Mutiara Quotes

Rate this book
Clear rating
Mutiara: Suatu Ketika Pada Sebuah Cinta Mutiara: Suatu Ketika Pada Sebuah Cinta by Nailal Fahmi
1 rating, 3.00 average rating, 0 reviews
Mutiara Quotes Showing 1-10 of 10
“Begitulah cara Tuhan mengajari manusia. Ia membiarkan kita gelisah untuk mengajarkan keberanian. Ia memberikan rasa kehilangan untuk mengajarkan kesabaran. Dan memberikan sakit agar lebih tangguh.”
Nailal Fahmi, Mutiara: Suatu Ketika Pada Sebuah Cinta
tags: tuhan
“‚Jadi Tia harus nyerah?‛

‚Bukan. Tawakal itu berbeda dengan menyerah, Tia.‛ Ayah menjawab lembut, ‚tawakal itu harus disertai usaha yang sungguh-sungguh sebelumnya. Tia harus berusaha dalam batas-batas yang dibenarkan, dengan ambisi untuk meraih sesuatu, setelah itu barulah bertawakal. Tawakal itu menjadikan Allah sebagai wakil, jadi kamu tidak larut dalam kesedihan, karena kamu yakin bahwa Sang Wakil pasti bertindak dengan bijaksana, menetapkan pilihan yang terbaik untuk kamu.‛

Tiara masih diam.”
Nailal Fahmi, Mutiara: Suatu Ketika Pada Sebuah Cinta
“Orang-orang menjadi sangat fasih mengajari orang lain bagaimana caranya hidup. Jika hidup orang lain tidak seperti hidup mereka, maka mereka akan marah.”
Nailal Fahmi, Mutiara: Suatu Ketika Pada Sebuah Cinta
“Ia benci menangis, apalagi menangis di depan orang, karena tidak ada gunanya, tidak menyelesaikan masalah. Namun dalam tangisan yang diam-diam, ia menemukan satu rasa yang menenangkan. Ia menikmati rasa lega yang timbul setelah isaknya.”
Nailal Fahmi, Mutiara: Suatu Ketika Pada Sebuah Cinta
“Hal yang paling menyakitkan dari penghianatan adalah kamu hanya bisa dihianati oleh orang yang sungguh-sungguh kamu percayai.”
Nailal Fahmi, Mutiara: Suatu Ketika Pada Sebuah Cinta
“Tidak ada angka yang buruk atau baik. Angka besar tidak selalu baik, begitupun angka kecil tidak selalu buruk. Tergantung berapa kotak yang ada di hadapan. Apakah langkah akan berhenti di ular atau tangga. Hidup itu menarik, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Bahkan ketika sesuatu seperti dekat dalam jangkauan, tidak menjamin bisa diraih dengan mudah. Semua hal bisa pergi, hanya masalah waktu.”
Nailal Fahmi, Mutiara: Suatu Ketika Pada Sebuah Cinta
tags: hidup
“Pernikahan, keluarga, anak-anak yang sering kita lihat dan merupakan hal yang biasa saja, bisa jadi pada sebagian orang adalah sebuah kemewahan.”
Nailal Fahmi, Mutiara: Suatu Ketika Pada Sebuah Cinta
“Hal yang paling menyakitkan dari pengkhianatan adalah kamu hanya bisa dikhianati oleh orang yang sungguh-sungguh kamu percayai. Pada orang yang dari awal kau ragukan, pengkhianatan tidak akan terlalu menyakitkan. Hanya orang yang benar-benar kita cintai yang bisa menyakiti kita.”
Nailal Fahmi, Mutiara: Suatu Ketika Pada Sebuah Cinta
“Pada akhirnya ia yang mesti menghadapi rasa itu sendirian. Ia harus bisa berdamai dengan diri sendiri. Merangkul rasa sakit yang semakin mematangkan jiwanya. Rasa itu mengajarinya menjadi diri sendiri tanpa mencemaskan apapun. Ia tahu, sekarang adalah saat yang tepat untuk berserah. Melepaskan semua. Membiarkan semesta mengajarinya sesuatu.”
Nailal Fahmi, Mutiara: Suatu Ketika Pada Sebuah Cinta
“Tiara ingin marah. Marah pada siapa saja. Marah kepada Ale yang tidak bisa memegang kata-katanya. Marah kepada abah Ale karena tega memisahkan dia dengan Ale karena alasan yang dibuat-buat. Marah kepada orang-orang yang selalu menuntutnya menikah. Bahkan marah kepada dirinya sendiri yang telah menaruh harapan terlalu besar. Hal yang paling menyakitkan dari pengkhianatan adalah kamu hanya bisa dikhianati oleh orang yang sungguh-sungguh kamu percayai. Pada orang yang dari awal kau ragukan, pengkhianatan tidak akan terlalu menyakitkan. Hanya orang yang benar-benar kita cintai yang bisa menyakiti kita.”
Nailal Fahmi, Mutiara: Suatu Ketika Pada Sebuah Cinta