Rhein Fathia's Blog

August 24, 2018

Persiapan: Trans-Mongolia & Trans-Siberia Railway

Sejak mendapat informasi tentang kereta ini kurang lebih tiga tahun lalu, Trans-Siberia menjadi salah satu obsesi saya dalam hal traveling. Menyusuri Russia melalui jalur darat dan 'tinggal' di dalam kereta selama beberapa hari sembari melihat pemandangan di sepanjang perjalanan sepertinya bakal menyenangkan (dan agak mati gaya, mungkin). Kemudian saat tinggal di Australia bertemu banyak traveler dari beragam negara, hey, ternyata mereka pun menjadikan jalur kereta ini sebagai 'bucketlist'. So, patut dicoba dong! 
Setelah mencari info sana-sini, menabung (ini wajib, biaya lebih mahal daripada traveling pakai pesawat, cuy!), mengajak orang-orang join, akhirnya persiapan untuk perjalanan ini udah 80%. Baru persiapan ini lho, ya. Belum berangkat.
Sekilas info: Ada tiga jalur kereta yang dikenal menghubungkan benua Asia dan Eropa ini. Trans-Manchurian, menghubungkan China dan Russia. Trans-Mongolian, menghubungkan China, Mongolia, dan Russia. Trans-Siberian, hanya ada di Russia dari Vladivostok hingga Moscow. Karena kami agak maruk, tentu ingin sekalian lewat banyak negara, dong. Dipilihlah Trans-Mongolia dan Trans-Siberia. Ibarat pepatah, "Sekali 'jugijagijugijagijug' dua-tiga negara terlampaui". 
Di sini saya akan coba jelaskan sedikit persiapan yang sudah dilakukan. Pertama adalah membaca buku. I'm an oldschool person yang masih lebih percaya buku dan menjadikan internet sebagai sumber informasi tambahan. Ketahuilah dengan banyaknya website mengenai jalur kereta ini, sangat membingungkan pada awalnya bagaimana dan di mana saya harus beli tiket keretanya?? Yang terpercaya, bukan scam, dll? Informasi lengkap ada di buku ini. 
Kedua, menentukan rute. Perjalanan akan menempuh 6 zona waktu, 3 negara, 2 benua, dan pastinya puluhan kota. Setelah mempertimbangkan jadwal kereta, akses perjalanan, atraksi serta tempat wisata di tiap kota, dan JATAH CUTI (habiskan!), maka diputuskan trip kereta ini akan memakan waktu 20 hari dan berhenti di 4 kota. Kok dikit amat singgahnya? Ya karena niat awal pengin merasakan pengalaman naik keretanya, sih. Kami akan singgah di Beijing, Ulaanbaatar, Irkutsk, dan Moscow. 
Ketiga, membeli tiket. Ada tiga rute kereta yang akan membawa kami dalam perjalanan kali ini. 
Beijing-Ulaanbatar: Train no. 23. Beli di cits.netUlaanbatar-Irkutsk: Train no. 305. Beli di railwaymongolia.comIrkutsk-Moscow: Train no. 001. Beli di eng.rzd.ru
Patut diketahui bahwa tidak semua kereta ada jadwal keberangkatan tiap hari. Pembelian tiket dan menentukan rute ini agak-agak tricky, harus detail sampai ke jam-menitnya. Selain tiket kereta, kami juga membeli tiket pesawat dari Jakarta ke Beijing dan dari Moscow ke Jakarta.
Keempat, booking akomodasi. Singgah di 4 kota, tentu bookingnya 4 penginapan. Di Beijing, Irkutsk, dan Moscow, kami menggunakan website booking.com. Untuk persyaratan visa Russia, semua akomomodasi sudah dibayar lunas dan ada bukti tanda lunas. Untuk hotel di Beijing, booking yang bisa dicancel. Akomodasi di Ulaanbatar, kami booking melalui website resmi zayahostel.com sekalian minta mereka membuatkan invitation letter. 
Kelima, membuat invitation letter. Mari terima nasib saja kalau paspor Indonesia emang perlu hal-hal seperti ini agar mendapat visa ke beberapa negara. Mongolia mensyaratkan invitation letter bagi pengunjung dari Indonesia (adik saya tinggal dan kerja di Singapura, paspor Indonesia, tidak perlu invitation untuk apply visa Mongolia). Surat sakti ini dibuat pihak Zayahostel yang dikirim oleh mereka langsung ke Konsulat Mongolia di Indonesia (bukan dikirim ke kami). Setelah surat sakti diterima Konsulat, pihak Zayahostel menghubungi kami kalau sudah boleh apply visa. Kemudian, invitation letter untuk ke Russia wajib bagi semua paspor Indonesia (adik saya yang di Singapura juga perlu ini). Pembuatan invitation letter Russia ini bisa melalui beberapa website, meski tidak semua website mau membuat invitation letter untuk manusia paspor Indonesia (hmmm... -_-). Kami mengajukan invitation letter di website bronevik.com. Proses mudah dan cepat, surat sakti dikirim ke email dalam waktu kurang dari 24 jam. 
Keenam, mengajukan visa ke 3 negara; China, Mongolia, Russia. Proses dan syarat pengajuan visa sudah saya tulis di postingan ini.
Berapa lama proses semua persiapan ini? FYI, kami bukan orang kaya, jadi semua biaya pribadi ini dari hasil nabung menjadi buruh pegawai selama lebih dari setahun. Mulai baca-baca buku sejak awal tahun 2018. Kemudian booking-booking tiket sejak 3 bulan sebelum hari H keberangkatan. Oiya, ini data kurang lebih biaya yang sudah kami keluarkan. Lagi apes karena dollar naik. Hahaha.. Ingat, ini hanya biaya persiapan. Kalau ada yang mikir mahal, karena kami cuma punya waktu fix yang mepet jadi susah cari-cari harga promo. Selain itu, kami juga mencari akomodasi yang nyaman karena perjalanan darat ini dikhawatirkan akan melelahkan.  Bagi yang ingin info harian selama perjalanan, silakan follow instagram @rheinfathia yaaa.. 
See you! 
Tuut--Tuut--!!
Love is real, real is love. -John Lennon-
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on August 24, 2018 03:44

August 17, 2018

Mengajukan Visa China, Mongolia, dan Rusia 2018 (sekaligus)

Akhir bulan ini saya berencana melakukan perjalanan jalur kereta Trans-Mongolia dan Trans-Siberia. Jadi, sejak dua bulan lalu lumayan pegel ngurus visa 3 negara (China, Mongolia, Rusia). Alhamdulillah lancar dan issued semua. Kali ini saya mau share persyaratan visa. Perlu diketahui pemirsa bahwa saya bukan agen, semua visa saya ajukan untuk kepentingan pribadi dengan waktu dan harga reguler. 
Visa ChinaSyarat:1. Form aplikasi visa, diisi online, lalu diprint. Web untuk isi form: visaforchina.org2. Pas foto ukuran 48x33 mm (ukuran harus pas) sebanyak 2 lembar. Latar putih bersih. Yang 1 lembar tempel di form aplikasi.3. Passport asli dan 1 lembar fotokopi halaman depan dan belakang (yang ada tanda tangan). Harus udah ditanda tangan, ya.4. Fotokopi reservasi tiket masuk dan keluar China (pesawat dari Jakarta dan tiket kereta menuju Mongolia).5. Fotokopi reservasi hotel (saya order di bookingdotcom yang bisa dicancel).Lama proses 4 hari kerja. Harga IDR 540.000, bisa bayar tunai atau debit BCA.
Visa MongoliaSyarat:1. Passport asli dan 1 lembar fotokopi.2. Form aplikasi visa, print dari website mongolianconsulate.org, lalu isi.3. Pas foto ukuran 3x4 latar putih sebanyak 1 lembar4. Invitation letter. Ini agak ribet ceritanya. Untuk mendapatkan surat ini bisa melalui hotel atau agen perjalanan di Mongolia. Saya menginap di Zaya hostel, lalu minta mereka untuk membuatkan surat ini, yang mereka kirim ke Konsulat Mongolia di Jakarta. Jadi bukan dikirim ke saya. Kemudian pihak Zaya mengabari saya kalau surat tersebut sudah dikirim dan saya baru bisa apply visa. 5. Surat referensi kerja dari kantor.6. Fotokopi reservasi tiket masuk dan keluar Mongolia (tiket kereta dari Beijing dan tiket kereta menuju Irkutsk).7. Fotokopi reservasi hotel (saya order di Zaya hostel dan udah lunas sekalian bayar invitation letter).Lama proses: 7 hari kerja. Harga USD 60 pembayaran tunai, nggak bisa pakai rupiah.
Visa RusiaSyarat:1. Paspor asli dan 1 lembar fotokopi2. Fotokopi reservasi tiket masuk dan keluar Rusia (tiket kereta dari Mongolia dan tiket pesawat ke Jakarta).3. Fotokopi reservasi hotel beserta TANDA BUKTI LUNAS.4. Visa support letter. Saya order di bronevik.com, yang meminta data hotel tempat menginap di Russia. Untuk pengisian tanggal pastikan sesuai dengan tanggal masuk dan keluar Russia. Maksimal 30 hari.5. Form aplikasi visa, diisi online. Pengisian ini harus menyertakan data di dalam visa support letter dan hotel. Jadi pastikan sudah memiliki keduanya sebelum isi form online. Website untuk isi form: visa.kdmid.ru. Diprint ya.6. Pas foto ukuran 3x4 latar belakang putih sebanyak 2 lembar.Lama proses 14 hari kerja. Harga USD 70 pembayaran tunai, bisa pakai rupiah (rate lebih mahal).Note: Berbeda dengan visa lain (yang pernah saya miliki), visa Russia menetapkan tanggal pasti untuk kita tinggal di Russia, sesuai yang tertera di visa support letter. Rencanakan perjalanan ke negara ini dengan pasti. Kita nggak bisa datang sebelum tanggal yang tertera di visa atau pun tinggal melebihi waktu yang ditentukan.
Mengurus visa hanya satu dari sekian drama mempersiapkan perjalanan ini. Belum nanti kalau udah berangkat kali ya. Hahaha.
Love is real, real is love. -John Lennon-
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on August 17, 2018 04:59

August 5, 2018

Pulang: Konsep Indah sebuah Rumah



Saya pernah melihat kucing liar mati. Suatu malam di rumah kosan di Bandung, saya melihat gundukan di tumpukan baju tak terpakai yang ditinggalkan penghuni kos-kosan. Karena curiga, perlahan saya menyibak tumpukan baju tersebut dan melihat seekor kucing tertidur di sana. Refleks tangan saya mengelus kepalanya. Dingin, bulu kering, tulangnya terasa, tidak berbau. Dia mati. Saya tahu jenis 'dingin' dari makhluk hidup yang mati. Bukan dingin seperti es batu, hembusan angin, atau salju. Melainkan jenis dingin yang menyiratkan sepi, hampa, dan pilu. 
Kucing itu tak bertuan dan sebelumnya sering berada di area teras balkon kosan lantai dua. Tempat tidurnya di tumpukan baju-baju bekas. Penghuni kosan sering berbagi sisa makanan dengannya. Malam itu saya menghubungi bapak kos memberi tahu perihal si kucing sembari mengecek kondisinya. Tidak ada luka, kemungkinan besar dia mati karena usia. 
Seminggu yang lalu, kucing saya (nama: Mele) tidak pulang selama empat hari berturut-turut. Dia kucing liar yang  kami kenal lebih dari lima tahun. Sudah dianggap keluarga, meski statusnya tidak boleh bermalam di rumah (karena berisik dan hobi berburu kalau malam). Dia tidak suka dikurung, maka kami bebaskan mau main ke mana pun, tapi selalu ada di kantor dari pagi hingga maghrib. Seringnya menemani saya kerja, merecoki klien yang datang. Pernah beberapa kali dia tidak pulang, biasanya nyangkut di rumah tetangga yang suka ngasih makan (mungkin dia ingin variasi makanan lain). Tapi biasanya tidak lama, pasti kembali ke kantor.
Maka ketika dua hari lalu Mele pulang, dalam keadaan luka pitak berdarah di beberapa bagian tubuhnya, bulu kotor seperti terkena lumpur, pincang, hidung dan mulut tertutup ingus mengering, kurus, dan bau, saya dan ibu kaget. Ini anak kenapa?? Dikasih makan, dia hanya makan sedikit. Biasanya nggak bisa berhenti makan. Perlahan kami membersihkan tubuhnya meski terkadang dia berontak. Kesimpulan awal, dia kalah gelut dengan kucing lain karena untuk ukuran kucing, Mele termasuk tua. 
Melihat Mele tidak napsu makan, apalagi sebelumnya sudah sakit pilek yang nggak sembuh-sembuh (diobatin berontak melulu), saya berinisiatif untuk membawanya ke klinik hewan. Namun saat saya gendong berkali-kali untuk masuk kandang, dia malah marah. Saat itulah saya melihat darah bercampur nanah mengucur dari tubuhnya. Tiap kali dia melangkah, darah di mana-mana. Saya dan ibu panik, kondisi Mele sudah di luar batas wajar kucing sakit. Saya segera menelepon klinik langganan dan minta perawat menjemput.
Mele kucing jantan, badannya termasuk besar dan berat untuk ukuran kucing kampung, plus dia galak pada orang asing. Karyawan lain di kantor yang semuanya lelaki nggak ada yang berani sama dia. Maka di klinik, saat akan tindakan pengobatan (mungkin operasi versi kucing), perlu 5 orang untuk memegang satu kucing yang kesakitan tapi berontak galak ini. Di tubuhnya ada luka abses, kulitnya sudah bolong 2 bernanah, belum termasuk luka cakaran dan pitak di bagian lain, ingusnya pun berdarah. Saya nggak tega liatnya. Udah sejak di kantor mata saya berkaca-kaca.
Sekarang dia masih dirawat inap di klinik dengan kondisi luka membaik meski napsu makan masih rendah, perlu disuapi. Kata dokter dan perawat, kemungkinan Mele tidak ada asupan makanan sejak dia hilang karena tubuhnya dehidrasi saat awal diperiksa. Mele juga sudah tidak ada keinginan grooming makanya badannya bau, padahal biasanya dia bersih banget. Luka abses kemungkinan sudah ada sejak sebulan lalu tapi tidak ketahuan. Kemudian perawat bilang, "Hebat, dia masih ingat pulang."
Ada perasaan bersyukur Mele pulang. Mungkin kucing pun punya insting tentang konsep rumah, orang-orang yang sayang dia, tempat dia merasa nyaman. Meski galak, mungkin Mele tahu ada manusia yang akan berada di pihaknya dalam kondisi apa pun. Home, a wonderful concept for a lucky living creature.  
Sering ada yang bilang, nggak ada yang pernah liat kucing liar mati atau bangkai kucing kecuali yang ketabrak. Karena ketika akan mati, kucing liar akan pergi, sembunyi, dan mati dalam sepi. Seperti kucing yang saya temukan di kosan. Saya berpikir kalau Mele tidak bisa pulang dua hari lalu, mungkin kami tidak akan melihatnya lagi selamanya. We love him. I love him so much. Dia sudah tua dan saya tidak berharap dia akan kembali lincah lucu seperti saat kami pertama kali bertemu dulu. He's a family. We never dump a family, aren't we? Saya ingin berusaha memberi rasa sayang dan peduli pada Mele sesuai yang saya mampu selagi bisa. 
Jika Mele masih mengingat kami dan berjuang untuk pulang, tentu kami pun akan berusaha agar dia pulih dan sehat.  get well soon, sweetheart.Love is real, real is love. -John Lennon-
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on August 05, 2018 05:22

July 25, 2018

Learn to Rest


Mengawali sabtu pagi nan cerah dengan secangkir kopi seperti biasa, saya senang karena bisa ambil libur. Weekend nggak sibuk adalah hal yang jarang terjadi di kantor. Saya mulai berencana weekend kali ini akan kemana. Coffee shop kah? Toko buku? Belanja skin care? Mall? Belum juga jam makan siang, kepala tiba-tiba berat dan badan demam. Kemudian saya tertidur sampai sore. Wtf.
Sebagai manusia yang selalu ingin sok produktif, I tried to do something active even it's in a day off. Entah ikut workshop apa, baca buku dan nulis ringkasannya, belajar sesuatu, bikin video lagu ala-ala, apa pun lah. Tanpa ada rencana, biasanya saya jarang ambil libur kantor. Kalau sakit, biasanya ada gejala dan saya sudah ambil istirahat sebelum terlalu parah. Lah weekend kemarin kok badan saya gitu. Sabtu malam lebih parah lagi, meski sudah minum parasetamol, semalaman susah tidur parah, kadang kedinginan kadang gerah luar biasa. Hari minggu, sudah jelas berangkat ke dokter. 
Urusan bedrest berlanjut sampai hari Selasa. Saya ngapain aja? Makan, tidur, minum obat, dan nonton Korea. Iyah, seumur-umur akhirnya saya merasakan yang namanya seharian nonton drama Korea. Tak lupa juga membahasnya bareng Angie yang entah kesambet apaan jadi nonton Korea juga. Ya Tuhan, nikmat tapi ada rasa bersalah karena tidak produktif. Belum lagi nontonnya sambil order delivery pizza, mujigae, atau french fries. Hahaha.. Untunglah berat badan saya masih tetap termasuk solehah menurut salah seorang ustad sosme. #halah
Saya termasuk yang sering merasa bersalah sama diri sendiri kalau nggak melakukan aktivitas atau punya rencana harian. Termasuk rasa bersalah kalau nggak olahraga rutin, nggak baca buku, dll. Selama ini merasanya bagus, sih. Tapi sekarang mikir, kalau saya hanya 'menyuapi' psikis agar kenyang akan perasaan "I'm doing good, I'm not wasting my time" tapi melupakan fisik sendiri, kok rasanya nggak adil. Sepertinya badan saya hanya minta malas-malasan sejenak.
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on July 25, 2018 17:55

June 12, 2018

Rentang Cerita: Usia 20-30 Tahun

Tebak Usia? :D
Hari ini ulang tahun saya yang ke 25++. Haha... Konon orang bilang, hidup dimulai sejak usia 30 tahun. Maka kali ini, saya ingin berhenti sejenak, berbalik badan, dan melihat hidup saya saat usia 20an tahun. Konon orang bilang (lagi), usia 20an tahun adalah masa-masanya eksplorasi, waktunya belajar dan membuat banyak kesalahan. Momen petualangan! Saya ingin menuliskan beberapa daftar petualangan apa saja yang sudah dijalani selama kurang lebih 10 tahun ini. 

Kesehatan.
Alhamdulillah sehat. Mengalami berat bada dari yang nggak bisa tembus 50 kilo sampai lebih dari 60 kilo (wth!) dan sekarang stabil antara 54-55 kilo. Olahraga tiga puluh menit setidaknya 5 kali seminggu, makan buah tiap hari, dan tak lupa krim mata, sis! Mari hindari penuaan dini.
Study akademis. Layaknya standar generasi milenial, saya bisa mengecap pendidikan hingga bangku kuliah dan lulus S1 dari Departemen Fisika Universitas Indonesia. Kemudian melanjutkan S2 di Master of Business Administration Institut Teknologi Bandung. Tak lama setelah itu mendapat sertifikat beberapa short-course dari University of Sydney.
'Menonton' diri saya yang rela begadang 3 bulan di Observatorium Bosscha dan kelimpungan mau nangis mengerjakan skripsi, nongkrong di kampus hingga tengah malam dan menyebar kuesioner demi menyelesaikan thesis, lalu ambil kelas malam di musim dingin yang menusuk tulang untuk berada di kelas yang full english dan perlu usaha keras bagi saya mencerna omongan dosen serta mengerjakan tugas. Kesimpulannya, saya ini agak-agak masokis soal pendidikan. Hahaha.. Saya suka belajar, saya suka suasana akademis, saya suka berdiam lama di perpustakaan kampus untuk membaca dan mengerjakan tugas. Saya suka mencoba banyak soft-skill yang membuat otak bekerja. Masih mau lanjut kuliah, Rhein? Mau sih... Tapi... :D
Hard-Skill.Saya masih nggak bisa masak, menggambar, dan menjahit. Tiga skill yang saya coba pelajari dan  belum berhasil sampai sekarang. Selain itu, saya bisa mengoperasikan teleskop, menulis, dansa latin, muay thai, nyanyi, main ukulele, membuat tas kulit, scuba diving, mengajar bahasa Indonesia untuk orang asing, public speaking, hmm apalagi ya? Oh, stay alive while feeling depressed and lonely! Ini skill banget, lho. Haha.. Sampai saat ini nggak semua skil tersebut saya kerjakan, tapi masih bisa kalau diminta mengerjakannya lagi. Hard-skill penting bagi saya agar tubuh tetap aktif dan bermanfaat untuk menjalin relasi.
Sejak saya kecil, orang tua paham kalau saya ini tipikal manusia pembosan. Beranjak dewasa pun sama saja, saya suka sekali mencoba hal baru yang bagi orang lain tampak random. Mau mencoba hard-skill apalagi, Rhein? Saat ini sedang belajar fotografi dan videografi standar untuk channel youtube. Hehe..
Karir. Ini beragam banget. Setelah tiga puluh tahun, cita-cita saya menjadi astronot belum tercapai (#yamenurutlo). Beberapa karir yang pernah saya jajal dalam rentang 10 tahun terakhir ini: Astronom, internet marketing, editor buku, penulis, pemilik bisnis UKM dan online-shop, guru Astronomi, equity trader, waitress restoran, au pair (baby sitter), room attendant (baca: tukang kosek WC hotel). 
Random dan banyak banget kan ya? Bagi para pencari profesionalitas karir, saya ini sering dilihat sebagai produk gagal. Nggak fokus. Nggak ada planning. Nggak ada identitas. Kacau. 
But, I never give a f*ck about other people saying or judgment. Sepuluh tahun terakhir adalah masa ketika saya punya banyak sekali keinginan dan cita-cita. Selama sepuluh tahun ini juga, meski terlihat random dan melewati berbagai kegagalan, banyak sekali mimpi dan cita-cita yang terwujud, bahkan dikasih bonus sama Tuhan. Pernah ada kekhawatiran tentang bagaimana saya bisa hidup mapan kalau nggak ada karir yang pasti. Hal ini nggak hanya muncul dari diri sendiri tapi juga orang tua dan teman-teman terdekat. Usia bertambah dan saya harus memilih fokus pada satu hal. Tapi 'menonton' diri saya sepuluh tahun ke belakang, yang ternyata baik-baik saja meski agak random, I realised, "Hey, I'm okay. I did great." Perlahan kekhawatiran itu meluruh. Saya percaya saya akan baik-baik saja juga di tahun-tahun ke depan. 
The important things are; I know what I want, I make progress to reach it, and I love to do it. 
Keuangan. Terus Rhein, kamu random gitu gimana cari duitnya? Saya bersyukur banget punya ibu yang mendidik cara mengatur finansial sejak saya kecil. Meski sejak lulus S1 nggak pernah minta uang lagi sama orang tua untuk biaya hidup, kondisi finansial saya baik-baik saja. Alhamdulillah selalu dicukupkan. Kondisi saat ini; utang ada, cicilan ada. Tapi selama 10 tahun ke belakang saya juga banyak belajar tentang manajemen keuangan, punya aset, saham, tabungan, dll. Cukup lah untuk perempuan lajang seperti saya.
Ada beberapa hal yang saya aplikasikan dalam hal finansial selama sepuluh tahun ini.1. Jangan ragu berinvestasi untuk: pendidikan, kesehatan, dan pengalaman.2. You'll be rich not because of your income or outcome, but how you manage them.  3. Manfaatkan sumber daya yang dimiliki. 4. You better work, bitch! (Yes, Britney!)5. Zakat sedekah nggak boleh lupa. 
Target financial freedom kapan, Rhein? Usia 40 tahun, tapi belum kepikiran mau gimana. Hahaha.. Ya udahlah ya, nanti juga ketemu jalannya. Saya kan random jadi suka ujug-ujug aja cita-citanya tercapai.
Asmara.Pacaran 2 kali, udah putus. Punya affair dan flirting sana-sini, entah berapa kali nggak ngitung juga. Diajak nikah pernah, ditipu juga pernah. Meninggalkan dan ditinggalkan juga iya. Intinya sih: seems like relationship is not my thing yet. Kok gitu, Rhein? Ya pilihan hidup aja, sih. Saya malah menyadari, potensi saya meroket dan bebas mengeksplor diri sendiri untuk menggapai cita-cita justru setelah putus dari pacar terakhir. Saya masih ingat 2 kali nolak ajakan nikah dari mantan pacar dengan alasan, "Saya mau lanjut kuliah dan tinggal di luar negeri dulu." And it happened! 
I learn to make a deal with life, that sometimes I need to let go something to get what I want or what I need or something better. 
Ya udah lah ya, hidup saya sudah cukup bahagia. Kalau percintaan juga bagus, nanti hidup terlalu sempurna malah dicerca netijen #EH. Menyesal nggak, Rhein? Jomblo terus? Nggak. Hahaha... Kalau dulu ada anekdot yang bilang cewek lajang makin tua makin depresi nyari jodoh dan akhirnya nyari 'yang penting cowo', saya kok merasa kayaknya makin picky. 
I want to build a healthy relationship with someone, who I can live without him and he can live without me, but we choose to stick into each other no matter what our condition. Of course we will annoy each other, bother each other, hurt each other, but we will support each other and struggle together. I want to be with someone who understand that life will be hard sometimes, then in every hard time we can talk and figure everything out together. Beacuse healthy relationship could be build if we can talk about the things that bother us. That's mature enough to start a relationship. 
Mentalitas.Hmmm.. Sepuluh tahun cukup untuk membentuk dan mempengaruhi pola pikir dan mental seseorang. Saya pernah mengalami yang namanya rendah diri, anxiety, ptsd, stress, depresi, overthinking, unworthy, you named it. Makin kesini (makin tua usia saya maksudnya), saya menyadari bahwa semua orang akan mengalami hal-hal tersebut dalam hidupnya berulang kali. Yang perlu kita lakukan adalah how to control and have a deal with them. Sebenarnya problem mental itu sumbernya diri sendiri, the 'dark side'. Saya percaya tiap manusia punya 'dark side' yang kita semua struggle menghadapinya. Bahwasanya pepatah 'perang paling hebat adalah melawan diri sendiri', itu benar adanya. Dan perkaranya bukan siapa yang menang atau kalah, tapi bagaimana bisa berdamai. Karena bagaimana pun, 'dark side' tetap bagian dari diri kita. 
Memasuki usia ke 25++ ini (LOL), saya merasa secara mental, I know I will struggle but I know I can handle it. I don't want to push myself to chase happiness anymore. Kalau sedih ya nggak apa-apa saya murung dan nangis. Kalau marah, ya ngomel (tapi tetap beralasan logis). Kalau senang, saya akan menikmati present-time benar-benar. Saya juga mulai mengurangi aktivitas yang kalau saya 'tonton' sepuluh tahun ke belakang, ternyata buang-buang waktu. Contohnya seperti; komplain tanpa aksi solutif, being perfect, takut gagal, try to please everybody, mikirin banget pendapat orang lain, dan self-doubt. 
Friendship.Trust me, adulthood friendship is complicated. Saya mencoba mempertahankan satu prinsip pertemanan selama sepuluh tahun terakhir: be kind. Tapi ternyata manusia itu lucu. Ada yang nggak suka kalau kita baik hati. Ada yang memanfaatkan ketika kita baik hati. Ada teman baru yang ternyata bisa pengertian banget. Ada teman lama yang berubah jahat melebihi Thanos.
Sepuluh tahun, orang datang dan pergi. Saya bersyukur punya banyak kenalan, tapi juga punya circle kecil sebagai support system. Dan tetep kok, saya akan pegang prinsip itu sampai bertahun-tahun ke depan. Be kind. Because my attitude defines who I am. Your attitude define yours.Dear friend,I want to be someone who can make you feel better.Maybe I can't make you happy. Happiness seems hard to achieve nowadays. We tend to set a high bar for happiness lately, don't we?Maybe I can't solve your problem. Simply because I don't know how. Maybe I can't make you smile. Because if you sad and cry, seems like I'll cry as well.But at least, I wish I can make you feel better. With my present, my support.I will listen to you. 
Target dan rencana masa depan.Saya punya. I prefer to talk about these with them who know me better; about my issues, my struggle, my tears behind my smiles. Because after ten years, I learn that most people just don't care or want to judge.  
Bocoran salah satunya, rencana saya sejak lama adalah membuat vlog tips-tips menulis. Simply because I love to share my experience and wish it could be a positive thing for other people. Doakan saja bisa rajin dan rutin. 

Selamat ulang tahun ke-31, Rhein Fathia. :)
Love is real, real is love. -John Lennon-
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on June 12, 2018 19:54

April 21, 2018

Kartini Zaman Now: Tambah Ilmu di Sela Waktu


Dalam memperingati hari Kartini, saya berencana membuat tulisan tentang pembahasan dua buah buku yang isinya mengulik topik perempuan. Buku "Sarinah" karangan Presiden Pertama RI, Soekarno, dan buku "Perempuan" karangan M. Quraish Shihab. Kedua buku yang membahas perempuan dari sudut pandang seorang negarawan dan agamawan. Namun apa daya, pembahasan ini yang awalnya rencana berakhir menjadi wacana. Hahaha... Alasan saya sangat tipikal: sibuk #kibasjilbab. 
Maka, saat ini saya hanya ingin sedikit berbagi sekaligus curhat tentang pandangan saya tentang menjadi salah satu Kartini zaman now. Kita mengenal Ibu Kartini sebagai sosok yang haus akan ilmu. Beliau selalu ingin belajar, berjuang untuk mendapatkan hak yang setara akan keilmuwan, dan tidak peduli betapa sulit kondisi saat itu, beliau ingin perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan lelaki untuk mendapatkan hak belajar.
Bagi saya, perjuangan beliau perlu dilanjutkan meski dengan hal-hal sederhana. Tentu perempuan Indonesia masa kini sudah punya banyak kesempatan dalam mengembangkan potensi mereka sampai-sampai sibuk sekali bahkan mungkin ada yang sampai tidak peduli dengan dirinya sendiri. 'Tidak peduli' yang ingin saya sorot di sini adalah tentang kontinuitas asupan ilmu bagi perempuan. Seberapa banyak dari kita yang tetap belajar usai lepas dari bangku kuliah? Bekerja di kantor, mengerjakan proyek, mengasuh anak, menurut saya merupakan contoh mengaplikasikan ilmu. Kemudian jika kita terus 'memberi' manfaat pada sekitar tanpa adanya asupan yang cukup, ibarat tumbuhan, kita bisa layu. 
Saya pernah ada di situasi seperti itu. Ada perasaan bangga ketika bisa mengaplikasikan apa yang pernah saya pelajari di kuliah dalam ranah pekerjaan, tetapi tambahan ilmu yang saya dapat tidak terlalu banyak. Paling hanya berkutat di situ-situ saja. Kemudian saya berpikir bahwa yang bertanggung jawab atas isi kepala saya adalah saya sendiri. Ibarat kalau lapar, saya orang pertama yang akan bergerak mencari makanan. Sebagai perempuan Indonesia modern yang termasuk sedikit cemas banyak rindunya sedikit sibuk banyak kerjanya, ada dosis harian yang selalu saya coba penuhi agar asupan ilmu baru selalu mengisi kepala.
Menonton 1 Tayangan TED Talk
Saya bukan termasuk orang yang suka berlama-lama nonton. Ketika orang-orang keranjingan menonton vlog di youtube, saya kudet dan bingung apa asiknya nonton aktivitas orang lain? Namun ketika adik menunjukkan TED, saya langsung tertarik. Durasi TED tidak terlalu lama, paling antara 10-20 menit. Waktu yang cukup untuk menonton sambil berendam air hangat di bath-up. TED memiliki banyak topik dan pembicara yang beragam serta menarik. Oh, satu hal yang saya suka dari TED salah satunya adalah mereka menampilkan fakta dan data. 
Membaca 1 Artikel New York Times

Sejak dibelikan tablet oleh adik dan mendownload apps NYT, saya mewajibkan diri sendiri untuk membaca 1 artikel dalam sehari. Mengapa NYT? Karena kecocokan konten aja sih, untuk saya. Pilihan bacaan luas mulai dari politik, budaya, olahraga, lingkungan, bisnis, seni, dll. Penulisan artikel yang runut dan mudah dipahami. Yang pasti, nggak ada gosip lambe (seriously, darling, saya yakin bu Susi dan bu Sri Mulyani kerjanya nggak ngikutin gosip tiap hari). Biasanya sih saya baca lebih dari 1 artikel karena tulisan di sana banyak yang menarik. Selain itu, apps NYT di juga nyaman banget diakses.
Membaca 10 Halaman Buku Saya tipikal yang membaca banyak buku dalam satu waktu. Hahaha... Bisa sampai 5 buku yang saya baca bergantian baik ebook maupun buku cetak. Namun, prinsip sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, selembar demi selembar lama-lama tamat juga. Jenisnya pun campur antara fiksi dan non-fiksi. Ketika sibuk, membaca bisa saya lakukan di sela-sela perjalanan, menunggu klien, atau sebelum tidur. 
Membaca 1 Artikel Majalah
Iya, saya masih membaca majalah cetak. Kebetulan saya cukup niat untuk membeli majalah National Geographic, kadang versi Bahasa atau English. Alasan pemilihan majalah, lagi-lagi karena saya suka kontennya. Mereka banyak bicara tentang fakta, data terbaru, penelitian, dan perkembangan tentang dunia. 
Membaca Komik
Duh, kok kayaknya dosis harian saya di atas serius semua? Tenang aja, saya juga hobi baca komik di Webtoon. Saya lupa entah kapan hobi membaca serial cantik mulai luntur, karena setelah diperhatikan sekarang lebih suka membaca komik strip yang sederhana. Komik favorit saya adalah Lunarbaboon, dengan tokoh utama seorang pria yang menjalani kehidupan sehari-harinya. Dia seorang suami, ayah, pekerja, sama seperti kebanyakan pria. Namun di balik cerita-cerita singkatnya, saya belajar banyak hal tentang menerima diri sendiri saat depresi, esensi kebahagiaan, dan ilmu parenting. 
Masih banyak cara lain untuk perempuan dalam menambah ilmu dan tidak harus dilakukan harian. Bisa ikut kursus seminggu sekali atau training/workshop sebulan sekali. Jenisnya pun beragam bisa menyesuaikan hobi masing-masing. Kebetulan hobi saya membaca jadi cara saya belajar kebanyakan dengan cara membaca. Yang pasti, perempuan sangat perlu menimba ilmu setiap waktu.
Selamat Hari Kartini.
Love is real, real is love. -John Lennon-
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on April 21, 2018 09:30

April 5, 2018

Again

That hit me again.The feeling of unimportant                   of abandoned                   of my dream is nothingThe pressure of  'do things you can do even you don't want to'
Lonely
Love is real, real is love. -John Lennon-
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on April 05, 2018 17:52

March 28, 2018

Review Tablet Amazon Fire HD 8

Gadget baru! Sebagai manusia yang bukan gadgetholic, saya biasa membeli gadget untuk mendukung hobi utama: membaca dan menulis. Sebelumnya pernah menulis review Macbook Air dan Kobo Glo e-reader yang sudah saya miliki hampir 4 tahun dan keduanya masih berfungsi dengan maksimal. 
Kali ini saya berkenalan dengan Amazon Fire HD 8 yang saya beli dengan alasan: banyak fungsi dan murah! Pembelian di Singapura seharga 140 SGD (lebih murah dikit dari Kobo Glo yang saya beli di Jepang 110 USD).  Setelah memiliki selama kurang lebih dua minggu, mari kita jabarkan review ala-ala gadget ini. 
Developer Amazon mengeluarkan tablet seri ini dengan apps bawaan yang nggak terlalu mendukung kebutuhan saya dan kebanyakan apps musti bayar (akulah sahabat miskinmu). Namun tidak perlu khawatir, dengan install PlayStore, semua yang gratisan di sana bisa diunduh layaknya di OS Android biasa. 
Untuk kebutuhan menulis, Evernote selalu menjadi andalan karena tersinkronisasi dan bisa diakses dari beragam gadget. Untuk kebutuhan membaca, nah ini yang seru. Di tengah derasnya informasi, saya sadar bahwa bahan bacaan harus berkembang tidak hanya melalui buku, majalah (iya, saya masih baca majalah cetak), dan ebook. Saya perlu lebih dari sekadar Kobo Glo. Maka Amazon Fire HD 8 ini bisa memfasilitasi saya untuk membaca ebook (format PDF, epub, mobi, dll). Lalu saya bisa mendapat berita-berita terbaru melalui Newstand dan NYTimes. Baca komik perlu dong... Standar lah dengan Webtoon. Karena sekarang saya punya hobi baru (nonton TED), tablet ini punya resolusi layar yang oke banget. Urusan musik pun terfasilitasi karena saya bisa rekaman ukulele atau dengar lagu dengan speaker yang menghasilkan suara kece (Dolby, coy!).
click for detail
Dih Rhein, kalau cuma untuk gitu doang mah, di HP juga bisa, kelleus... Mohon maklum, sobat miskin, saya cuma punya sebiji hp cina seri jadul yang bahkan kamera utamanya udah ga berfungsi. Belum lagi kalau baca atau nulis di hp pasti terganggu denting chat, sms jual obat kuat, sama telepon tawaran kartu kredit/KTA. Soalnya kalau udah baca, saya nggak suka diganggu dan sering lupa waktu sampai tiba-tiba baterainya udah mau habis. Ngomong-ngomong batre, dengan pemakaian standar (kadang baca, nonton, nulis) tablet ini bisa bertahan 2x24 jam (kayak laporan pak RT #krik). Untuk ngecas dari 5%-100% perlu sekitar 4-5 jam (iya, lumayan lama) dan penghematan baterai bisa dengan cara matiin wifi. Tapi cukup okelah, lagipula saya belum nemu hp di bawah 1.5 juta yang bisa memfasilitasi kebutuhan di atas tanpa nge-lag. Tablet ini punya 4GB RAM dan memori internal 16GB (bisa pakai microSD juga).
Apalagi yang perlu dibahas ya? Kamera depan belakang jelek (pas saya selfie ngga jadi secantik Ariana Grande). Koneksi via wifi dan bluetooth. Ada fitur blueshade untuk mengurangi cahaya layar agar nyaman saat membaca, meski bagi saya tetap tidak bisa mengalahkan e-ink. 
Okay! So far saya puas sama tablet ini. Lumayan nggak perlu bawa laptop kalau untuk traveling 1-2 minggu. Saya nggak tahu tablet ini udah masuk Indonesia atau belum karena produk-produk Amazon emang agak sulit didapat di sini. 
Love is real, real is love. -John Lennon-
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on March 28, 2018 05:14

March 9, 2018

Open Water Diving Course - Surat Izin Menyelam

Sebenarnya saya lebih suka luar angkasa, tapi sering terpesona oleh makhluk-makhluk indah di dalam laut dan samudera. Saat pertama kali snorkling bertahun lalu melihat cantiknya terumbu karang dan ikan-ikan seperti menonton Discovery Channel secara siaran langsung, saya bertekad untuk bisa menyelam lebih dalam. Sayangnya saya ini penakut. Hahaha.. Melihat gelapnya laut dalam saja membuat saya sering berpikir aneh-aneh. Bagaimana kalau tiba-tiba muncul makhluk seram dan bahaya? Bagaimana kalau saya tersedot ke kegelapan dan tidak bisa menyelamatkan diri? Bagaimana kalau ini dan itu? 
Sejak awal tahun saya berencana untuk mempelajari banyak skill baru. Kemudian terpikirlah untuk merealisasikan keinginan belajar menyelam yang sejak lama tenggelam. Kebetulanada rencana traveling ke Bali dan seorang teman merekomendasikan sekolah selam yang, menurut pengalamannya, oke banget. Setelah kontak-kontakan, disepakati saya akan ambil kelas selam (Open Water Diving Course) selama 3 hari. Hari pertama teori dan adaptasi di kolam. Hari kedua menyelam di Padang Bai. Hari ketiga menyelam di Tulamben. Saya akan cerita sedikit tentang proses mendapatkan SIM (Surat Izin Menyelam) dari PADI Open Water ini. 
Hari 1 (12 Februari).Jam 7 pagi waktu Denpasar, saya sudah dijemput dari hostel tempat menginap oleh pihak Scuba Duba Doo (lucu ya namanya) dan berangkat menuju markas mereka. Di sana bertemu pak Tunas yang akan menjadi guru sekaligus instruktur selama proses kursus menyelam ini. Empat jam pertama nonton video yang berisi teori open water mulai dari memilih alat, menyiapkan, menggunakan, sampai bagaimana perawatan. Melalui video ini juga dijelaskan dengan detail tahap-tahap melakukan penyelaman yang sesuai standar keamanan demi keselamatan penyelam sendiri karena kondisi di darat dan laut sudah pasti sangat berbeda. Selesai menonton video dan penjelasan, ada tes teori. Nggak susah, kalau mendengarkan penjelasan pasti bisa.

Usai makan siang, saya dan Pak Tunas menuju salah satu kolam renang di Sanur. Di sini langsung praktik apa-apa yang sudah saya tonton sebelumnya. Bagaimana rasanya? Saya takuuuuuutttttttt!!
Saya bisa renang, tapi menyelam beda perkara. Ada napas yang harus diatur, ada tabung oksigen dan beragam selang yang punya fungsi sendiri-sendiri, ada pemberat tubuh yang perlu dipasang-lepas, ada metode pertolongan pertama saat menyelam, tambahan lagi saya tipe panikan, duh pokokna raripuh weh. Tapi meski dalam keadaan begitu, Pak Tunas mengajarkan dengan telaten secara bertahap sampai saya paham karena demi keselamatan diri sendiri dan buddy di laut. 
Malamnya saya merenung, di kolam aja udah takut, gimana nanti di laut? Untungnya semua teman penyelam yang saya hubungi memberi semangat dan bilang akan baik-baik saja.
Hari 2 (13 Februari)Kali ini akan mulai menyelam di laut, tepatnya di Blue Lagoon Padang Bai. Untuk mencapai lokasi penyelaman pakai perahu nelayan. Di sini sekalian praktik bagaimana lompat ke dalam laut. Blue Lagoon ini emang lautnya bikin ngiler ya. Biru jernih banget! Liatnya ada udah bikin semangat nyemplung. 
Dan ternyata benar, menyelam di dalam laut tidak semenyeramkan yang dibayangkan. Isi laut itu indah dan warna warni banget! Ikan-ikan lucu, penyu, terumbu karang warna warni, bahkan pasirnya putih bersih. Saya kayak anak kecil liat mainan baru karena excited. Sayangnya saya nggak punya kamera underwater untuk pamer. Hahaha..
Selain liat-liat kedalaman laut, saya juga mempraktikan apa-apa yang sudah diajarkan dalam teori penyelaman. Bagaimana membuka masker di dalam laut, bagaimana memberi selang oksigen kalau partner selam kita kenapa-kenapa, bagaimana mengatur napas lewat telinga saat ada perbedaan tekanan, bagaimana mengatur gerak tubuh (bouyancy) supaya ala-ala putri duyung (waek :p). Intinya adalah, napas!

Hari 3 (14 Februari)Pagi hari saat Valentine dan Bali diguyur hujan. Saya dibawa ke lokasi penyelaman di Tulamben yang memakan waktu hampir 3 jam perjalanan dari Kuta. Sampai Tulamben, pikiran saya udah jelek aja karena melihat langit gelap, angin kencang, hujan deras, laut lepas, dan ombak ganas. Apalagi kali ini prakteknya menyelam langsung dari pantai yang artinya saya harus menggendong tabung oksigen 12 kilo, pakai pemberat tubuh, dan jalan di pantai berbatu menuju laut lepas. Hasilnya: kelabakan plus panik karena saya diterjang ombak terus. Huhuhu... T_T
Namun setelah berhasil masuk ke dalam laut... WOW.. indaaaahhh... Hahahaha... Ternyata apa pun yang terjadi di darat tidak terlalu berpengaruh di dalam laut. Sempat terdengar suara sssszzzz gitu saat masih dekat permukaan, yang saya kira tabung oksigen kenapa-kenapa, ternyata itu suara hujan deras. Saat menyelam makin dalam, arus tenang, ada taman terumbu karang yang indah banget sumpah! Ikan-ikan lebih variatif dari segi ukuran dan bentuk. 
Yang istimewa dari Tulamben adalah adanya kapal US Liberty yang rusak dan akhirnya tenggelam sejak berpuluh tahun lalu. Kapal ini gedeeee banget! Dan indah. Menyelam berkeliling di kapal ini seru dan bikin tekagum-kagum. Sahabat saya mengumpamakan seperti berpetualang di istana laut. Saya melihat gurita yang ngesot-ngesot di dinding kapal, tumbuhan yang warna warni, ikan-ikan cantik yang beragam ukuran (bahkan ada yang besarnya setengah badan saya!). Ada juga ular laut, cacing laut yang kalau liat di TV keluar masuk ke dalam tanah. Macem-macem deh. Ternyata keberadaan kapal karam ini justru menjadi ekosistem baru bagi beragam makhluk laut. Jadi bagi kamu yang merasa hatinya sudah patah berkeping-keping, tenang aja, hati kamu masih bisa jadi rumah yang nyaman dan indah bagi orang lain... #lhakokcurcol
Dengan ini saya resmi dapet SIM (Surat Izin Menyelam) Open Water. Yeay! Untuk penjelasan Open Water, googling ajalah ya karena ada banyak spesifikasi untuk penyelam.

Tiga hari ikut kelas menyelam, ternyata apa-apa yang saya takutkan di awal tidak kejadian sama sekali. Nggak ada makhluk seram (yang ada malah takjub berkali-kali). Nggak ada pusaran kegelapan yang menyedot (hahaha). Yang harus diingat adalah: tenang dan napas layaknya kita napas di darat. Olahraga selam ini juga aman untuk yang pakai jilbab, tinggal pakai penutup kepala. Ditambah lagi gigi saya berkawat alias pakai behel dan awalnya khawatir kenapa-kenapa karena selama di laut harus menggigit regulator. Lalu saya konsultasi dengan dokter gigi. Kebetulan beliau emang dokter gigi TNI AL yang biasa menangani penyelam juga, kata beliau nggak masalah. Usai menyelam nggak lupa laporan sama dokter gigi juga untuk dicek.
Senangkah? Senang bangeeett!! Ambil kelas selam di Scuba Duba Doo asyik karena dari awal saya kontak, dikasih penjelasan detail melalui WhatsApp, diantar jemput dari penginapan, diajarin dengan sabar sampai saya paham dan bisa. Kalau ada yang minat bisa googling Scuba Duba Doo. Atau kontak langsung ke Pak Yadi (0818556275). Beliau ini lumayan sibuk karena sering keluar negeri, tapi tiap kali online pasti WA langsung dibalas. 

Oiya, satu hal lagi. Selama kursus selam, yang saya liat penyelam lain orang luar negeri. Bahkan murid kursus yang orang Indonesia hanya saya sendiri. Sayang banget padahal laut Indonesia itu indah luar biasa dan patut dijaga. Semoga dengan sering menyelam, saya bisa ikut menyebarkan awareness tentang menjaga habitat laut Indonesia. :)
Love is real, real is love. -John Lennon-
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on March 09, 2018 21:43

February 20, 2018

Antara Senyum, Zona Nyaman, dan Menulis


Beberapa hari lalu seorang teman menelepon dan kami bercerita banyak hal. Saya mengenal dan mengagumi dia sebagai sosok yang punya banyak rencana, cita-cita, dan ambisi. Beberapa bulan terakhir kami sering ngobrol dan saya suka mendengar bagaimana dia punya banyak hal yang ingin dilakukan dalam hidupnya di masa depan. Saya suka melihat orang yang bersemangat memiliki mimpi-mimpi. Meski kadang saya merasa iritasi kalau dia menyentil yang intinya kira-kira: hidup saya tampak gini-gini aja dibanding rencana hidupnya.

Kemudian di percakapan kami yang terakhir, saya cukup merasa tersinggung karena beberapa hal. Pertama, dia bilang saya ini hidupnya terlalu senang-senang dan senyum-senyum aja. Awalnya saya menanggapi hanya dengan tawa karena mengira dia bercanda. Ayolah, apa yang salah dengan murah senyum? Namun ternyata dia serius, katanya saya ini keliatan ketawa-ketawa aja. Hidup itu harus lebih serius. Saya menimpali, "Terus gue harus gimana? Nangis?" Jawabannya tetap sama, hidup saya terlalu banyak diisi dengan senang-senang dan senyum-senyum saja.
Saya sering kesal dengan orang yang mudah sekali menghakimi hidup orang lain dari luarnya saja. Tahukah kamu banyak komedian yang hidupnya selalu senyum dan tertawa, ternyata mati bunuh diri?  Apa saya perlu bercerita ke seluruh semesta ketika saya depresi atau bikin vlog ala awkarin saat menangis? Apa saya perlu buat video wawancara dengan karyawan tentang betapa galak dan tegasnya saya di kantor atau saat saya berdebat sengit dengan klien corporation yang mangkir dari kewajiban? Saya menjalani kewajiban dengan serius. Saya tersenyum dan tertawa karena itu membuat saya dan orang lain bahagia.
Kedua, dia mengatakan bahwa saya sedang dalam situasi di zona nyaman. Hidup saya enak, financial cukup, punya kebebasan bisa melakukan apa yang diinginkan. Menurutnya, saya seharusnya bisa mengembangkan potensi diri dan lebih dari yang ada sekarang. Untuk hal ini, saya setuju. Namun ketika dia mengibaratkan saya ini sama saja seperti PNS pemalas yang berangkat pagi pulang sore dan di kantor kerjanya gitu-gitu aja, duh... 
Keluarga saya bisnisnya mungkin kecil-kecilan. Tapi yang kami lakukan sudah jauh lebih oke daripada standar hidup manusia Indonesia. Kami membuka lapangan pekerjaan. Menerima pegawai dari daerah pelosok yang paling hanya lulusan SD atau SMP, mendidik mereka, memberi mereka pekerjaan, tempat tinggal, makan, menjamin pendidikan anak-anak mereka, bahkan beberapa pegawai menjadi tulang punggung keluarga di kampung. Kemudian kalau hidup pebisnis itu sering dibilang tampak enak bisa punya banyak waktu luang dan jalan-jalan sesukanya, cobalah ikutan saya begadang sampai pagi dengan was-was kalau event tidak berjalan dengan baik, kalau klien minta tambahan pesanan ini itu saat injury time, kalau hp berdering tak henti saat waktunya istirahat dan serbasalah antara memilih memberikan yang terbaik untuk klien atau waktu istirahat untuk badan sendiri. Begitu itu saya disamakan dengan PNS pemalas? Tanggung jawab kami bukan lagi pada 'atasan', tapi pada perut, kesehatan, dan pendidikan keluarga karyawan.
Ketiga, saat dia bertanya apa passion saya dalam hidup. Kontribusi apa yang ingin saya lakukan di masa depan untuk diri sendiri, negara, bahkan dunia. Saya ini di masa depan ingin melakukan apa sih yang sekiranya berefek gigantis? Mungkin kira-kira begitu maksudnya. Jawaban saya singkat dan sederhana, menulis. Lalu responnya, "Nulis? Doang?" Di sini saya menghela napas. "Iya, doang."
Prinsip saya dalam menulis (terutama buku) selama ini: informatif dan mengajak pada kebaikan. Buku-buku karangan saya emang nggak best-seller amat tapi setidaknya per buku terjual sampai 5,000 eksemplar bahkan beberapa buku bisa belasan ribu eksemplar. Itu tandanya ada puluhan ribu masyarakat Indonesia yang membeli buku saya, membaca buku saya, menyerap informasi dan ajakan kebaikan dari tulisan saya. Itu lebih dari jumlah mahasiswa di kampus gajah, lho. Betul sekali jumlah itu ibarat butiran micin. Namun saya yakin, ada yang tergerak dan terbuka wawasannya karena tulisan-tulisan saya. Dan kontribusi sederhana ini tidak perlu menunggu masa depan karena saya sudah melakukannya sejak di bangku SMA. 
Tentu saja saya pun ingin punya ambisi dan rencana hidup yang gigantis manfaatnya bagi semesta. Dan memulainya dengan berbuat hal yang sederhana, real, serta bermanfaat mekipun di lingkaran kecil. Tak perlu menunggu berubah menjadi elang ketika menjadi lebah pun masih bisa bermanfaat.
Lalu kenapa kamu nggak menjelaskan semua ini ke dia saat di telepon, Rhein? Simpel,
"Most people do not listen with the intent to understand; they listen with the intent to reply." ~Stephen R. Covey.
Karena ujung-ujungnya paling saya dibilang, "Ah, lebay lu." 

Not all people want to listen to our story, even someone we expected to listen. That's why I prefer to write a lot. Because people who read our writings, they're the real listener. 
Love is real, real is love. -John Lennon-
 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on February 20, 2018 07:36