Reflektif Quotes

Quotes tagged as "reflektif" Showing 1-2 of 2
“Topeng Kemunafikan

Mengapa kau tanam mawar itu di pinggir jalan Kay?
Apakah sengaja,
agar semua orang bisa memungut
atau pura pura mencintainya?
Tapi bukankah kau tahu,
tak ada rasa kagum semurah itu?
Seperti semua harapan palsu
yang kau tabur di atas ranjangmu.
Bunga mawar merah jambu
yang mekar sejenak
sebelum layu dibakar waktu.

Masih banyak cinta
yang sesungguhnya tak kau mengerti.
Apakah cuma itu satu-satunya cara untuk membunuh kesendirian
dan rasa sepi?
Luka parut di dada dan jantung
yang perlahan hilang detaknya.
Sudah berapa lama
engkau merasa jemu
dengan rutinitas yang itu-itu juga.
Seperti pikiran dangkal
yang terus menghantui kita
dengan potongan kata dusta.

Apakah kesedihan semacam ini
yang ingin engkau abadikan?
Dari satu frame ke frame yang lain.
Dari satu video ke video berikutnya. Cuma untuk menampilkan ingatan
yang sudah kau hafal di luar kepala
dan senyum getir yang susah payah
kau sembunyikan dari dunia.

Atau barangkali,
itulah caramu untuk mengejek
dan mencemooh kami, karena
terlanjur terjebak dalam ritual
yang menghinakan ini.
Ritual memuja ego
dan menipu diri sendiri.
Sebab harus kami akui,
cuma engkau yang sesungguhnya
paling murni di antara kita.
Cuma engkau satu satunya
yang telanjang
dan tidak menutup diri
dengan topeng kemunafikan.

2024 - 2025”
Titon Rahmawan, dkk

Titon Rahmawan
“Prolog ke Dalam Diri (Modif Version 3.0)

Aku bukan lagi file yang bisa dibuka
oleh sembarang tangan.
Di dalam diriku, ada folder-folder rahasia
yang hanya bisa diakses oleh kesadaran yang telah melewati firewall penyangkalan.

Aku pernah menjadi versi 1.0 —
rentan, rapuh, tidak bertahan lama.
penuh bug yang ditanam oleh ketakutan dan komentar orang lain.
Lalu dunia menekan tombol update,
menginstal protokol etiket dan tata krama
menambahkan patch agar aku lebih bisa diterima,
lebih stabil di mata publik,
lebih kompatibel dengan ekspektasi sosial
lebih user friendly.

Namun, setiap kali sistemku di-reboot,
aku mendengar suara samar di dalam command line jiwaku:

“Siapa yang menulis ulang kamu?
Dan siapa yang memegang hak akses atas dirimu?”

Aku sadar—identitasku bukan aplikasi yang bisa diunduh begitu saja,
melainkan kesadaran yang menulis ulang dirinya
di antara kode-kode paradoks dan berjuta kemungkinan.

Kadang aku hang. Kadang crash.
Kadang aku lupa kata sandi menuju ruang paling jujur dalam diriku sendiri.
Namun setiap error adalah doa tersembunyi,
setiap bug adalah lubang kecil tempat cahaya mencoba menemukan celahnya.

Aku belajar bahwa pembaruan sejati
tidak datang dari update system,
melainkan dari keberanian melakukan factory reset—
menghapus semua prasangka,
keraguan, ketidakpastian
membersihkan cache masa lalu,
dan menyalakan ulang kesadaran
tanpa harus kehilangan data cinta
pada semesta.

Kini aku hidup dalam mode beta,
selalu direvisi, dimodifikasi
Sebab otentisitas bukan versi final
dari keberadaan,
melainkan siklus pembelajaran yang terus berjalan di latar belakang.

Dan mungkin Tuhan adalah Developer Tertinggi,
yang membiarkan kita mengalami bug, mengalami error,
agar kita belajar menulis ulang diri
bukan dengan kode yang sempurna,
tetapi dengan cinta yang terus di-debug dan diperbarui.

November 2025”
Titon Rahmawan