Musa Rustam > Musa's Quotes

Showing 1-18 of 18
sort by

  • #1
    Musa Rustam
    “Hidup adalah sebuah perjuangan. Tanpa kekuatan mimpi, manusia seperti kerbau yang bekerja tanpa tujuan. Allah menganugerahkan segala imajinasi dan mimpi sebagai kekuatan maha dahsyat di dalam hati dan pikiran kita. Aku bersyukur karena sebuah mimpi itu kini membuatku menjadi manusia yang berarti”
    Musa Rustam, Memoar Asa

  • #2
    Musa Rustam
    “Jati diri yang dibangun oleh seorang anak manusia yang tidak memiliki kesadaran diri, jika diterpa badai akan terempas ke tepi pantai dan menjadi rongsokan sampah yang membentang mengotori keindahan pantai”
    Musa Rustam, Memoar Asa

  • #3
    Musa Rustam
    “Aku hanyalah senja yang perlahan lesap di keheningan matamu, mempuisikan kenangan yang kusimpan di jenggala waktu. Saat matahari akan tenggelam tercuri waktu, disitulah aku kenang sebagai jingga yang pernah terpancar indah pada senyummu seperti senja, meski sesaat di mataku, kau adalah ciptaan Tuhan yang paling indah”
    Musa Rustam, Sang Pencuri Hati

  • #4
    Musa Rustam
    “Bagaimana nasib ini? lihatlah lebih dekat, jarak antara keluguan dan ketidaktahuanku terpenjara senyummu yang menghanyutkan”
    Musa Rustam, Sang Pencuri Hati

  • #5
    Musa Rustam
    “Jangan pernah takut bermimpi, jangan pernah takut berusaha, tapi takutlah ketika kita tidak lagi mau berusaha dan beku hati kita, kegagal di setiap perjuangan untuk meraih apa yang kita cita-citakan, hal itu justru sebagai penambah nilai plus agar kita tidak lagi mengulangi kegagalan yang sama”
    Musa Rustam, Memoar Asa

  • #6
    Musa Rustam
    “Kaubasahi masa lalu dan membanjirinya dengan
    ketidakmampuan.
    Aku hanya air yang dibasahi hujan, tanpa diberi
    pengertian.”
    Musa Rustam, Melukis Asa

  • #7
    Musa Rustam
    “Kegundahan mulai datang mendekat.
    Padahal pintu hatiku telah kututup rapat-rapat.
    Daun jendela dan lubang angin telah kusumbat.
    Kunyalakan lampu penerang dan musik penyemangat.
    Tapi aku tak mengerti kegalauan kian menyerambat.”
    Musa Rustam, Melukis Asa
    tags: galau

  • #8
    Musa Rustam
    “Kau berusaha menyembuhkan luka yang berada pada
    tubuhku, seperti matahari yang masuk ke sela-sela jendela dan pintu rumah.
    Kau berusaha membuatkan aku rakit, untuk menyeberangi masalah dan mendampingiku hingga ke tempat yang aman.”
    Musa Rustam, Melukis Asa

  • #9
    Musa Rustam
    “Bagaimana kamu disana?
    Mengingat senyum itu adalah tanda jurang pemisah
    antara ketidakmampuan dan keinginan mendekapmu
    seperti senja yang tidak hadir ketika hujan”
    Musa Rustam, Melukis Asa

  • #10
    Musa Rustam
    “Tetesan air hujan menyelinap setiap gemiricik di atas atap. Ia patri setiap suara dan bunyi seperti bait-bait dalam puisi, untuk menenangkan dunia tanpa hati yang luka. Ia pasti datang lagi, ketika kota membutuhkannya, ia serahkan hidupnya kepada angin dan musim serupa nasib-nasib yang datang pada pagi ataupun seperti kupu-kupu yang hinggap di jendela.”
    Musa Rustam, Melukis Asa

  • #11
    Musa Rustam
    “Puisi itu seperti banjir Jakarta yang tak terbendung,
    musim kemarau pun mencemaskan tak dapat meniduri
    dari luputnya genangan bak hujan di bulan Januari. Hanya saja kata-kata di dalam bait-bait puisi yang menjitak kepalamu, belum juga membuat sadar bahwa cinta yang kau berikan terlalu melimpah sehingga banjir dan menjadi malapetaka.”
    Musa Rustam, Melukis Asa

  • #12
    Musa Rustam
    “Setiap lembaran dari putih berubah jadi sembilu.
    Bayang-bayang kenangan manis berubah jadi abu.
    Bulan berjanji, sedihnya tak akan mengganggu.
    Sampai datang waktu yang memeluk kalbu.”
    Musa Rustam, Melukis Asa

  • #13
    Musa Rustam
    “Jika nanti senyummu tak bisa.
    Kulihat lagi dari keramaian kota,
    Aku berjanji, akan mencarimu
    melalui tanda marka dan teka-teki pada kata.

    Jika nanti tawamu tak bisa.
    Kudengar lagi dari keramaian kota,
    Aku berjanji, akan mengejarmu
    dalam tanda tanya dan misteri pada kota.

    Jika nanti menemukanmu tak bisa.
    Kucoba lagi pada keramaian kota,
    Aku berjanji, akan menyimpanmu
    dalam heningnya hati dan kedamaian cinta.”
    Musa Rustam, Melukis Asa

  • #14
    Musa Rustam
    “Masihkah pelukanmu pandai membimbing jalanku
    pulang, Jika aku hanyalah pesan cinta yang tersasar tukang pos yang malang?”
    Musa Rustam, Melukis Asa

  • #15
    Musa Rustam
    “Apakah angin kencang merobohkan, pohon pun
    terguncang, hatimu pun tumbang, jika saja kau dapat
    kutanam kembali?”
    Musa Rustam, Melukis Asa

  • #16
    Musa Rustam
    “Ketika aku bertanya tentang pencuri hati, apakah benar aku telah menangkap kata-kata pada hati yang tercuri di hatimu atau telah memahami pengertian kalimat majemuk yang terperangkap senyummu?”
    Musa Rustam, Sang Pencuri Hati

  • #17
    Musa Rustam
    “Aku seperti mandi hujan dalam pelukan bahagia seorang pujangga dengan irama puisi jatuh hati pada pandangan pertama, seorang yang jatuh hati tak pernah sadar menyelami sebagian perasaan yang dalam dan diam-diam mencuri matahari pada pagi di sambut hujan yang menyendiri.
    Bitread”
    Musa Rustam, Sang Pencuri Hati

  • #18
    Musa Rustam
    “Di bawah naungan yang sama, ada dua gelombang yang berbeda. Gelombang yang membentang di antaranya menangkap diam-diam dan menemukan terang-terangan. Tiap energi yang disadap akan terbentuk kata, tiap kata yang diterima akan terbentuk cara, ada yang menelusup masuk bahasa yang tidak pernah di undang tapi ia datang, tak pernah di suruh tapi menjelma, satu tubuh pada cinta.”
    Musa Rustam, Sang Pencuri Hati



Rss