Anak yang Bercakap-cakap dengan Tuhan Quotes
Anak yang Bercakap-cakap dengan Tuhan
by
Nailal Fahmi1 rating, 4.00 average rating, 0 reviews
Anak yang Bercakap-cakap dengan Tuhan Quotes
Showing 1-7 of 7
“7
Kamu mencoba memahami perasaan ini dengan sebuah tangisan panjang dalam perjalanan. Sesuatu yang tidak bisa dibendung di dada akan meluap lewat mata. Padahal ketika tidak bicara dan cukup lama setia, perjalanan akan mengajakmu memahami makna.
Kamu berdoa semoga ingatan dan rindu menusuk jantungku kemudian membunuh dengan perlahan. Aku ingin cinta juga mengalir dalam nadi seperti ketika kamu menyebut namaku dalam hening dan rindu yang akan selalu sendu. Dan kita akan terluka bersama.”
― Anak yang Bercakap-cakap dengan Tuhan
Kamu mencoba memahami perasaan ini dengan sebuah tangisan panjang dalam perjalanan. Sesuatu yang tidak bisa dibendung di dada akan meluap lewat mata. Padahal ketika tidak bicara dan cukup lama setia, perjalanan akan mengajakmu memahami makna.
Kamu berdoa semoga ingatan dan rindu menusuk jantungku kemudian membunuh dengan perlahan. Aku ingin cinta juga mengalir dalam nadi seperti ketika kamu menyebut namaku dalam hening dan rindu yang akan selalu sendu. Dan kita akan terluka bersama.”
― Anak yang Bercakap-cakap dengan Tuhan
“Sebelum tidur ia berdoa,
"semoga lima
jam lagi aku terjaga
dan kuat menghadapi
luka yang sama.”
― Anak yang Bercakap-cakap dengan Tuhan
"semoga lima
jam lagi aku terjaga
dan kuat menghadapi
luka yang sama.”
― Anak yang Bercakap-cakap dengan Tuhan
“Batu di depan rumah
bertuliskan namamu.
Matahari mewarnai rambutnya,
hujan membasuh jiwanya.
Terkadang angin menggoncang
kepalanya yang batu
dan daun-daun mencoba
menggantinya dengan yang baru.
Ia kokoh di luar
hening di dalam.
Dalam namamu hidup batu
sebentuk arca yang membiru.”
― Anak yang Bercakap-cakap dengan Tuhan
bertuliskan namamu.
Matahari mewarnai rambutnya,
hujan membasuh jiwanya.
Terkadang angin menggoncang
kepalanya yang batu
dan daun-daun mencoba
menggantinya dengan yang baru.
Ia kokoh di luar
hening di dalam.
Dalam namamu hidup batu
sebentuk arca yang membiru.”
― Anak yang Bercakap-cakap dengan Tuhan
“Ia akan terus bersamamu: senja yang tidak pernah usang, awan yang memilih sendiri warnanya, pohon-pohon hutan yang tak pernah sudah kau jumlah, langit yang angkuh namun setia, dan biru samudra yang selalu melantunkan haleluya.
Mereka tahu dimana dan apa yang kamu lakukan. Puisi selalu membaca yang tak tertulis seperti mata yang tidak perlu penjelasan lidah tentang mentari sore yang ia pandang dari tepi jendela.
Kamu merasa membaca puisi
padahal ia yang membacamu.”
― Anak yang Bercakap-cakap dengan Tuhan
Mereka tahu dimana dan apa yang kamu lakukan. Puisi selalu membaca yang tak tertulis seperti mata yang tidak perlu penjelasan lidah tentang mentari sore yang ia pandang dari tepi jendela.
Kamu merasa membaca puisi
padahal ia yang membacamu.”
― Anak yang Bercakap-cakap dengan Tuhan
“Menerka petunjuk Tuhan
dalam hitungan
kelopak kembang;
Love me
Love me not
Play dice
God does not
Tuhan berkawan sepi.
Bunga mekar tanpa suara
dan cahaya menghangatkan tanpa kata.”
― Anak yang Bercakap-cakap dengan Tuhan
dalam hitungan
kelopak kembang;
Love me
Love me not
Play dice
God does not
Tuhan berkawan sepi.
Bunga mekar tanpa suara
dan cahaya menghangatkan tanpa kata.”
― Anak yang Bercakap-cakap dengan Tuhan
“Mengapa
tak kamu baca
buku-bukumu?
Tak ada waktu.
Karena sudah habis
ku
buang-buang.”
― Anak yang Bercakap-cakap dengan Tuhan
tak kamu baca
buku-bukumu?
Tak ada waktu.
Karena sudah habis
ku
buang-buang.”
― Anak yang Bercakap-cakap dengan Tuhan
“Puisi ini milikmu sekarang
hasil berhutang pada penyairmu
yang tidak akan sempat kau bayar
dengan sepadan.
Ia bilang, "Anggap saja pemberian,
berikan pada orang lain,
jika kamu sudah berkecukupan.”
― Anak yang Bercakap-cakap dengan Tuhan
hasil berhutang pada penyairmu
yang tidak akan sempat kau bayar
dengan sepadan.
Ia bilang, "Anggap saja pemberian,
berikan pada orang lain,
jika kamu sudah berkecukupan.”
― Anak yang Bercakap-cakap dengan Tuhan
