61 books
—
19 voters
Post Human Books
Showing 1-50 of 314
The Quantum Thief (Jean le Flambeur, #1)
by (shelved 9 times as post-human)
avg rating 3.83 — 23,999 ratings — published 2010
The Causal Angel (Jean le Flambeur, #3)
by (shelved 5 times as post-human)
avg rating 4.21 — 5,792 ratings — published 2014
Sea of Rust (Sea of Rust, #1)
by (shelved 4 times as post-human)
avg rating 4.05 — 15,235 ratings — published 2017
Nexus (Nexus, #1)
by (shelved 4 times as post-human)
avg rating 4.04 — 21,063 ratings — published 2012
Neptune's Brood (Freyaverse, #2)
by (shelved 4 times as post-human)
avg rating 3.85 — 5,849 ratings — published 2013
Saturn's Children (Freyaverse #1)
by (shelved 4 times as post-human)
avg rating 3.60 — 8,182 ratings — published 2008
Accelerando (Mass Market Paperback)
by (shelved 4 times as post-human)
avg rating 3.87 — 22,371 ratings — published 2005
Permutation City (Mass Market Paperback)
by (shelved 4 times as post-human)
avg rating 4.05 — 13,102 ratings — published 1994
All Systems Red (The Murderbot Diaries, #1)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 4.12 — 374,201 ratings — published 2017
We Are Legion (We Are Bob) (Bobiverse, #1)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 4.26 — 126,183 ratings — published 2016
Glasshouse (Hardcover)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 3.88 — 11,691 ratings — published 2006
Diaspora (Paperback)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 4.10 — 11,285 ratings — published 1997
The Fractal Prince (Jean le Flambeur, #2)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 4.05 — 9,308 ratings — published 2012
Altered Carbon (Takeshi Kovacs, #1)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 4.03 — 115,418 ratings — published 2002
Sub-Human (Post-Human, #1)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 3.74 — 3,818 ratings — published 2012
Post-Human (Post-Human, #2)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 3.62 — 2,657 ratings — published 2009
More Than Human (Paperback)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 3.93 — 19,511 ratings — published 1953
The Well of Ascension (Mistborn, #2)
by (shelved 3 times as post-human)
avg rating 4.38 — 663,214 ratings — published 2007
Islands of Abandonment: Life in the Post-Human Landscape (Hardcover)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.19 — 5,954 ratings — published 2021
Crux (Nexus, #2)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.14 — 10,473 ratings — published 2013
Fall; or, Dodge in Hell (Hardcover)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.58 — 20,180 ratings — published 2019
Empress of Forever (Paperback)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.77 — 4,069 ratings — published 2019
Exit Strategy (The Murderbot Diaries, #4)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.36 — 152,933 ratings — published 2018
MaddAddam (MaddAddam, #3)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.03 — 82,844 ratings — published 2013
For We Are Many (Bobiverse, #2)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.37 — 74,162 ratings — published 2017
The Girl with All the Gifts (The Girl With All the Gifts, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.95 — 245,665 ratings — published 2014
Childhood’s End (Mass Market Paperback)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.12 — 174,169 ratings — published 1953
Edge of Dark (The Glittering Edge, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.55 — 598 ratings — published 2015
Revelation Space (Revelation Space, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.99 — 61,992 ratings — published 2000
Lock In (Lock In, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.92 — 71,954 ratings — published 2014
Blood Music (Paperback)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.84 — 17,146 ratings — published 1985
Apex (Nexus, #3)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.17 — 7,794 ratings — published 2015
Ancillary Mercy (Imperial Radch, #3)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.22 — 50,204 ratings — published 2015
Post-Human Omnibus (ebook)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.75 — 4,625 ratings — published 2014
Human Plus (Post-Human, #4)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.85 — 1,300 ratings — published 2013
The Sky Is Falling (The God Slayers Quartet #2)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.81 — 58 ratings — published 2012
The Fall (The God Slayers Quartet, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.45 — 324 ratings — published 2012
Mistborn: The Final Empire (Mistborn, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.49 — 985,815 ratings — published 2006
Broken Angels (Takeshi Kovacs, #2)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.92 — 39,196 ratings — published 2003
Woken Furies (Takeshi Kovacs, #3)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.01 — 32,414 ratings — published 2005
The Naked God (Night's Dawn, #3)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.22 — 20,801 ratings — published 1999
The Reality Dysfunction (Night's Dawn, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.13 — 38,166 ratings — published 1996
The Neutronium Alchemist (Night's Dawn, #2)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.26 — 20,910 ratings — published 1997
Old Man's War (Old Man's War, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 4.23 — 225,593 ratings — published 2005
Trans-Human (Post-Human, #3)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.68 — 2,018 ratings — published 2011
Warm Bodies (Warm Bodies, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.91 — 109,593 ratings — published 2010
Sacred Fate (Chronicles of Ylandre, #1)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.99 — 2,257 ratings — published 2009
Quarantine (Paperback)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.91 — 6,329 ratings — published 1992
The Singularity is Near: When Humans Transcend Biology (Paperback)
by (shelved 2 times as post-human)
avg rating 3.93 — 12,597 ratings — published 2005
The Ophiuchi Hotline (Paperback)
by (shelved 1 time as post-human)
avg rating 3.90 — 4,028 ratings — published 1977
“Emotions - Happiness, anger, jealousy... is the mind experiencing "presence" in our holographic existence.”
― Memories With Maya
― Memories With Maya
“Rekonstruksi Mengelupas Mimpi // Versi Posthuman-Liris
Siapa yang berhak melarang kita mengelupas mimpi—
membukanya seperti kapsul masa lalu
yang telah lama berdebu dalam arsip cloud data?
Setiap mimpi adalah buah sunyi
dengan inti yang selalu berdetak.
Ketika kita memecah kulitnya,
kita tak hanya menemukan cahaya,
melainkan seluruh kerumunan metadata
yang mengawasi keberanian diri
untuk menjadi siapa kita yang sesungguhnya.
Dan mereka bertanya:
Apakah engkau yang memprogram pohon itu tumbuh,
atau pohon itu yang mengompilasi dirimu
dari luka, dari ingatan,
dari serpih-serpih kesunyian yang tak pernah sembuh?
Sebab luka pun punya bahasa.
Ia menulis dirinya
di bawah kulit gemetar kita
seperti skrip yang tak ingin dihapus
meski berulang kali menekan tombol revisi.
Narcissus—
hari ini tak lagi menatap sungai,
ia menatap pantulan dirinya
di layar simulakra yang membeku:
bahasa tubuhnya berubah
menjadi kode kesepian
yang hanya dimengerti oleh detak jantung manusia
dan algoritma yang diam-diam mempelajarinya.
Dan ketika sungai bertanya kepada laut,
Siapa yang menciptakan siapa?
Laut tak menjawab.
Ia hanya membuka jutaan pintu air
dan membiarkan semua pertanyaan mengalir
ke ruang tak bernama—
tempat segala sesuatu berasal
dan kembali hening.
Burung-burung di langit tak sekadar terbang;
di bulu mereka tersimpan blueprint gerak
yang diwariskan dari angin
kepada anak angin.
Mereka membawa pertanyaan
tentang harapan yang tak pernah tuntas,
tentang janji yang menunggu lunas
di tengah turbulensi
antara hidup, daya hidup dan kehancuran.
Dan cinta—
bukan lagi entitas milik kita,
bukan lagi perasaan sederhana.
Ia adalah protokol,
frekuensi yang terus mencari penerima yang tepat.
Melayang seperti sinyal radio
mencari jiwa yang sanggup menampungnya.
Pada akhirnya,
segala yang kita cari
akan menemukan kita kembali:
di antara jeda,
di antara napas,
di antara batas tipis
antara manusia dan yang bukan-manusia—
cuma simbol dan tanda-tanda.
Sebab mengelupas mimpi
adalah cara raga mengingat
bahwa ia selalu lebih dari apa yang tampak:
organisme yang sedang belajar terbang,
mesin yang sedang belajar merasa,
jiwa yang ingin kembali
ke tempat pertama kali ia dinamai.
Dan di sanalah,
kita bersiap tumbuh sekali lagi.
Bukan sebagai mesin pencari
bukan sebagai kecerdasan buatan
melainkan diri yang terus mencari dan berharap menemukan kebenaran.
November 2025”
―
Siapa yang berhak melarang kita mengelupas mimpi—
membukanya seperti kapsul masa lalu
yang telah lama berdebu dalam arsip cloud data?
Setiap mimpi adalah buah sunyi
dengan inti yang selalu berdetak.
Ketika kita memecah kulitnya,
kita tak hanya menemukan cahaya,
melainkan seluruh kerumunan metadata
yang mengawasi keberanian diri
untuk menjadi siapa kita yang sesungguhnya.
Dan mereka bertanya:
Apakah engkau yang memprogram pohon itu tumbuh,
atau pohon itu yang mengompilasi dirimu
dari luka, dari ingatan,
dari serpih-serpih kesunyian yang tak pernah sembuh?
Sebab luka pun punya bahasa.
Ia menulis dirinya
di bawah kulit gemetar kita
seperti skrip yang tak ingin dihapus
meski berulang kali menekan tombol revisi.
Narcissus—
hari ini tak lagi menatap sungai,
ia menatap pantulan dirinya
di layar simulakra yang membeku:
bahasa tubuhnya berubah
menjadi kode kesepian
yang hanya dimengerti oleh detak jantung manusia
dan algoritma yang diam-diam mempelajarinya.
Dan ketika sungai bertanya kepada laut,
Siapa yang menciptakan siapa?
Laut tak menjawab.
Ia hanya membuka jutaan pintu air
dan membiarkan semua pertanyaan mengalir
ke ruang tak bernama—
tempat segala sesuatu berasal
dan kembali hening.
Burung-burung di langit tak sekadar terbang;
di bulu mereka tersimpan blueprint gerak
yang diwariskan dari angin
kepada anak angin.
Mereka membawa pertanyaan
tentang harapan yang tak pernah tuntas,
tentang janji yang menunggu lunas
di tengah turbulensi
antara hidup, daya hidup dan kehancuran.
Dan cinta—
bukan lagi entitas milik kita,
bukan lagi perasaan sederhana.
Ia adalah protokol,
frekuensi yang terus mencari penerima yang tepat.
Melayang seperti sinyal radio
mencari jiwa yang sanggup menampungnya.
Pada akhirnya,
segala yang kita cari
akan menemukan kita kembali:
di antara jeda,
di antara napas,
di antara batas tipis
antara manusia dan yang bukan-manusia—
cuma simbol dan tanda-tanda.
Sebab mengelupas mimpi
adalah cara raga mengingat
bahwa ia selalu lebih dari apa yang tampak:
organisme yang sedang belajar terbang,
mesin yang sedang belajar merasa,
jiwa yang ingin kembali
ke tempat pertama kali ia dinamai.
Dan di sanalah,
kita bersiap tumbuh sekali lagi.
Bukan sebagai mesin pencari
bukan sebagai kecerdasan buatan
melainkan diri yang terus mencari dan berharap menemukan kebenaran.
November 2025”
―












