Ryd45 > Ryd45's Quotes

Showing 1-8 of 8
sort by

  • #1
    Sapardi Djoko Damono
    “The day will come
    When my body no longer exists
    But in the lines of this poem
    I will never let you be alone

    The day will come
    When my voice is no longer heard
    But within the words of this poem
    I will continue to watch over you

    The day will come
    When my dreams are no longer known
    But in the spaces found in the letters of this poem
    I will never tired of looking for you”
    Sapardi Djoko Damono

  • #2
    Sapardi Djoko Damono
    “tak ada yang lebih tabah
    dari hujan bulan Juni
    dirahasiakannya rintik rindunya
    kepada pohon berbunga itu

    tak ada yang lebih bijak
    dari hujan bulan Juni
    dihapusnya jejak-jejak kakinya
    yang ragu-ragu di jalan itu

    tak ada yang lebih arif
    dari hujan bulan Juni
    dibiarkannya yang tak terucapkan
    diserap akar pohon bunga itu”
    Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni

  • #3
    Sapardi Djoko Damono
    “dalam diriku mengalir sungai panjang,
    darah namanya;
    dalam diriku menggenang telaga darah,
    sukma namanya;
    dalam diriku meriak gelombang sukma,
    hidup namanya;
    dan karena hidup itu indah,
    aku menangis sepuas-puasnya”
    Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni

  • #4
    Sapardi Djoko Damono
    “barangkali hidup adalah doa yang panjang, dan sunyi adalah minuman keras. ia merasa Tuhan sedang memandangnya dengan curiga; ia pun bergegas.”
    Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni

  • #5
    Sapardi Djoko Damono
    Dalam Doaku

    Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara

    Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana

    Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

    Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
    di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

    Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
    demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

    Aku mencintaimu..

    Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu

    (1989)”
    Sapardi Djoko Damono

  • #6
    Joko Pinurbo
    “Anda boleh menulis puisi
    untuk atau kepada siapa saja
    asal jangan sampai lupa
    menulis untuk atau kepada saya.
    Siapakan saya? Saya adalah Kata.”
    Joko Pinurbo, Kepada Cium

  • #7
    Lenang Manggala
    “Demi matahari senja yang menggantung manis manja di cakrawala, demi kebaikan dan ketulusan yang telaten diberikan semestas, dan demi ragam nama-nama Tuhan baik yang akrab maupun asing di telinga kita, sesungguhnya, manusia, adalah mahkluk yang merugi. Kecuali, ia yang mau belajar pada masa silam, berbuat yang terbaik di masa sekarang, dan menyiapkan segala sesuatu di masa depan, dengan keyakinan paling yakin pada terwujudnya sebuah impian.”
    Lenang Manggala, Perempuan Dalam Hujan

  • #8
    Salim Akhukum Fillah
    “Aku bukan tak sabar, hanya tak ingin menanti
    Karena berani memutuskan adalah juga kesabaran
    Karena terkadang penantian
    Membuka pintu-pintu syaithan”
    Salim Akhukum Fillah



Rss