Refleksi Quotes

Quotes tagged as "refleksi" Showing 1-13 of 13
Pidi Baiq
“Dulu, nama besar kampus disebabkan oleh karena kehebatan mahasiswanya. Sekarang, mahasiswa ingin hebat karena nama besar kampusnya.”
Pidi Baiq, at-Twitter: Google Menjawab Semuanya Pidi Baiq Menjawab Semaunya

“Seseorang yang ada di depan matamu, adalah cerminanmu.”
yora

“Maaf, mungkin terasa janggal
Maaf, sudah membuat diriku sendiri terluka
Maaf, sudah banyak malu yang kubuat
Maaf, aku.”
uwan urwan

Emha Ainun Nadjib
“Semua bidang keahlian khusus yang diajarkan di semua fakultas itu sekunder. Yang primer, yang utama adalah bagaimana seseorang menjadi manusia. Seseorang menjadi dokter itu sekunder, menjadi insinyur itu sekunder, jadi presiden itu sekunder, karena yang nomor satu adalah menjadi manusia. Apakah manusia itu? Tanya pada yang buat manusia, begitu mestinya. Untuk bisa bertanya pada yang membuat manusia, dekat-dekatlah dengan orang yang paling dekat dengan yang membuat manusia, sekaligus dekat dengan ciptaan-Nya, yaitu Nabi Muhammad SAW. Karena Nabi Muhammad sangat dekat dengan Allah, sangat dicintai oleh Allah, ya, kita belajar pada manusia Muhammad. (h.26)”
Emha Ainun Nadjib, Kalau Kamu Ikan Jangan Ikut Lomba Terbang

Seno Gumira Ajidarma
“Pembunuhan itu kegagalan berbahasa yang purba sekali anakku, dan hari ini masih ada .Bukankah itu berarti seluruh pendidikan agama dan ilmu pengetahuan yang telah berlangsung berabad-abad belum berhasil sepenuhnya?”
Seno Gumira Ajidarma, Kitab Omong Kosong

Fahruddin Faiz
“Jadi, kita tidak pernah berhenti pada fakta, kenyataan, namun biasanya lebih jauh menyusun dongeng kita sendiri dalam pemaknaan.”
Fahruddin Faiz, Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika: membincang cognitive bias dan logical fallacy

Seno Gumira Ajidarma
“Untunglah penalaran bukan segala-galanya. Penalaran memang memikat dan membuka jalan untuk menyingkap dunia, namun kesetiaan kepada penalaran terkadang membuat hidup menjadi dingin. Padahal manusia selalu mencari kehangatan dan selalu terpesona oleh keajaiban. Penalaran sendiri merupakan perilaku manusia yang memesona, namun penalaran sekaligus juga menggugurkan pesona. Bagaimanakah caranya manusia menjaga agar bisa tetap hidup di dunia yang penuh pesona? Dunia boleh saja tidak ada, dan karena itu harus diadakan kembali.”
Seno Gumira Ajidarma, Kitab Omong Kosong

Emha Ainun Nadjib
“Kalau manusia selalu ingat setiap hari, maka dia akan sadar bahwa dia sangat tidak berdaya. Dia sangat kecil, dia sangat debu, dan dia sangat bukan apa-apa di tengah alam semesta ciptaan Allah. (h.18)”
Emha Ainun Nadjib, Kalau Kamu Ikan Jangan Ikut Lomba Terbang

Emha Ainun Nadjib
“Anda ingat Allah karena Anda punya kecerdasan untuk mengingat-Nya. Anda punya mekanisme intelektual dan ruhaniah sedemikian rupa sehingga hasilnya adalah Anda ingat Allah. Bukan ingat Allah sebagai "pohonnya", tetapi sebagai "buahnya". (h.32)”
Emha Ainun Nadjib

Chandra Bientang
“Masa lalu ditulis dengan tinta yang tak bisa luntur”
Chandra Bientang, Dua Dini Hari

Titon Rahmawan
“Puisi yang Menolak Jadi Puisi

Aku menuliskan ini dengan tangan yang tidak lagi menginginkan bahasa.
Bahkan sebelum huruf pertama jatuh, aku tahu:
segala yang mencoba kusebut “puisi”
hanyalah cara lain untuk menghindari diriku sendiri.

Jadi biarlah malam ini aku berhenti menjadi apa yang aku inginkan.
Biarlah aku menuliskan sesuatu
yang tidak ingin memiliki irama,
tidak ingin dipuji,
tidak ingin dikenang.

Sebab apa gunanya metafora
jika seluruh luka telah menolak
dibungkus oleh keindahan?
Apa gunanya diksi
jika ada kebenaran yang terlalu telanjang
untuk diberi pakaian?

Aku menghapus semua perumpamaan.
Aku menghapus semua simbol.
Aku menghapus semua milikku
yang pernah tampak seperti seni.

Biarkan yang tersisa hanya satu hal:
aku yang tidak sanggup berbohong lagi.

Ada hari-hari ketika aku ingin mengubur seluruh karyaku,
membuangnya ke dalam sumur paling gelap
tempat suara tidak kembali
dan renungan pun mati tanpa gema.

Sebab setiap kali aku menulis,
aku merasa sedang mencurangi hidup.
Aku membuat jejak-jejak palsu,
mengunggulkan penderitaan
seolah-olah itu adalah mahkota yang paling berharga.

Padahal kebenarannya sederhana
dan kasar:
aku menulis karena aku tidak tahu cara lain
untuk menghentikan diriku dari kehancuran.
Dan hari ini,
bahkan itu pun tidak berhasil.

Kalau saja aku bisa,
aku ingin menanggalkan semua bentuk.
Tidak ada baris-baris.
Tidak ada jeda.
Tidak ada frasa yang memikat.
Hanya ruhku menatap tubuhku sendiri
tanpa belas kasihan.

Aku ingin hadir sebagai retakan yang jujur,
bukan sebagai kalimat yang indah.
Aku ingin hadir sebagai kegagalan,
bukan sebagai karya yang menaklukkan.
Aku ingin hadir sebagai manusia,
bukan penyair yang memalsukan kemanusiaan.

Jadi inilah aku:
duduk di antara puing-puing huruf,
memegang sunyi seperti memegang batu panas yang melepuhkan tanganku.

Aku menolak estetika
sebagaimana tubuh menolak racun.

Aku menolak menjadi penyair
karena malam ini
aku hanya ingin menjadi seseorang
yang berhenti menghindari dirinya sendiri.

Sebab pada akhirnya,
yang kutakuti bukanlah ketiadaan puisi—
melainkan kemungkinan
bahwa puisi yang kutulis selama ini
tidak pernah benar-benar menyentuh siapa pun,
bahkan aku sendiri.

Dan jika demikian,
maka biarlah karya ini menjadi perlawanan terakhirku:

Puisi yang ingin menjadi luka,
bukan bahasa.

Puisi yang ingin menjadi dada yang sesak,
bukan frasa yang tanpa cela.

Puisi yang ingin menjadi wajah yang kubenci,
bukan topeng yang kukagumi.

Puisi yang menolak menikamkan kecantikan,
dan memilih menyingkap kebenaran yang kasar.

Puisi yang menolak menjadi puisi,
karena barangkali—
ini satu-satunya cara
aku bisa kembali menjadi manusia.

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Anatomi Sebuah Penolakan

Aku menuliskanmu, lalu kau menatap balik tanpa meratap
dengan sorot mata benda mati
yang muak menjadi cermin
bagi siapa saja.

Kau berkata:
Aku bukan puisi
dan kau bukanlah penyair.
Aku tak ingin menjadi ladang tempat manusia menanam duka,
lalu memetik ketenangan palsu dari reruntuhannya.

Dan aku terdiam—
seperti algojo yang tiba-tiba disapa oleh tajam bilah pedangnya sendiri.

Kau menolak metafora,
menepis ritme,
menghancurkan rima
seolah semuanya adalah wajah-wajah palsu
yang sengaja kupasangkan padamu
agar dunia merasa nyaman membaca sakitku.

Kau menudingku:
“Kau ingin selamat, bukan?
Kau ingin terlihat dalam, bijaksana, bercahaya—
padahal kau hanya gemetar mencari alasan
untuk membenarkan retak di dalam dirimu.”

Kata-katamu membekukan.
Tidak ada air mata.
Tidak ada amarah.
Hanya keheningan logam
yang menancap ngilu pada tulangku.

Lalu kau memutuskan diri:
Aku tidak akan memeluk siapa pun.
Aku tidak akan menjadi pelarian pembaca yang ingin merasa suci.
Aku tidak akan memaafkan penulismu.
Aku tidak akan memberi katharsis.

“Aku hanya akan menjadi luka yang dituliskan ulang tanpa belas kasihan,”
katamu.
“Sebab luka yang terlalu sering dinyatakan
pada akhirnya hanya akan menjadi perayaan kesedihan.”

Dan aku berdiri di hadapanmu
seperti tubuh yang kehilangan bayangan
menyadari bahwa tak ada yang lebih kejam
daripada sebuah puisi
yang memilih untuk tidak menyelamatkan.

Kau membalik halaman.
Kau memadamkan seluruh api kemungkinan.

Dan aku,
untuk pertama kalinya,
mengerti bahwa kepenyairan
bisa menjadi bentuk penghakiman paling dingin
atas keberadaanku sendiri.

Puisi bukan untuk ditahbiskan,
katamu.
Puisi adalah tempat di mana penulis akhirnya ditaklukkan dan mati
demi kesunyiannya sendiri.

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Variasi Suluk: Suara yang Tersesat dalam Tubuh

Ada suara lama yang memanggilmu.
Bukan tembang, bukan kidung,
melainkan gema yang kehilangan asal-usulnya,
mengambang di udara seperti serpihan mimpi
yang tak pernah selesai ditidurkan.

Kau mencoba menjadikannya doa.
Tapi setiap doa adalah luka yang belum sembuh;
ia menetes di antara sela-sela tulang,
merembes perlahan
ke sumur gelap yang kau gali selama bertahun-tahun.

Tubuhmu,
yang dulu kau banggakan sebagai altar,
kini tinggal reruntuhan yang memantulkan kembali
semua hasrat yang kau kira telah kau jinakkan.
Ia berdengung pelan,
seperti mesin tua yang dipaksa hidup
di tengah badai yang tak memilih korban.

Kau menyebutnya laku.
Padahal lebih tepat disebut pelarian.
Segala mantra yang kau pacu ke langit
jatuh kembali ke wajahmu,
meninggalkan jelaga tipis
yang tak pernah sempat kau bersihkan.

Ada malam-malam
ketika engkau merasa disentuh sesuatu
yang lebih tua dari dirimu sendiri.
Bukan dewa,
bukan malaikat,
hanya bayang yang ingin
menumpang tidur
di tubuh yang kau biarkan terbuka.

Setiap keinginan
meninggalkan lubang baru.
Setiap lubang
menuntut satu lagi bagian dari dirimu.
Begitu seterusnya,
hingga kau tak tahu lagi
mana yang lebih dalam:
hasratmu,
atau kehampaan yang memanggilmu pulang.

Ada denting jauh—
suara yang mengingatkanmu
betapa kecilnya engkau
di hadapan gelap yang terus tumbuh.
Gelap itu tidak mengancam.
Ia hanya menunggu.
Seperti seseorang yang tahu
bahwa semua jalan, pada akhirnya,
akan kembali kepadanya.

Kau pernah mengejar ekstase
seperti mengejar cahaya yang jatuh dari langit.
Kini engkau tahu:
setiap cahaya menyisakan abu,
dan abunya menempel di napasmu
sepanjang malam.

Ritual gagal.
Bukan karena kurangnya mantra,
melainkan karena tubuh
tak lagi percaya
pada apa pun selain retakan.

Engkau mencoba melupakan,
tapi bahkan lupa pun
memiliki caranya sendiri untuk mengingat.
Ia mengintai dari balik kelopak mata,
menunggu kau lengah
agar bisa merayap masuk
dan menduduki detak jantungmu.

Pada akhirnya,
semua suara yang kau puja
kembali padamu—
bukan sebagai wahyu,
melainkan sebagai sunyi
yang tak bisa kaubunuh.

Sunyi itu berdiri di ambang pintu,
mengangkat wajahnya perlahan,
dan kau melihat dirimu sendiri
di dalam retakannya.

Tidak ada ekstase.
Tidak ada penebusan.
Hanya tubuh
yang menua di hadapan gelap.
Dan gelap
yang sabar menunggu
kau berhenti melawan.

Desember 2025.”
Titon Rahmawan