Ainun Habibie Quotes
Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat
by
Andi Makmur Makka73 ratings, 4.14 average rating, 9 reviews
Ainun Habibie Quotes
Showing 1-5 of 5
“Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin bagi saya untuk bekerja pada waktu itu. Namun, saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan risiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak? Seimbangkah orangtua kehilangan anak dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu. (Ainun Habibie, Tahun-tahun Pertama)”
― Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat
― Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat
“Sebagai perempuan Indonesia yang lama tinggal di Jerman, mendiang Ibu Ainun merupakan inspirasi bagi saya, juga bagi banyak perempuan Indonesia di Eropa. Penampilannya sederhana namun sempurna. Mengurus rumah tangga sendiri, masak sendiri, mendorong suami berkarier, bahkan kadang menyopiri ke kantor, mengantar anak-anak sekolah, merawat ketika sakit, membesarkan mereka hingga mengantarkan mereka menjadi orang-orang sukses.”
― Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat
― Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat
“Waktu itu, kami tidak punya banyak, tetapi kami memiliki masing-masing (Ainun Habibie”
― Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat
― Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat
“Waktu itu, saya kelas tiga SMA dan Ainun masih kelas dua SMA. Aiunun duduk-duduk bersama "gengnya" yang cantik-cantik. Entah bagaimana, saya tiba-tiba mendatangi "geng" itu, lalu berkata kepada Ainun, "Hey, kamu itu kenapa jelek ya? Hitam lagi." Lalu, saya pergi. Pasti Ainun saat itu jengkel sekali. Kenapa? Mungkin ia berpikir saya kurang ajar. Padahal mungkin secara tidak sadar, saya tertarik kepada Ainun, tetapi saya mengekspresikannya dengan cara lain karena saya tidak terlalu berani mengatakan kalau saya suka dia.”
― Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat
― Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat
“Kami berdua suami istri dapat menghayati pikiran dan perasaan masing-masing tanpa bicara. Malah antara kami berdua terbentuk komunikasi tanpa bicara, semacam telepati. Tanpa diberi tahu sebelumnya, sering kali karena tidak sempat, kami masing-masing dengan sendirinya melakukan tepat sesuatu yang diinginkan yang lainnya. Saya membuat masakan yang persis suami saya butuhkan tetapi saya lupa untuk menitipkan padanya sewaktu berangkat pagi. Hidup berat, tetapi manis. (Ainun Habibie, Tahun-tahun Pertama)”
― Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat
― Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat
