Efraim > Efraim's Quotes

Showing 1-30 of 84
« previous 1 3
sort by

  • #1
    Pramoedya Ananta Toer
    “Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan.”
    Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

  • #2
    Pramoedya Ananta Toer
    “Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?”
    pramoedya ananta toer

  • #3
    Pramoedya Ananta Toer
    “Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang-orang lain pandai”
    Pramoedya Ananta Toer

  • #4
    Pramoedya Ananta Toer
    “seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”
    Pramoedya Ananta Toer, This Earth of Mankind

  • #5
    Pramoedya Ananta Toer
    “Menulis adalah sebuah keberanian...”
    Pramoedya Ananta Toer

  • #6
    Pramoedya Ananta Toer
    “Kau terpelajar, cobalah bersetia pada kata hati.”
    Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

  • #7
    Pramoedya Ananta Toer
    “Dan alangkah indah kehidupan tanpa merangkak-rangkak di hadapan orang lain”
    Pramoedya Ananta Toer

  • #8
    Pramoedya Ananta Toer
    “Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.”
    Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

  • #9
    Pramoedya Ananta Toer
    “Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.”
    Pramoedya Ananta Toer, House of Glass

  • #10
    Pramoedya Ananta Toer
    “Kalau mati, dengan berani; kalau hidup, dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.”
    Pramoedya Ananta Toer

  • #11
    Pramoedya Ananta Toer
    “Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri”
    Pramoedya Ananta Toer

  • #12
    Pramoedya Ananta Toer
    “Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya .”
    Pramoedya Ananta Toer, House of Glass

  • #13
    Pramoedya Ananta Toer
    “Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas

    (Bumi Manusia, h. 138)”
    Pramoedya Ananta Toer

  • #14
    Pramoedya Ananta Toer
    “Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.”
    Pramoedya Ananta Toer, House of Glass

  • #15
    Pramoedya Ananta Toer
    “Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri.”
    Pramoedya Ananta Toer

  • #16
    Pramoedya Ananta Toer
    “Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
    Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

  • #17
    Pramoedya Ananta Toer
    “Jarang orang mau mengakui, kesederhanaan adalah kekayaan yang terbesar di dunia ini: suatu karunia alam. Dan yang terpenting diatas segala-galanya ialah keberaniannya. Kesederhaan adalah kejujuran, dan keberanian adalah ketulusan.”
    Pramoedya Ananta Toer, Mereka Yang Dilumpuhkan

  • #18
    Goenawan Mohamad
    “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.”
    Goenawan Mohamad

  • #19
    Goenawan Mohamad
    “Kegagalan kita untuk memaafkan, kesediaan kita untuk mengakui dendam, adalah penerimaan tentang batas. Setelah itu adalah doa. Pada akhirnya kita akan tahu bahwa kita bukan hakim yang terakhir... Di ujung sana, Tuhan lebih tahu.”
    Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 1

  • #20
    Goenawan Mohamad
    “Definisi kesepian yang sebenarnya adalah hidup tanpa tanggung jawab sosial”
    Goenawan Mohamad

  • #21
    Goenawan Mohamad
    “Di sekolah, anak-anak belajar bahasa Indonesia, tetapi mereka tak pernah diajar berpidato, berdebat, menulis puisi tentang alam ataupun reportase tentang kehidupan. Mereka cuma disuruh menghafal : menghafal apa itu bunyi diftong, menghafal definisi tata bahasa, menghafal nama-nama penyair yang sajaknya tak pernah mereka baca.”
    Goenawan Mohamad, CATATAN PINGGIR 3

  • #22
    Goenawan Mohamad
    “Yang indah memang bisa menghibur selama-lamanya, membubuhkan luka selama-lamanya, meskipun puisi dan benda seni bisa lenyap. Ia seakan-akan roh yang hadir dan pergi ketika kata dilupakan dan benda jadi aus.

    Tapi apa arti roh tanpa tubuh yang buncah dan terbelah? Keindahan tak bisa jadi total. Ketika ia merangkum total, ia abstrak, dan manusia dan dunia tak akan saling menyapa lagi.”
    Goenawan Mohamad, Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai
    tags: art, life

  • #23
    Goenawan Mohamad
    “Kenapa selama ini orang praktis terlupa akan burung gereja, daun asam, harum tanah: benda-benda nyata yang, meskipun sepele, memberi getar pada hidup dengan tanpa cincong? Tidakkah itu juga sederet rahmat, sebuah bahan yang sah untuk percakapan, untuk pemikiran, untuk puisi—seperti kenyataan tentang cinta dan mati?”
    Goenawan Mohamad, CATATAN PINGGIR 2

  • #24
    Goenawan Mohamad
    “Kita tak jadi bijaksana, bersih hati dan bahagia karena membaca buku petunjuk yang judulnya bermula dengan "How to"...Kita harus terjun kadang hanyut, kadang berenang dalam pengalaman. Kita harus berada dalam perbuatan, dalam merenung dan merasakan dalam laku. Ujian dan hasil ditentukan di sana.”
    Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 1

  • #25
    Goenawan Mohamad
    “Hanya mereka yang mengenal trauma, mereka yang pernah dicakar sejarah, tahu benar bagaimana menerima kedahsyatan dan keterbatasan yang bernama manusia”
    Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 4

  • #26
    Goenawan Mohamad
    “Sebuah kalimat akan menemukan maknanya dalam sebuah keinginan.”
    Goenawan Mohamad

  • #27
    Goenawan Mohamad
    “Di setiap masa nampaknya selalu ada saat yang tak mudah untuk berbicara, tapi tidak gampang untuk diam. Kita tidak tahu pasti bagaimana persisnya kata-kata akan diberi harga, dan apakah sebuah isyarat akan sampai. Di luar pintu, pada saat seperti ini, hanya ada mendung, atau hujan, atau kebisuan, mungkin ketidakacuhan. Semuanya teka-teki.”
    Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 1

  • #28
    Goenawan Mohamad
    “Jangan-jangan Tuhan menyisipkan harapan bukan pada nasib dan masa depan, melainkan pada momen-momen kini dalam hidup—yang sebentar, tapi menggugah, mungkin indah.”
    Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 7

  • #29
    Goenawan Mohamad
    “Kita tahu, dalam hidup, biarpun ringkas selalu ada sesuatu yang mesti dilepas—mungkin tak ke arah yang lebih baik, mungkin ke bentuk yang lebih buruk. Dan apa yang “lebih baik” dan “lebih buruk” bagi suatu zaman tak pernah ditentukan oleh setiap orang .”
    Goenawan Mohamad, CATATAN PINGGIR 2

  • #30
    Goenawan Mohamad
    “Lebih baik agama ibarat garam: meresap, menyebar, dan memberikan manfaat di mana-mana, tanpa kelihatan.”
    Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 7
    tags: agama



Rss
« previous 1 3