Kurasa, seperti itulah cinta. Dinyatakan atau tidak dinyatakan, pada akhirnya hati hanya menemui
dua pilihan: meledak atau terbakar.”
Dionisius Dexon, Jangan Sembunyi di Bumi

Dionisius Dexon
“Malam ini, mari belajar memeluk dan menyelamatkan diri sendiri. Sebab, pada akhirnya, kita tahu: kita harus mampu sendirian.”
Dionisius Dexon, Jangan Sembunyi di Bumi

Haryadi Yansyah
“India adalah tempat yang tepat untuk belajar menurunkan espektasinya terhadap segala sesuatu. Terutama yang berkaitan dengan kebersihan, kenyamanan dan keamanan. Namun, di sisi lain juga harus bersiap menerima kejutan-kejutan yang menyenangkan di perjalanan. Terlepas apapun itu, kita hanya perlu memposisikan sudut pandang yang tepat untuk melihat India secara utuh. Lebih baik lagi jika mampu melihatnya menggunakan kacamata hati.”
Haryadi Yansyah, Yatra & Madhyaantar

« previous 1 3 4