Esai Quotes

Quotes tagged as "esai" Showing 1-2 of 2
Titon Rahmawan
“LIMA MONOLOG KOSMIK:
Tubuh yang Dijadikan Alibi

1. Dina — Kota yang Tidak Pernah Mengingat Namaku

Aku bukan perawan yang diperkosa, bukan gadis muda yang diculik, bukan putri Yakub.
Aku adalah retakan di antara dua kota, celah tempat laki-laki menyembunyikan dendam.

Ketika tubuhku disentuh, bumi tidak bergetar;
yang bergetar hanyalah pisau yang disembunyikan saudara-saudaraku Simeon dan Lewi di balik jubahnya.
Mereka bilang mereka mencintaiku,
tetapi cinta mereka menumpahkan darah,
dan darah itu —kau tahu— bukan milikku.

Namaku berubah menjadi dalih,
seperti genderang yang dibunyikan sebelum perang.
Tubuhku menjadi alasan yang tidak kulakukan,
dan kota itu—
terbakar oleh kehendak laki-laki yang memakai aibku sebagai sangkakala pembenaran.

Aku masih berjalan di antara reruntuhan moral yang mereka tinggalkan,
mengumpulkan sisa-sisa tulang,
bertanya kepada angin gurun:
“Di mana yang disebut kehormatan saat aku yang terluka,
tapi mereka yang membunuh?”

Tidak ada jawaban.
Yang ada hanya bayanganku sendiri,
terbelah dua:
yang satu korban,
yang lain—
alasan bagi dunia untuk saling menghancurkan.

3. Susanna — Taman yang Tidak Pernah Memilih untuk Menjadi Saksi

Aku berjalan ke taman untuk mencari air,
bukan untuk menjadi tontonan.
Tetapi laki-laki yang haus kekuasaan selalu melihat tubuh perempuan
sebagai pintu yang bisa didobrak.

Mereka menuduhku—
oh, mereka selalu cepat dalam hal itu—
seolah kebohongan yang diucapkan dua orang tua
lebih berat timbangannya daripada kebenaran
yang keluar dari mulut seorang perempuan yang gemetar.

Tubuhku menjadi jerat hukum,
tempat para hakim menguji integritasnya sendiri.
Aku berdiri sendirian di tengah lingkaran para pengamat,
dan dunia bertanya:
“Benarkah kau tidak bersalah?”

Tetapi tidak ada yang benar-benar ingin mendengar jawabanku.
Mereka hanya ingin alibi;
mereka hanya ingin menyalakan api moral
untuk menghangatkan ego mereka yang dingin.

Namun lihatlah:
kebohongan akhirnya mematahkan dirinya sendiri.
Kebenaran mungkin lambat,
tapi ia selalu membawa mata yang terlatih untuk melihat celah.

Dan aku—
aku tetap menjadi taman,
bukan tanah tempat kehormatan mereka ditanam.
Aku hanya ingin mengatakan:
“Kesucian tidak pernah menjadi milik orang yang menuduh,
melainkan milik orang yang bertahan
meskipun seluruh dunia menatap dengan mata yang menghakimi.”
Titon Rahmawan
tags: esai, puisi

Titon Rahmawan
“LIMA MONOLOG KOSMIK:
Tubuh yang Dijadikan Alibi

4. Batsyeba — Air yang Jatuh dari Atap Istana

Aku mandi di bawah cahaya senja
dan menjadi cermin bagi seorang raja yang kehilangan dirinya.
Mereka menuduhku penggoda.
Seolah aku yang menulis surat perintah pembunuhan itu,
seolah aku yang menabur benih ambisi di atas ranjang kekuasaan.

Tidak.
Aku hanyalah air yang jatuh dari tubuhku sendiri,
Air mata yang luruh ke dalam sejarah yang tidak kuminta.

Ketika pintu istana terbuka,
aku melangkah masuk bukan sebagai ratu,
tapi sebagai pertukaran:
nyawa suamiku diganti dengan tempat di dalam rahimku.

Tubuhku menjadi akta politik.
Anak dalam tubuhku menjadi legitimasi.
Kesedihanku menjadi hiasan bagi hikayat raja yang ingin terlihat suci.

Tidak ada yang menanyakan apakah aku menginginkannya
Tidak ada yang mempermasalahkan bila tubuhku ternyata bukan milikku.
Mereka lebih sibuk menulis pujian tentang raja yang selamanya mulia,
daripada mendengar suara air yang pernah jatuh dari atap,
mengabarkan:
“Kesucian seorang lelaki selalu dibangun dari
air mata perempuan yang sengaja disembunyikan.”

4. Tamar — Gaun Robek Sebelah Dada

Aku datang hanya untuk membawa roti bagi seorang saudara.
Sungguh sederhana—
begitu sederhana sehingga dunia tidak menganggapnya berbahaya.
Sampai tangan itu menutup pintu.
Sampai suaraku patah.
Sampai tubuhku terbelah menjadi sebelum dan sesudah.

Ketika aku keluar dari kamar itu,
gaunku robek di sisi jantung.
Robekan itu bukan tanda kehinaan;
itu adalah peta jalan menuju kebenaran
yang tidak sanggup dibaca oleh siapa pun.

Ayahku diam.
Saudaraku murka.
Negeri ini mencatat tragedi itu sebagai alasan pembunuhan,
bukan sebagai seruan keadilan bagi diriku.

Tubuhku menjadi mata air kebencian,
dan dari mata air itu lahir pemberontakan,
darah saudara,
hilangnya martabat raja.

Mereka menyebutku korban.
Mereka menyebutku sumber bencana.
Sebenarnya aku hanya perempuan yang kehilangan suara,
dan dunia—
dunia memanfaatkan kesunyianku
sebagai genderang perang.

Hingga kini aku masih meletakkan abu di kepalaku dan membawa gaun itu:
robek di sebelah dada,
menjadi bendera kecil
yang berkibar dalam angin sejarah.
Tidak untuk memohon belas kasihan,
tetapi untuk mengingatkan:
“Luka yang tidak dipulihkan
selalu menjadi alasan bagi sebuah kehancuran.”

5. Maria Magdalena — Kebenaran Tanpa Dada, Tanpa Luka

Aku adalah tubuh yang menjadi perumpamaan,
bukan perempuan yang bernapas dengan paru-paru.
Mereka menulis namaku dengan tinta pengampunan,
tapi memahat tubuhku dengan stigma yang tak layak kuterima, batu yang hendak merajam tubuhku.

Orang-orang berkata aku wanita pendosa.
Orang-orang yang sama menaruh tangannya di pundakku untuk mencari keselamatan.
Sungguh aneh, bukan?
Aku yang dianggap kotor justru menjadi cermin air tempat mereka datang mencari wajah Tuhan.

Aku mencium debu dari kaki seorang lelaki yang membawa terang;
tetapi dunia hanya melihat ikal rambutku, bukan jiwaku.
Mereka menghapusku dari sejarah
agar yang kudus tetap bersih dan yang manusia tetap bersalah.

Setiap malam aku mendengar suaraku sendiri memantul di dalam gua:
“Jika aku pendosa, mengapa aku berdiri yang paling depan mengetuk pintu belas kasihan?”

Mungkin dosa bukan milikku.
Mungkin dosa adalah nama yang diberikan dunia pada perempuan
yang berani melihat wajahnya sendiri yang penuh luka.”

Aku tidak suci.
Aku tidak najis, jika itu sangkamu.
Aku hanya perempuan yang menolak diam.
Dan dunia—
dunia tidak pernah siap menghadapi perempuan yang tahu
bahwa air mata adalah saksi yang lebih jujur daripada kitab apa pun.

Desember 2025”
Titon Rahmawan
tags: esai, puisi