Oksimoron Quotes

Rate this book
Clear rating
Oksimoron: Merawat Ketololan, Merayakan Kekonyolan Oksimoron: Merawat Ketololan, Merayakan Kekonyolan by Andi Fitriyanto
0 ratings, 0.00 average rating, 0 reviews
Oksimoron Quotes Showing 1-5 of 5
“Histori perbudakan islam menunjukkan ironi mendalam. Islam tidak menghancurkan perbudakan, tetapi mengislamkannya. Budak jadi properti, alat ritual, bahkan komoditas seksual. Pasar budak, harem, dan pasukan budak berkuasa adalah bagian integral dunia Islam. Abolisi datang bukan dari fiqh atau qur’an, tetapi dari tekanan barat modern. Jika kita jujur, histori perbudakan dalam Islam adalah bukti paling telanjang bahwa agama ini tidak steril dari dosa sejarah yang sama dengan peradaban lain. Bedanya, dosa ini dikuduskan, dipoles dengan bahasa “syariat”, dan diawetkan berabad-abad.”
Andi Fitriyanto, Oksimoron: Merawat Ketololan, Merayakan Kekonyolan
“Kita adalah spesies yang sedang mencari makna dalam semesta yang tak bermakna. Kita menciptakan kitab suci, hukum moral, dan impian utopis demi bertahan hidup dalam kekacauan kosmis ini. Tetapi kita juga harus cukup rendah hati untuk mengakui: bahwa semua itu tidak lebih dari sandi-sandi simbolik untuk mengatasi absurditas keberadaan.”
Andi Fitriyanto, Oksimoron: Merawat Ketololan, Merayakan Kekonyolan
“Manusia adalah spesies aneh: cerdas, tetapi religius; logis, tetapi mitologis; ilmiah, tetapi mistis. Kita menyembah Tuhan dengan cara yang sama kita menyembah selebritas, teknologi, dan ideologi. Mungkin agama adalah kelemahan evolusi yang kita romantisasi sebagai kebijaksanaan. Atau sebaliknya, adaptasi yang membuat kita selamat sejauh ini, meski dengan harga darah.”
Andi Fitriyanto, Oksimoron: Merawat Ketololan, Merayakan Kekonyolan
“Dengan mengakui bahwa emosi adalah bagian dari sistem kognisi, dan bukan musuhnya, manusia dapat membangun harmoni antara logika dan afeksi.”
Andi Fitriyanto, Oksimoron: Merawat Ketololan, Merayakan Kekonyolan
“Histori perbudakan islam menunjukkan ironi mendalam. Islam tidak menghancurkan perbudakan, tetapi mengislamkannya. Budak jadi properti, alat ritual, bahkan komoditas seksual. Pasar budak, harem, dan pasukan budak berkuasa adalah bagian integral dunia Islam. Abolisi datang bukan dari fiqh atau qur’an,
Tetapi dari tekanan barat modern. Jika kita jujur, histori perbudakan dalam Islam adalah bukti paling telanjang bahwa agama ini tidak steril dari dosa sejarah yang sama dengan peradaban lain. Bedanya, dosa ini dikuduskan, dipoles dengan bahasa “syariat”, dan diawetkan berabad-abad.”
Andi Fitriyanto, Oksimoron: Merawat Ketololan, Merayakan Kekonyolan