Norma > Norma's Quotes

Showing 1-7 of 7
sort by

  • #1
    Helvy Tiana Rosa
    “Ketika kau masih bertemu pagi
    dan putuskan diri untuk berdiri menghadapi
    berjuang dengan hati di jalan Illahi
    maka saat itu
    kau telah mengakhiri hari
    dengan satu lagi kemenangan sejati

    Helvy Tiana Rosa, Risalah Cinta

  • #4
    Tere Liye
    “Wahai, wanita-wanita yang hingga usia tiga puluh, empat puluh, atau lebih dari itu, tapi belum juga menikah (mungkin kerana kekurangan fizikal, tidak ada kesempatan, atau tidak pernah 'terpilih' di dunia yang amat keterlaluan mencintai harta dan penampilan wajah.) Yakinlah, wanita-wanita solehah yang sendiri, namun tetap mengisi hidupnya dengan indah, bersedekah dan berkongsi, berbuat baik dan bersyukur. Kelak di hari akhir sungguh akan menjadi bidadari-bidadari syurga. Dan khabar baik itu pastilah benar, bidadari syurga parasnya cantik luar biasa.”
    Tere Liye, Bidadari Bidadari Surga

  • #5
    Dee Lestari
    “Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkan ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang?”
    dee, Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade

  • #6
    Dee Lestari
    “kenangan itu cuma hantu di sudut pikir. selama kita diam dan ngga berbuat apa-apa, selamanya dia tetap jadi hantu, ngga akan pernah jadi kenyataan.”
    dee

  • #7
    Dee Lestari
    “Momentum tidak dapat dikejar. Momentum hadir. Begitu ia lewat ia tidak lagi sebuah momentum. Ia menjadi kenangan. Dan kenangan tidak akan membawa Anda kemana-mana. Kenangan adalah batu-batu di antara aliran sungai. Anda seharusnya menjadi arus bukan batu.”
    Dee

  • #8
    Dee Lestari
    “Keheningan seakan memiliki jantung. Denyutnya terasa satu-satu, membawa apa yang tak terucap. Sejenak berayun di udara, lalu bagaikan gelombang air bisikan itu mengalir, sampai akhirnya berlabuh di hati.”
    Dee, Perahu Kertas

  • #9
    Mohammad Hatta
    “Demokrasi hanya berjalan kalau disertai rasa tanggung jawab. Tidak ada demokrasi tanpa tanggung jawab. Dan, demokrasi yang melewati batasnya dan meluap menjadi anarki akan menemui ajalnya dan digantikan sementara waktu oleh diktator.”
    Mohammad Hatta, Demokrasi Kita: Idealisme dan Realitas Serta Unsur yang memperkuatnya



Rss