Penderitaan Quotes

Quotes tagged as "penderitaan" Showing 1-14 of 14
Pramoedya Ananta Toer
“Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.”
Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

Helvy Tiana Rosa
“Penderitaan yang sesungguhnya adalah ketika kamu kehilangan kepercayaan diri dan harapan. Ketika Allah tak ada dalam tujuan hidupmu ”
Helvy Tiana Rosa, Tanah Perempuan

Pramoedya Ananta Toer
“Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia.”
Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

“Dikehendakinya manusia untuk hidup, diberikannya kesenangan sekaligus penderitaan yang mendampingi ia sampai mati. Kerinduan akan kebahagian serta membenci diri sendiri menjadi hal yang indah sekaligus mengerikan.”
Randy Juliansyah Nuvus

Pramoedya Ananta Toer
“Revolusi Perancis, mendudukkan harga manusia pada tempatnya yang tepat. Dengan hanya memandang manusia pada satu sisi, sisi penderitaan semata, orang akan kehilangan sisinya yang lain. Dari sisi penderitaan saja, yang datang pada kita hanya dendam, dendam semata...”
Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

Titon Rahmawan
“Penderitaanku yang paling utama adalah kemelekatanku pada dunia ini. Namun bukan dunia yang menjadi sumber penderitaan itu melainkan kelemahan jiwaku sendiri.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Bukan dunia di luar dirimu yang bisa membuat hidupmu bahagia, melainkan penerimaan dan sikapmu pada dirimu sendiri. Tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan dirimu menanggung penderitaan dan kesusahan. Dan demikian pula, tidak ada orang lain yang bertanggung jawab atas kebahagianmu selain dari dirimu sendiri. Sebab surga atau neraka itu hadir bukan sekedar sebagai sebuah ganjaran, melainkan sebagai konsekuensi dari pilihan hidup kita sendiri.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Went people die they won't suffer anymore" itu penggalan kalimat yang diucapkan Scott padaku. Entah kapan ia mengucapkan hal itu aku tidak mampu mengingatnya. Aku kira bukan waktunya yang penting, melainkan apa maksud dibalik kalimat yang ia ucapkan. Aku juga lupa, apakah ia mengucapkan kalimat itu dalam diri Jim saat jantungnya terhenti ketika ia tengah berendam di dalam bathtube di apartemennya di Paris? Atau mungkin pula ketika ia masih bercokol dalam tubuh Dwi Retno saat ia mulai mengiris pergelangan tangannya sendiri dengan sebilah silet. Atau barangkali saja, saat ia tengah bergelut dengan sakratul maut dalam tubuh Ruh. Tentang bagaimana aku mengingatnya masih serupa khayalan atau mimpi yang bercampur aduk dengan rupa rupa realitas.

Tapi yang jelas, ada begitu banyak momen di mana aku berasa begitu dekat dengan kematian. Kematian bapak, lalu kematian ibuk dan kemudian kematian Ruh. Kematian itu sendiri mungkin saja telah mengakhiri semua penderitaan mereka di dunia ini, tapi yang jelas bukanlah penderitaanku. Betapa selama ini aku tenggelam dalam sebuah keyakinan, bahwa penderitaan manusia yang terbesar adalah karena kemelekatan mereka pada dunia ini. Dan keberadaan Scott dalam hidupku sungguh sungguh menegaskan segala hal itu. Mulai dari gambaran yang ia lihat dalam momen kematian seorang Indian yang mengalami kecelakaan di sebuah jalan berdebu di gurun Minessota. Lalu bersambung dengan momen saat Dwi Retno mencoba mengakhiri hidupnya sendiri dengan silet dan memuncak dalam detik detik ketika maut menjemput Ruh.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Tanpa kesadaran atas batas kemanusiaan, manusia hanya akan memandang penderitaan dengan hati dan pikiran yang diliputi oleh amarah, pengingkaran dan penolakan atas kuasa Ilahi. Tetapi bukankah justru di saat saat seperti itu, Tuhan jadi terasa begitu dekat?”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Kemalangan, kecelakaan, bencana, penderitaan, penyakit, mala petaka, mara bahaya, nasib buruk itu mesti dilihat sebagai sisi lain dari kemanusiaan. Supaya kita memiliki kesadaran dan tidak merasa jumawa, bahwa sebagai manusia kita tidak bisa mengendalikan takdir kita sendiri.”
Titon Rahmawan

“Kadang ia merasa sangat lucu, pekerjaan kakeknya sebagai tukang kuburan membuat pria tua itu selalu berseri mendengar kabar jika akan ada orang yang pergi. Inilah ironisnya hidup, akan selalu ada orang yang berbahagia di atas penderitaan orang lain.”
Devania Annesya, Elipsis

“Ares bilang itu yang namanya kata hati. Sesuatu yang muncul ketika kau mengasah hatimu. Sesuatu yang dimiliki semua orang namun tidak semua orang sadar memilikinya. Hatimu perlu diasah oleh rasa sakit, pengalaman hidup, dan penderitaan. Jadi apa hatiku juga telah terasah?”
Devania Annesya, Queen: Ingin Sekali Aku Berkata Tidak

Dian Nafi
“Mereka tidak berdiri di atas penderitaan siapapun. Mereka bersama tidak untuk melukai siapapun.”
Dian Nafi, Gus

“Mengapa kita harus menuliskan hal-hal semacam bahagia, bila hanya kesedihan yang kerap kita derita?”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)