Novella Dwisri > Novella's Quotes

Showing 1-30 of 64
« previous 1 3
sort by

  • #1
    Arswendo Atmowiloto
    “Ada yang mengatakan saya ini gila menulis. Ini mendekati benar, karena kalau tidak menulis saya pastilah gila, dan karena gila makanya saya menulis.”
    Arswendo Atmowiloto, Dua Ibu

  • #2
    Dee Lestari
    “aku gak mau sepuluh, dua puluh tahun dari hari ini, aku masih terus-terusan memikirkan orang yg sama. bingung di antara penyesalan dan penerimaan.”
    Dee, Perahu Kertas

  • #3
    Dee Lestari
    “Karena hati tak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh”
    Dee, Perahu Kertas

  • #4
    Leila S. Chudori
    “Aku tak ingin berakhir seperti mereka, saling mencintai. Lantas kehilangan dan kini mereka hanya mengenang dan merenung dari jauh.”
    Leila S. Chudori, Pulang

  • #5
    Dwitasari
    “Apa yang lebih sakit daripada ditinggalkan seseorang yang paling kau sayangi? Tentu saja ada. Ada yang lebih sakit daripada itu. Mencintai seseorang yang begitu dekat, tapi cinta yang selalu bertumbuh itu tak pernah menyentuh dan menjamah.”
    Dwitasari, Jatuh Cinta Diam-Diam

  • #6
    Dee Lestari
    “Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan kumiliki keutuhannya. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan. Seseorang yang selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai ia berbalik niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa. -Hanya Isyarat, Rectoverso - Dee-”
    Dewi Lestari

  • #7
    Dee Lestari
    “Hidup tak pernah berakhir mati. Hidup hanya berganti wujud. Dan sepanjang perjalanan hidup, kau dan aku, kita semua, hanya berjalan menembusi satu tabir itu saja. -Rimba Amniotik-”
    Dewi Lestari

  • #8
    Dee Lestari
    “Tak ada yang lebih menyakitkan dari kepedihan yang tak bisa ditangiskan.”
    Dewi Lestari

  • #9
    Laksmi Pamuntjak
    “Ketika bicara menunggu, itu bukan tentang berapa jam, hari dan bulan.
    Kita bicara tentang titik di mana kita akhirnya memutuskan untuk percaya”
    Laksmi Pamuntjak, Amba

  • #10
    Laksmi Pamuntjak
    “Dalam hidup ada saat-saat ketika masa depan dengan cepat diucapkan, justru karena yang sepenuhnya berkuasa adalah masa kini”
    Laksmi Pamuntjak, Amba

  • #11
    Laksmi Pamuntjak
    “Aneh, memang: selalu ada yang membuat terlena dan tak berdaya pada hujan, pada rintik dan aromanya, pada bunyi dan melankolinya, pada caranya yang pelan sekaligus brutal dalam memetik kenangan yang tak diinginkan.”
    Laksmi Pamuntjak, Amba

  • #12
    Laksmi Pamuntjak
    “Kesetiaan selalu dikhianati, atau ia menanti selamanya untuk sesuatu yang tak pernah dimikili”
    Laksmi Pamuntjak, Amba

  • #13
    Laksmi Pamuntjak
    “Apakah yang dikatakan oleh kesedihan kepada matamu, yang membatalkan semua yang indah dari kehidupan?”
    Laksmi Pamuntjak, Amba

  • #14
    Laksmi Pamuntjak
    “Suami dan istri tak harus serta merta sahabat. Cinta adalah cinta, bukan pengorbanan. Perasaan adalah untuk ditolak atau dibunuh, tidak untuk dilekaskan, apalagi untuk dibiarkan mengalir. Lagipula, begitu Ibu mengikatkan diri pada Bapak, ia menunggu kapan seseorang tak hanya menggunakan perasaan, tapi juga otaknya. Ia tak pernah sekalipun, dalam proses ini, kehilangan kesabarannya. Lalu ia memilih.”
    Laksmi Pamuntjak

  • #15
    Laksmi Pamuntjak
    “Perempuan jangan selalu merasa dirinya harus mengorbankan dirinya kepada laki-laki dengan gampang”
    Laksmi Pamuntjak, Amba

  • #16
    Laksmi Pamuntjak
    “Nggak ada yang lebih menyedihkan di dunia ini, daripada permintaan maaf yang nggak pada tempatnya.”
    Laksmi Pamuntjak, Amba

  • #17
    Laksmi Pamuntjak
    “Seorang lelaki harus dibikin jatuh cinta selamanya pada seorang perempuan agar ia tak pergi”
    Laksmi Pamuntjak, Amba

  • #18
    Laksmi Pamuntjak
    “Mendidik diri untuk menjaga jarak dengan orang lain, dan juga untuk menjaga jarak dengan kata-kata yang sewaktu-waktu bisa berkhianat.”
    Laksmi Pamuntjak, Amba

  • #19
    Remy Sylado
    “Lebih baik bertengkar karena cinta
    daripada diam kesepian menanggung benci
    Sebab, hidup dengan seseorang yang dicinta
    memang tidak sunyi dari sakit di raga
    tapi, hidup tanpa seseorang yang mencinta
    membuat orang mengundang rasa sakit di jiwa”
    Remy Sylado, 9 Oktober 1740: Drama Sejarah

  • #20
    Remy Sylado
    “Kelak ia sadar, bahwa perasaan takut terhadap maut, berarti berani terhadap hidup.”
    Remy Sylado, Kembang Jepun

  • #21
    Remy Sylado
    “Tampaknya hanya buku yang paling pantas diceritakan dengan bangga oleh manusia beradab, bukan BMW, Mercedes, ataupun Volvo. Apabila ada manusia di zaman sekarang yang menyebut dirinya modern tetapi tidak mengindahkan buku, memilikinya, dan membacanya, maka dengan demikian manusia tersebut telah mengambil inisiatif menjadikan dirinya sebagai hewan.”
    Remy Sylado

  • #22
    Remy Sylado
    “...bahwa dunia tempatnya berdiri tidak hanya hitam dan putih. Ada banyak warna di atasnya. Sementara warna-warna pun bisa berubah nama, bergantung pada kekuatan di luarnya yang memegang pengesahan.”
    Remy Sylado, Ca-bau-kan: Hanya sebuah dosa

  • #23
    Remy Sylado
    “Kata Lintjens, "Meis, jangan memarahi Tuhan dalam kesusahanmu. Kau toh tidak bertanya di mana Tuhan ketika kau merasa senang".”
    Remy Sylado

  • #24
    Remy Sylado
    “Berpuisi merupakan suatu kepandaian manusia memanfaatkan imaji ke dalam tantangan kreatif merangkai kata-kata terpilih dan membangunnya menjadi seni.”
    Remy Sylado

  • #25
    Remy Sylado
    “Agaknya sang waktulah yang paling perkasa dalam kehidupan. Ia tak tersaing,Tak pernah mengeluh. Tak pernah juga merasa takut. Sementara manusia -saya dan anda- berlanjut usia, berlanjut pula tulahnya.”
    Remy Sylado, Kembang Jepun

  • #26
    Remy Sylado
    “Bicara soal kekuatan Tarjdo, tidak gampang kalau rakyatmu miskin. Rakyatmu harus punya makan yang cukup dulu, punya pakaian, dan yang paling penting bebas buta huruf. Ini yang membedakan manusia dengan binatang. Sebab, kalau cuma makan, binatang juga bisa makan. Lantas, kalau cuma pakaian, binatang juga punya bulu. Buku, bisa membaca, itulah yang membuktikan manusia punya kebanggaan, punya kebudayaan, punya peradaban.”
    Remy Sylado, Ca-bau-kan: Hanya sebuah dosa

  • #27
    Remy Sylado
    “Soalnya, di mana masalah dihayati, di situ masalah lain berkembang. Itu hidup.”
    Remy Sylado, Hotel Pro Deo

  • #28
    Asma Nadia
    “Di setiap udara yang kau temukan, Di sana akan kau jumpai Allah yang senantiasa mendengar doamu”
    Asma Nadia
    tags: doa

  • #29
    Helvy Tiana Rosa
    “You are what you write.”
    Helvy Tiana Rosa, Risalah Cinta

  • #30
    Dwitasari
    “Pertanyaan "Kapan pulang?" sebenarnya adalah isyarat kekhawatiran yang tersimpan di sudut hati seseorang. "Kapan pulang?" adalah pertanyaan sederhana untuk mengetahui kapan sebuah pertemuan akan mengakhiri jurang perpisahan. "Kapan pulang?" merupakan kepastian, bahwa perpisahan yang terjadi hanyalah sementara, bukan berlama-lama ataupun berabad-abad. -Mama kepada Bianca-”
    Dwitasari, Raksasa dari Jogja



Rss
« previous 1 3