Maut Quotes

Quotes tagged as "maut" Showing 1-17 of 17
Remy Sylado
“Kelak ia sadar, bahwa perasaan takut terhadap maut, berarti berani terhadap hidup.”
Remy Sylado, Kembang Jepun

Pramoedya Ananta Toer
“Di balik setiap kehormatan mengintip kebinasaan. Di balik hidup adalah maut. Di balik persatuan adalah perpecahan. Di balik sembah adalah umpat. Maka jalan keselamatan adalah jalan tengah. Jangan terima kehormatan atau kebinasaan sepenuhnya. Jalan tengah—jalan ke arah kelestarian.”
Pramoedya Ananta Toer, Jejak Langkah

Yann Martel
“Kematian selalu membuntuti Kehidupan dengan begitu dekat, bukanlah karena keharusan biologis, melainkan karena rasa iri. Kehidupan ini begitu indah, sehingga maut pun jatuh cinta padanya. Cinta yang pencemburu dan posesif, yang menyambar apapun yang bisa diambilnya”
Yann Martel, Life of Pi

Nukila Amal
“Seperti manusia, kelak berakhir sendiri dalam maut yang sangat pribadi. Kesendirian tak pernah menakutkanmu, kau lebih takut pada ketiadaan kata berpisah.”
Nukila Amal, Cala Ibi

Titon Rahmawan
“Dia adalah segalanya bagiku. Apa pun yang datang darinya adalah satu satunya sumber kebahagiaanku. Tak ada yang dapat merenggutnya dariku. Bahkan maut sekalipun tak akan mampu memisahkan jiwa kami.

- Harsimran Tapasvi, Tawanan Kepedihan”
Titon Rahmawan

Rick Riordan
“Thanatos sering kali salah dikira sebagai Dewa Cinta. Persamaan Maut dengan Cinta lebih banyak daripada yang mungkin kalian bayangkan.”
Rick Riordan, The Son of Neptune

Rick Riordan
“Maut tak mengenal keadilan.”
Rick Riordan, The Son of Neptune

Rick Riordan
“Persamaan Maut dengan Cinta lebih banyak daripada yang mungkin kalian bayangkan.”
Rick Riordan, The Son of Neptune
tags: cinta, maut

Yusi Avianto Pareanom
“Maut tak perlu digoda sedemikian intim”
Yusi Avianto Pareanom, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi
tags: death, maut

Rosli K. Matari
“Di sekeliling kami, langit yang sudah semakin gelap. Di celah-celahnya, tersembunyi maut yang sedang menyeringai taring, berkuku panjang tajam.

(Arah Yang Tidak Pernah Ada)”
Rosli K. Matari, Tidakkah Kita Berada Di Sana?

Rosli K. Matari
“Aku selalu ingat juga
pada daun kering,
hidup ini tidak panjang
bagai sependek ranting,
dan aku akan mati.

(Tiada Suatu Yang Kecil)”
Rosli K. Matari, Tidakkah Kita Berada Di Sana?

Rosli K. Matari
“usia cepat pergi, hilang seperti bayang
meninggalkan kenangan, sayup-sayup di belakang.

(Tangga dan Keladi)”
Rosli K. Matari, Anak Dusun

“Ciumlah bau maut setiap detik dan masa, kerana ia adalah sedekat-dekat perkara ghaib yang ditunggu. Sediakanlah dirimu untuk menemuinya, kerana dalam banyak hal maut itu akan datang menyambarmu.”
عبد الله بن علوي بن حداد الشافعي, Penuntun Hidup Bahagia

Rosli K. Matari
“Sekian lama,
aku sering lupa pada
jalan yang tidak akan berkelok,
tidak akan bersimpang lagi,
Terus lurus ke kubur,
di sanalah aku akan berhenti.

(Ke Mana Aku Akan Pergi)”
Rosli K. Matari, Matahari Itu Jauh

Titon Rahmawan
“Kenyataan itu membuatku semakin menyadari, betapa seringkali hidup menjadi begitu sia sia hanya karena kita tak mampu lagi memaknai arti dari kehidupan itu sendiri. Mengapa bagi sebagian besar orang maut menjadi terasa begitu menakutkan? Mengapa maut begitu menggigit? Sebagaimana bunyi petikan puisi Chairil: Sepi, yang tambah ini menanti jadi mencekik, memberat mencekung punda, sampai binasa segala* (Chairil Anwar - Yang Terampas Dan Yang Putus).

Maut menjadi sangat menakutkan karena seolah dia akan menjadi batas dari apa yang fana dan apa yang abadi. Sebuah ruang di balik pintu rahasia yang tidak pernah kita ketahui. Apa yang tersembunyi di balik pintu yang penuh misteri itu? Apakah penderitaan kita akan berlanjut? Ataukah penderitaan itu akan berakhir dengan kebahagiaan? Apakah keberadaan kita selanjutnya dapat kita rasakan kembali sebagai sesuatu yang nyata atau bahkan sebaliknya menjadi semakin kabur? Sekabur khayalan dan juga mimpi. Bagaimana kita bisa mendasarkan penilaian kita pada sebuah prekognisi? Pada kondisi yang tidak kita kenal atau tidak kita ketahui. Hanya mungkin berdasar asumsi, prediksi, ramalan, nubuat, atau gambaran gambaran yang berada di luar pemahaman kemampuan inderawi kamanusiaan kita yang terbatas.”
Titon Rahmawan

Rosli K. Matari
“Daripada sawang, terbiar
aku belajar mengerti
hidup ini berakhir
di hujung sepi.

(Tiada Suatu Yang Kecil)”
Rosli K. Matari, Tidakkah Kita Berada Di Sana?

Darma Mohammad
“Dibuka pintu langit
cukup luas rahmat Dia.
Dibuka pintu tanah
sekadar muat jasad engkau.”
Darma Mohammad, Langit Membuka Lipatan