Angin Quotes

Quotes tagged as "angin" (showing 1-15 of 15)
Pramoedya Ananta Toer
“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ?
Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin,
akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”
Pramoedya Ananta Toer

Devania Annesya
“Bagaimana mungkin kamu pergi begitu saja setelah semua hal yang terjadi? Kamulah yang terburuk! Karena kamu datang serupa angin, mengisi yang hampa, untuk kemudian pergi begitu saja, seakan tidak terjadi apa-apa.”
Devania Annesya, Maya Maia

“Siapa tau didalam hati, diam-diam angin ingin berhenti bertiup. Mengapa ia harus terus berhembus? tak bisakah ia menetap disuatu tempat yang ia suka? sesekali tak peduli dengan hukum konveksi, memuai oleh panas lalu terbang, tebal karena dingin lalu terjatuh kembali. Begitu sepanjang waktu, tapi Angin tak pernah berharap Bumi berhenti berputar.”
nom de plume
tags: angin

Devania Annesya
“Angin tak pernah mengeluh,
menghempas debu jalanan.
Hujan tak pernah lalai,
dalam rinai syahdu pun teruntai.
Dawai.
Damai.
Bumi enggan mengaduh,
barangkali sudah jengah diinjak dan diludah.
Barangkali demikian aku.
Dalam rindu kuku terendap waktu.”
Devania Annesya, Elipsis

Ready Susanto
“Kau tahu, pohon-pohon telah jadi batu, masa lalu pun tersapu hujan-gaduh itu. Kepada siapa aku harus menabalkan janji? Selain pada kenangan—mungkin selembar catatan bersamamu. Tapi hujan-rusuh dan angin-hingar, enggan mendengar rayuan. Yang kukatakan cuma gumam. Maka, dekatkan saja hatimu”
Ready Susanto

“Duduklah sejenak, akan aku suguhkan jingga keemasan dan similir angin untukmu.
Setelah itu kita akan bercengkrama tentang rindu yang terpasung.”
silviamnque

“di ujung mulut takdir,
tersentak keyakinan ku goyah
akan suatu masa yang mulai tampak mendekat,
bersama angin yang menghantar bimbang ini
aku bertanya padamu, duduk kah engkau di senja itu sambil menggores hidup di atas kertas???”
andra dobing

“Menjadi asing,
Membenci bising,
Adakah hubungan yang lebih rumit dibanding bersahabat dengan hening?”
silviamnque

Alfin Rizal
“Tanyalah pada angin, apakah ia bisa patah hati? Sejauh ini ia tak pernah menjawabnya. Tanyalah aku, bisakah aku patah hati? Sejauh ini kau membuatku seperti angin.”
Alfin Rizal

“PastI, kita akan bertemu kan, dengan apa adanya, dengan canda yang kita pendam lama, dengan gemuruh angin yang lama tak kita hembuskan

#andradobing”
andra dobing

Devania Annesya
“Kau terhenti.
Tergagu kau bertanya.
Mungkin pada diri sendiri, mungkin kepadaku.
“Siapa… kamu?”
Namaku Bumi, ketika langitmu perlu wadah untuk menangis.
Namaku Bulan, saat kau terlelap, kujaga duniamu dalam gelap.
Namaku Telaga, kan kubasuh lusuh di sekujur tubuhmu itu.
“Untuk apa?”
Untuk partikel udara yang kau hirup dengan cuma-cuma.
Untuk desau angin yang bisiknya kau halau dengan daun pintu.
Untuk kepul terakhir secangkir kopi yang kau hirup sebelum mendingin.
Kau kembali berjalan.
Aku kembali diam.
Kita tak lagi berbincang.
Aku tetap menjadi bumi, bulan, dan telagamu.
Kau masih menghirup udara, menghalau angin, dan menyeduh kopi.
Kita masih melakukan hal yang sama, masih di tempat yang terpisah.
Dan tak pernah kau pertanyakan lagi keberadaanku.
Sebab bagimu aku selalu ada.”
Devania Annesya, Elipsis

Rohmatikal Maskur
“Daun yang rapuh takut dengan angin. Karena ia tahu ketika angin berhembus ia akan jatuh.
Apakah kau juga hanya hati yang rapuh? Yang akan jatuh ketika angin berhembus?”
Rohmatikal Maskur

“AKU DAN ANGIN

Aku dan angin sering berselisih paham,
ia sering merayu untuk dikejar saat aku sedang lelah,
tapi malah sembunyi saat aku penuh semangat.
aku sungguh tak mengerti soal pertengkaran ini,
tetapi aku juga tidak membenci angin,
karena selesainya pasti kami akan berdamai.”
Epaphras Ericson Thomas

“SENJA DI PAGI HARI

Aku merindukan senja di pagi hari,
suasana sejuk yang telah lama memberikanku hangat;
sembari aku menjadi bisu,
melihat lembaran kering gugur dari asalnya,
sampai secangkir kopi telah menjadi sisa;

"sebentar", sapa angin;
"bukankah dirimu tak menyukai kopi?", lanjutnya lirih;
aku hanya mengangguk,
tapi karena pahit aku dapat mengenal manis.”
Epaphras Ericson Thomas

“Angin dingin kelam berderik, kabut putih menghapus mentari, tegak cahaya menusuk citra, dan pahatan gunung memecah langit hanya berselimut awan beralaskan zamrud.”
Jakarta, Indonesia