Soekarno Quotes

Quotes tagged as "soekarno" Showing 1-26 of 26
Cindy Adams
“Kalau aku memarahimu, itu berarti aku mencintaimu. Aku melampiaskan marahku kepada orang-orang terdekat dan paling kusayangi. Ibaratnya merekalah papan peredam suaraku.”
Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Mohammad Hatta
“Dalam jangka waktu lama, Indonesia hidup dalam bayangan feodalisme. Tetap neofeodalisme Soekarno lebih jahat dan lebih ganas.”
Mohammad Hatta

Cindy Adams
“Sebuah otobiografi tak berbeda dengan pembedahan mental. Sangat sakit. Melepas plester pembalut luka-luka dari ingatan seseorang dan membuka luka-luka itu, banyak diantaranya yang mulai sembuh terasa perih.”
Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Cindy Adams
“Jangan bikin kepalamu menjadi perpustakaan. Pergunakan pengetahuanmu untuk diamalkan - Swarni Vivekananda”
Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Cindy Adams
“Bukankah hubungan internasional itu adalah hubungan antar manusia dalam skala yang lebih besar?”
Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Cindy Adams
“Sering kali aku duduk di beranda Istana Merdeka, seorang diri. Beranda itu tidak begitu bagus. Separuh tertutup awning untuk mengurangi panas dan sinar matahari, satu-satunya perabotannya adalah kursi rotan tanpa kain pelapis yang tidak dicat dan meja bertaplak kain batik bikinan negeriku. Satu-satunya hak khusus yang diberikan padaku karena jabatanku yang tinggi adalah sebuah kursi dengan bantal di atasnya. Itulah yang disebut dengan "Kursi Presiden". Dan aku duduk di sana. Dan menatap. Dan memandang keluar ke taman indah dan menyegarkan, yang tanamannya kuatur dengan tanganku sendiri. Dan aku merasa sangat kesepian.

Aku ingin berbaur dengan rakyat. Itulah yanh menjadi sifatku. Tetapi sekarang aku tidak dapat lagi berbuat demikian. Sering aku merasa tercekik, napasku mau berhenti, apabila aku tidak bisa pergi keluar dan bersatu dengan rakyat jelata yang melahirkanku.”
Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Cindy Adams
“Bagaimana aku bisa mengetahui apa yang akan terjadi terhadap diriku? Siapa yang dapat menceritakan bagaimana kehidupanku di masa depan? Itulah sebabnya aku selalu menolak hal ini, karena aku yakin bahwa buruk-baiknya kehidupan seseorang hanya dapat dinilai setelah dia mati.”
Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Cindy Adams
“Anda tidak bisa menemui semua orang di seluruh dunia secara pribadi, tetapi Anda bisa menemui mereka lewat halaman-halaman buku. Anda adalah ahli pidato terbesar setelah William Jennings Bryan. Anda menawan hati jutaan pendengar di lapangan terbuka. Mengapa tidak berusaha mencapai jumlah pendengar yang lebih besar lagi?”
Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Cindy Adams
“Begini. Sebuah otobiografi tidak ada nilainya, kecuali jika si penulis merasa kehidupannya tidak berguna. Kalau dia memganggap dirinya orang besar, karyanya akan menjadi subjektif. Tidak objektif. Otobiografiku hanya mungkin jika ada keseimbangan antara keduanya. Sekian banyak yang baik-baik supaya dapat mengurangi egoku dan sekian banyak yang jelek-jelek sehingga orang mau membeli buku itu. Kalau dimasukkan yang baik-baik saja, orang akan menyebutku egois, karena memuji diri sendiri. Sebaliknya memasukkan yang jelek-jelek saja akan menimbulkan suasana mental yang buruk bagi rakyatku sendiri. Hanya setelah mati dunia ini dapat menimbang dengan jujur, apakah Sukarno manusia yang baik ataukah manusia yang buruk? Hanya di saat itulah dia baru dapat diadili.”
Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Cindy Adams
“Sarinah mengajarku untuk mencintai rakyat. Rakyat kecil.”
Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Cindy Adams
“Aku boleh saja dianggap tukang bercinta, tetapi aku bukanlah pembunuh seorang gadis remaja.”
Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Cindy Adams
“Maaf, Bapak-Bapak. Aku adalah pemberontak dan akan selalu memberontak. Aku tidak mau didikte di hari pernikahanku.”
Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Cindy Adams
“Tetap wartawan-wartawan terus saja menulis bahwa aku ini seorang 'budak Moskow'. Baiklah kujelaskan sekali lagi dan untuk terakhir kali. Aku bukan, tidak pernah dan tidak mungkin menjadi seorang komunis. Aku membungkukkan diri ke Moskow? Setiap orang yang pernah dekat dengan Sukarno mengetahui, dia memiliki ego yang terlalu besar untuk bisa menjadi budak dari seseorang, kecuali budak dari rakyatnya.

Aku memiliki ego. Itu kuakui. Tapi apakah seorang yang tanpa ego bisa mempersatukan 10.000 pulau menjadi satu bangsa. Dan aku memang tinggi hati. Siapa pula yang tidak demikian? Bukankah setiap orang ingin mendapat pujian?”
Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Cindy Adams
“Lebih oenting dari bahasa kata-kata yang tertulis adalah bahasa yang keluar dari lubuk hati.”
Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Cindy Adams
“Aku ini bukan apa-apa tanpa rakyat. Aku besar karena rakyat, aku berjuang karena rakyat dan aku oenyambung lidah rakyat.”
Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Cindy Adams
“Bila kawan-kawan menhingatkan aku untuk beristirahat atau pensiun untuk memelihara diriku, aku menjawab "Pensiun? Aku tidak bisa. Aku tidak bisa menjalani sisa hidupku dalam keadaan damai dan bebas dari ketakutan akan pembunuhan. Tidak. Aku harus bekerja untuk bamgsaku sampai tarikan nafas terakhirku."

Selain itu, kemana aku pergi? Aku tidak memiliki rumah sendiei. Tidak ada tanah. Tidak ada tabungan. Lebih dari sekali aku tidak mempunyai sisa uang untuk pengeluaran rumah tanggaku. Di sebuah negara, Duta Besar kami terpaksa membeli piyama untukku. Satu-satunya piyama presiden sudah sobek. Negara menyediakan tempat tinggal dengan cuma-cuma, bebas pemakaian listrik, empat buah mobil resmi dan tiga di garasi untuk tamu negara, BUKAN 15 mobil pribadi seperti diberitakan oleh sebuah majalah luar negeri, dan mereka membelikan pakaian seragamku. Tetapi akulah satu-satunya presiden di dunia yang tidak punya rumah sendiri. Baru-baru ini rakyatku menggalang dana untuk membangun sebuah gedung buatku, tapi di hati berikutnya aku melarangnya, ini bertentangan dengan pendirianku. Aku tidak mau mengambil sesuatu dari rakyatku. Aku justru ingin memberi mereka.”
Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Cindy Adams
“Aku ingin melihat kehidupan. Aku milik rakyat. Aku harus melihat mereka, aku harus mendengarkan mereka, dan bersentuhan dengan mereka. Aku merasa bahagia kalau berada di tengah mereka. Bagiku mereka adalah roti kehidupan. Aku membutuhkan massa rakyat.”
Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Cindy Adams
“Itulah sebabnya mengapa persoalan-persoalan Asia harus diselesaikan dengan cara Asia.”
Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Cindy Adams
“Semboyan negeri kami adalah Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi satu.”
Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Cindy Adams
“Sekalipun dililit oleh rumput-rumput kemelaratan, bunga-bunga kasih sayang tetap mengelilingiku. Aku akhirnya menyadari bahwa kasih sayang menghapus segala yang buruk. Hasrat untuk mencintai telah menjadi salah satu kekuatan pendorong dalam hidupku.”
Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Cindy Adams
“Karno, di atas segalanya engkau harus mencintai ibumu. Tapi berikutnya engkau harus mencintai rakyat kecil. Engkau harus mencintai umat manusia.”
Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Cindy Adams
“Makahan waktu itu nasibku adalah untuk menaklukkan, bukan untuk ditaklukkan.”
Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Cindy Adams
“Aku pergi tidur dengan pikiran untuk merdeka. Aku bangun dengan pikiran untuk merdeka. Dan aku akan mati dengan cita-cita ini di dalam dadaku.”
Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Cindy Adams
“Tuan-Tuan, aku tidak ingin disebut seorang veteran. Sampai masuk ke liang kubur aku ingin menjadi pejuang ubtuk Republik Indonesia - Dr. Douwes Dekker”
Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Mochtar Lubis
“Saya ngeri, umpamanya, membaca betapa Sarwito dan Sujono, yang keduanya telah mendapat pendidikan modern, telah mengenal rasionalita, akan tetap imasih pergi mencari wahyu-wahyu dari gunung ke gunung, ke dalam hutan dan gua, dan berdasarkan alamat-alamat yang mereka terima dari kayangan (di mana pula itu kayangan?) lalu mendapat keyakinan dan petunjuk untuk mengambil berbagai putusan dan tindakan.

Coba bayangkan, apabila segala rupa kebijaksanaan negara, umpamanya, didasarkan pada wahyu dan petunjuk-petunjuk yang sepenuhnya irasional seperti ini, alangkah berbahayanya bagi penghidupan bangsa kita. Siapa tahu dahulu saya ditahan begitu lama di zaman pemerintah Soekarno, karena Soekarno atau dukunnya pada suatu malam mendapat mimpi, dia mendaki gunung yang amat tinggi, sampai tergelincir jatuh. Lalu esok paginya melapor pada Soekarno, awas hati-hati terhadap seorang jangkung!”
Mochtar Lubis, Manusia Indonesia

“100 Soekarno tak akan mampu mengubah negeri ini jika kerjamu ribut melulu”
Iwan Esjepe