fara > fara's Quotes

Showing 1-22 of 22
sort by

  • #1
    Yusi Avianto Pareanom
    “Menulislah, agar hidupmu tak seperti hewan ternak, sekadar makan dan minum sebelum disembelih," kata Loki Tua waktu itu.”
    Yusi Avianto Pareanom, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi

  • #2
    Dee Lestari
    “Semua perjalanan hidup adalah sinema. Bahkan lebih mengerikan. Darah adalah darah, dan tangis adalah tangis. Tak ada pemeran pengganti yang akan menanggung sakitmu.”
    Dee, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh
    tags: life

  • #3
    “Tumbuh dewasa rasanya seperti itu. Waktu masih kecil, semua orang perhatian. Tapi, begitu dewasa, sedikit demi sedikit, kamu hilang dari pandangan.”
    Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, Jakarta Sebelum Pagi

  • #4
    Oka Rusmini
    “Kelak, kalau kau jatuh cinta pada seorang laki-laki, kau harus mengumpulkan beratus-ratus pertanyaan yang harus kausimpan. Jangan pernah ada orang lain tahu bahwa kau sedang menguji dirimu apakah kau memilki cinta yang sesungguhnya atau sebaliknya. Bila kau bisa menjawab beratus-ratus pertanyaan itu, kau mulai memasuki tahap berikutnya. Apa untungnya laki-laki itu untukmu? Kau harus berani menjawabnya. Kau harus yakin dengan kesimpulan-kesimpulan yang kaumunculkan sendiri. Setelah itu, endapkan! Biarkan jawaban-jawaban dari ratusan pertanyaanmu itu menguasai otakmu. Jangan pernah menikah hanya karena kebutuhan atau dipaksa oleh sistem. Menikahlah kau dengan laki-laki yang mampu memberimu ketenangan, cinta, dan kasih. Yakinkan dirimu bahwa kau memang memerlukan laki-laki itu dalam hidupmu. Kalau kau tak yakin, jangan coba-coba mengambil risiko.”
    Oka Rusmini, Tarian Bumi

  • #5
    Soe Hok Gie
    “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”
    Soe Hok Gie

  • #5
    Danarto
    “Jika agama kalian merupakan rahmat bagi alam semesta, kalian bisa menggunakannya sebagai senjata untuk menyejahterakan orang lain. Jika orang lain selamat, selamatlah alam semesta.”
    Danarto, Asmaraloka

  • #6
    Putu Wijaya
    “Di zaman edan ini, siapa yang tidak frustrasi? Kalau kamu ikutkan perasaanmu, kamu akan gila. Tetapi, semua orang memang sudah gila. Kamu tidak akan menjadi istimewa karena menjadi gila.”
    Putu Wijaya, Klop

  • #8
    Ratih Kumala
    “...mereka menuduh Genjer-Genjer menjadi lagu 'lekra'. Padahal itu hanyalah makanan rakyat, hingga sekarang pun bisa kau dapatkan di pasar...”
    Ratih Kumala, Larutan Senja

  • #9
    Ahmad Tohari
    “Mereka mengira dengan melampiaskan dendam maka urusannya selesai. Nah, mereka keliru. Dengan cara itu bahkan mereka memulai urusan baru yang panjang dan lebih genting. Di dunia ini, Nak, tidak ada sesuatu yang berdiri sendiri. Tak suatu upaya apa pun yang bisa bebas dari akibat. Upaya baik berakibat baik, upaya buruk berakibat buruk.”
    Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk

  • #10
    Ayu Utami
    “Dunia ini penuh dengan orang jahat yang tidak dihukum. Mereka berkeliaran. Sebagian karena tidak tertangkap, sebagian lagi memang dilindungi, tak tersentuh hukum, atau aparat.”
    Ayu Utami, Saman

  • #11
    Ayu Utami
    “Tapi mencari suami memang seperti melihat toko perabot untuk setelan meja makan yang pas buat ruangan dan keuangan. Kita datang dengan sejumlah syarat geometri dan bujet. Sedangkan kekasih muncul seperti sebuah lukisan yang tiba-tiba membuat kita jatuh hati. Kita ingin mendapatkannya, dan mengubah seluruh desain kamar agar turut padanya. Laila selalu jatuh cinta pada lukisan, bukan meja makan.”
    Ayu Utami, Saman

  • #12
    “Mereka harus menerima kenyataan, bahwa untuk menjadi cerdas, mereka membutuhkan uang. Sopir angkot hanya mau mengantar ke sekolah bila dikasih uang. Guru-guru pun hanya mau mengajar jika dikasih uang.

    Namun uang tidak gampang dicari. Hanya daun yang gampang dicari. Dan hanya sapi, di kandang karantina itu, yang mau dikasih daun.”
    Felix K. Nesi, Orang-Orang Oetimu

  • #13
    Multatuli
    “Kurasa ini menjadi alasan mengapa penyair romansa pada umumnya menjadikan pahlawan mereka sebagai setan atau malaikat. Hitam dan putih mudah digambarkan, tapi jauh lebih sulit menghasilkan variasi di antara kedua ekstrem ini, ketika kejujuran harus dihargai, dan kedua sisinya tidak berwarna terlalu gelap atau terlalu terang.”
    Multatuli, Max Havelaar, or the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company

  • #14
    Seno Gumira Ajidarma
    “Saya berasal dari sebuah negeri yang resminya sudah bebas buta huruf, namun yang dipastikan masyarakatnya sebagian besar belum membaca secara benar—yakni membaca untuk memberi makna dan meningkatkan nilai kehidupannya. Negara kami adalah masyarakat yang membaca hanya untuk mencari alamat, membaca untuk harga-harga, membaca untuk melihat lowongan pekerjaan, membaca untuk menengok hasil pertandingan sepak bola, membaca karena ingin tahu berapa persen discount obral di pusat perbelanjaan, dan akhirnya membaca subtitle opera sabun di televisi untuk mendapatkan sekadar hiburan.”
    Seno Gumira Ajidarma, Trilogi Insiden

  • #15
    Dian Purnomo
    “Perkawinan jangan sampai menghentikan cita-cita. Justru berdua Nona punya langkah bisa semakin cepat berlari. Ingat, baik dinikmati bersama, buruk diselesaikan bersama.

    Rato Lango”
    Dian Purnomo, Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam

  • #15
    Ahmad Tohari
    “Ya. Sembahyang adalah kewajiban yang datang dari Tuhan untuk setiap pribadi yang percaya. Ya. Kewajiban sembahyang tidak datang dari seseorang untuk orang lainnya. Maka secara pribadi aku tak berani mewajibkan apa-apa kepada orang lain karena aku juga tak mungkin memberinya pahala, tak pula berhak menghukumnya. Lalu bagaimana dengan si Suyud yang seakan-akan mau mewajibkan suatu yang jadi hak Allah, yaitu sembahyang, kepada orang lain?

    Kiai Ngumar.”
    Ahmad Tohari, Lingkar Tanah Lingkar Air

  • #17
    “Semakin tua, orang akan menjadi semakin munafik, karena orang itu tahu banyak hal. Karena tahu banyak hal, maka ia akan takut banyak hal pula. Karena takut, ia akan ringan berbohong, mudah berubah, dan pandai beralasan.”
    Ramayda Akmal, Jatisaba

  • #18
    Sabda Armandio
    “Kita ini sangat ingin dibilang orang kota, sampai-sampai kita lupa, kampungan memiliki makna yang romantis. Dan si orang kota ini terus menerus mengeluh soal betapa buruknya tata kota, kemacetan, dan membanding-bandingkan keadaan dulu dengan sekarang. Lalu mereka dengan tak tahu diri memuja-muja harum tanah basah, mencari udara segar ke hutan, memotret langit senja di gunung atau matahari terbenam di laut, tapi nggak ada yang mau hidup di kampung atau merubuhkan kota mereka dan menjadikannya kampung lagi. Mereka takut kehilangan kemapanan yang mereka bangun untuk menunjang hidup enak dan praktis. Yang bisa mereka lakukan hanya mengkhayal tentang kehidupan desa sambil minum kopi.”
    Sabda Armandio, Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya

  • #19
    Sabda Armandio
    “Keramaian adalah dengung yang semakin didengarkan justru membuatmu kesepian. Orang-orang terus bicara; berbagai jenis suara berlintasan hingga telingamu penuh tetapi kepalamu kosong. Tidak mengerti apa-apa, bukan bagian dari apa-apa.”
    Sabda Armandio, Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya

  • #20
    Nukila Amal
    “Ada ruang kosong di sela-sela sebuah kata. Ada banyak omong kosong di sela-sela bicara--tapi perlu. Adalah percakapan dengan teman yang selalu bisa menjaga kewarasan, menyelamatkanku dari jemu sempurna. Di tengah carut-marut fungsi mekanistik otomatik hampir robotik sebuah industri yang menyelubungi diri dengan judul keramah-tamahan manusia, ada teman-teman--manusia yang hidup dan dekat.”
    Nukila Amal, Cala Ibi

  • #21
    Pramoedya Ananta Toer
    “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
    Pramoedya Ananta Toer

  • #22
    “Kadang-kadang, orang membaca buku supaya dikira pintar. Lalu mereka membaca buku sastra terkenal, buku yang mendapat penghargaan. Dan, meskipun mereka ngga menyukainya, mereka bilang sebaliknya karena ingin dianggap bisa memahami sastrawan kelas atas. Ini adalah hal bodoh. Jangan pernah membaca karena ingin dianggap pintar; bacalah karena kamu mau membaca, dan dengan sendirinya kamu akan jadi pintar.”
    Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, Jakarta Sebelum Pagi



Rss