Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam Quotes
Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
by
Dian Purnomo3,700 ratings, 4.59 average rating, 990 reviews
Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam Quotes
Showing 1-12 of 12
“Tangisnya kepada bulan hitam adalah tangis perempuan yang tubuhnya masih menjadi properti laki-laki. Kisah perempuan lain masih mungkin akan diukir dengan tinta darah, selama pendewaan terhadap adat mengalahkan logika dan kemanusiaan.”
― Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
― Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
“Seharusnya kamu tidak lagi berpikir bahwa perempuan dan laki-laki itu berbeda. Apa yang bisa dilakukan laki-laki, bisa dilakukan perempuan, begitu juga sebaliknya. Hanya satu yang kami tidak bisa, melahirkan dan menyusui.
Om Vincen”
― Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
Om Vincen”
― Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
“Perkawinan jangan sampai menghentikan cita-cita. Justru berdua Nona punya langkah bisa semakin cepat berlari. Ingat, baik dinikmati bersama, buruk diselesaikan bersama.
Rato Lango”
― Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
Rato Lango”
― Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
“Menyerah pada paksaan sama dengan membiarkan kemerdekaan dirampas, membiarkan tubuh dimiliki orang lain dan diperkosa setiap hari.”
― Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
― Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
“Semakin dekat seseorang tinggal dengan kita, justru sering kali semakin jauh hatinya.”
― Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
― Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
“Perpisahan dan pertemuan adalah penanda saja. Sering kali peristiwa yang terjadi di antaranya yang meninggalkan goresan lebih dalam sampai ke dasar hati.”
― Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
― Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
“Semakin kita menggantungkan hidup kepada orang lain, maka semakin susah kita keluar dari lingkaran kekerasan itu.
Wangi”
― Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
Wangi”
― Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
“Berhenti membuat kami merasa seperti barang, yang bisa ditukar dengan hewan, yang dihargai hanya karena kami pung rahim.
Magi Diela”
― Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
Magi Diela”
― Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
“Kematian adalah kepastian, ada yang membiarkan kedatangannya menjadi misteri, ada yang menjemputnya dengan paksa.”
― Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
― Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
“Sudah terlalu mengerikan penderitaan kita perempuan di sini. Mungkin tidak semuanya seperti itu, saya yakin ada juga suami atau laki-laki yang baik dan lembut. Tetapi dari cerita tadi, rasanya kita memang terlalu jarang mendengar cerita laki-laki baik dan lembut itu di sini ya?”
― Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
― Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
“Jangan marah yo, Magi...? Jadi dia harus apa? Bersyukur, berterima kasih kepada semesta dan Leba Ali karena sudah merenggut keperawanan dan kemerdekaannya? Tersenyum kepada keluarga yang tak membelanya? Sujud sembah kepada calon suami yang mata keranjang? Merayakan penjara seumur hidupnya?
Kehidupan macam apa ini?”
― Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
Kehidupan macam apa ini?”
― Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
“Tidak habis pikir dia membayangkan bagaimana seorang yang dilahirkan oleh perempuan tega menyakiti perempuan. Tidakkah mereka membayangkan jika anak-anak perempuan mereka diperlakukan serupa?”
― Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
― Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
