Angin Quotes

Quotes tagged as "angin" Showing 1-19 of 19
Pramoedya Ananta Toer
“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ?
Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin,
akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”
Pramoedya Ananta Toer

“Menjadi asing,
Membenci bising,
Adakah hubungan yang lebih rumit dibanding bersahabat dengan hening?”
silviamnque

“Angin tak pernah mengeluh,
menghempas debu jalanan.
Hujan tak pernah lalai,
dalam rinai syahdu pun teruntai.
Dawai.
Damai.
Bumi enggan mengaduh,
barangkali sudah jengah diinjak dan diludah.
Barangkali demikian aku.
Dalam rindu kuku terendap waktu.”
Devania Annesya, Elipsis

“Bagaimana mungkin kamu pergi begitu saja setelah semua hal yang terjadi? Kamulah yang terburuk! Karena kamu datang serupa angin, mengisi yang hampa, untuk kemudian pergi begitu saja, seakan tidak terjadi apa-apa.”
Devania Annesya, Maya Maia

Alfin Rizal
“Tanyalah pada angin, apakah ia bisa patah hati? Sejauh ini ia tak pernah menjawabnya. Tanyalah aku, bisakah aku patah hati? Sejauh ini kau membuatku seperti angin.”
Alfin Rizal

“Siapa tau didalam hati, diam-diam angin ingin berhenti bertiup. Mengapa ia harus terus berhembus? tak bisakah ia menetap disuatu tempat yang ia suka? sesekali tak peduli dengan hukum konveksi, memuai oleh panas lalu terbang, tebal karena dingin lalu terjatuh kembali. Begitu sepanjang waktu, tapi Angin tak pernah berharap Bumi berhenti berputar.”
nom de plume
tags: angin

“Duduklah sejenak, akan aku suguhkan jingga keemasan dan similir angin untukmu.
Setelah itu kita akan bercengkrama tentang rindu yang terpasung.”
Silviamnque

“Kau terhenti.
Tergagu kau bertanya.
Mungkin pada diri sendiri, mungkin kepadaku.
“Siapa… kamu?”
Namaku Bumi, ketika langitmu perlu wadah untuk menangis.
Namaku Bulan, saat kau terlelap, kujaga duniamu dalam gelap.
Namaku Telaga, kan kubasuh lusuh di sekujur tubuhmu itu.
“Untuk apa?”
Untuk partikel udara yang kau hirup dengan cuma-cuma.
Untuk desau angin yang bisiknya kau halau dengan daun pintu.
Untuk kepul terakhir secangkir kopi yang kau hirup sebelum mendingin.
Kau kembali berjalan.
Aku kembali diam.
Kita tak lagi berbincang.
Aku tetap menjadi bumi, bulan, dan telagamu.
Kau masih menghirup udara, menghalau angin, dan menyeduh kopi.
Kita masih melakukan hal yang sama, masih di tempat yang terpisah.
Dan tak pernah kau pertanyakan lagi keberadaanku.
Sebab bagimu aku selalu ada.”
Devania Annesya, Elipsis

Ready Susanto
“Kau tahu, pohon-pohon telah jadi batu, masa lalu pun tersapu hujan-gaduh itu. Kepada siapa aku harus menabalkan janji? Selain pada kenangan—mungkin selembar catatan bersamamu. Tapi hujan-rusuh dan angin-hingar, enggan mendengar rayuan. Yang kukatakan cuma gumam. Maka, dekatkan saja hatimu”
Ready Susanto

“PastI, kita akan bertemu kan, dengan apa adanya, dengan canda yang kita pendam lama, dengan gemuruh angin yang lama tak kita hembuskan

#andradobing”
andra dobing

“AKU DAN ANGIN

Aku dan angin sering berselisih paham,
ia sering merayu untuk dikejar saat aku sedang lelah,
tapi malah sembunyi saat aku penuh semangat.
aku sungguh tak mengerti soal pertengkaran ini,
tetapi aku juga tidak membenci angin,
karena selesainya pasti kami akan berdamai.”
EPAPHRAS ERICSON THOMAS

“Aku pernah hidup
dan aku akan pernah mati
ibaratkan sesuatu yang ada dan pergi
dan aku... menunggu saat itu tiba
disaat semuanya...
akan tiada berguna lagi

aku hanya setitik kecil diatas bumi
dan jika hilang, hilanglah sudah
tak ada lagi yang mengingatku
tidak
tak ada lagi kenanganku
semuanya sirna
ingatlah angin lalu, itulah aku...”
Manhalawa

“di ujung mulut takdir,
tersentak keyakinan ku goyah
akan suatu masa yang mulai tampak mendekat,
bersama angin yang menghantar bimbang ini
aku bertanya padamu, duduk kah engkau di senja itu sambil menggores hidup di atas kertas???”
andra dobing

“SENJA DI PAGI HARI

Aku merindukan senja di pagi hari,
suasana sejuk yang telah lama memberikanku hangat;
sembari aku menjadi bisu,
melihat lembaran kering gugur dari asalnya,
sampai secangkir kopi telah menjadi sisa;

"sebentar", sapa angin;
"bukankah dirimu tak menyukai kopi?", lanjutnya lirih;
aku hanya mengangguk,
tapi karena pahit aku dapat mengenal manis.”
EPAPHRAS ERICSON THOMAS

Yoza Fitriadi
“Edelweis ini bukan hanya sekedar bunga. Tapi ia memiliki filosofi yang indah. Makna sebuah perjuangan, ketulusan dan ketegaran. Itulah yang membuatnya disebut bunga keabadian,” sahut kakek itu sembari merentangkan tangan menikmati semilir angin yang datang.

“Keindahan edelweis bukan saat ia berjejer di dalam vas. Bukan pula saat tersusun rapi dalam buket bunga dengan kain dan pita berwarna cerah. Tapi ia akan amat indah bila tetap di alam bebas, bermekaran di tengah hamparan sabana luas. Indah saat bergoyang diterpa angin pegunungan, memutih laksana salju di tanah lapang,” pungkasnya membiarkan Vidi termangu sendirian.

(Tujuh Buket Bunga Keabadian, Dunia Tanpa Huruf R)”
Yoza Fitriadi, Dunia Tanpa Huruf R

Rohmatikal Maskur
“Daun yang rapuh takut dengan angin. Karena ia tahu ketika angin berhembus ia akan jatuh.
Apakah kau juga hanya hati yang rapuh? Yang akan jatuh ketika angin berhembus?”
Rohmatikal Maskur

“Angin bertiup di kerut sendunya wajahmu
Terlukis indah dunia yg melekat di bibirmu
Engkau tersenyum seakan berharap namun tak mau
Engkau berbalik seakan melangkah namun tak melaju

Ku sapa bayang terpapar lurus pundak ditata
Ku coba selaras ikuti arah melayang disana
Mengapa engkau seakan tak tergoncang alunan tersapa
Mengapa terlihat biasa tak terhirau merana di kata

Kecewa diri tersadar berdiri menyendiri
Terlena diawan petir gejolak me-ngingini
Sudah, sudah angan begitu ter-begini
Akhirnya tau tau kau hanyalah Mimpi

Ia, engkau mimpi
Mimpiku sendiri.




#Manhalawa, Maret 2020”
Manhalawa

“Angin dingin kelam berderik, kabut putih menghapus mentari, tegak cahaya menusuk citra, dan pahatan gunung memecah langit hanya berselimut awan beralaskan zamrud.”
Jakarta, Indonesia

“Jangan mempermainkanku dengan kata kata yang mempunyai banyak ilusi
Jangan mengecokkanku ribuan majas yang makin tak bertepi
Sejenuh, sejenak, mengapung menggantung,
Apakah kau menganggapku selirih sepandang seperjalanan menanti berlalu?

Jujur, kau seindah, semenarik, terpandang
Memang, kau sejernih, selugu, segala terpancar
Lalu mengapa kau, adapun mau, adapun membaur
Berdatang dan berlalu
Tiba-tiba kau tertarik dengan angin yang terasakan mengepoi-sepoi sore hari segala terlalu

Sungguh, kini kau sesulit ini dipahami?
Ber-entah kata jika ditata berbaris
Ber-jenaka di alun syair
Berujung ku me-nyudahi

Terbegitukah ku lakui...?
...

#medan, April 2020
Judul: MengapaKah”
Manhalawa