Voyage de Paris à Java / Un drame au bord de la mer Quotes

Rate this book
Clear rating
Voyage de Paris à Java / Un drame au bord de la mer Voyage de Paris à Java / Un drame au bord de la mer by Honoré de Balzac
26 ratings, 3.46 average rating, 4 reviews
Voyage de Paris à Java / Un drame au bord de la mer Quotes Showing 1-8 of 8
“...kota Paris yang memalukan dalam hal selera dan miskin bahagia; di mana jerat pajak mencengkeram sebuah kereta atau mungkin bahkan juga dikenakan pada kenyal payudara...! Ah... betapa tanah Hindia adalah surga bagi gairah...! Sedang Paris, menurut kata orang, adalah surga bagi nalar...! Pemikiran demikian ini lumayan menghibur. Meski bukankah penghiburan paling nyata adalah jika bisa menjumpai seorang perempuan Jawa di kota Paris ini?”
Honoré de Balzac, Voyage de Paris à Java / Un drame au bord de la mer
“Lagi pula tak ada satu pun kota di Eropa yang bisa memberi potret sahih tentang kota Batavia. Penduduk kota Paris, yang terbiasa dengan jalanan berbau dan teramat kotor, juga plaster temboknya yang buruk, tak akan pernah mengerti tentang kemewahan dan keanggunan rumah-rumah di Jawa, demikian pula di kalkuta, yang saban tahun dikuas dengan lumuran baru dari batu gamping. Lapisan ini memberi kesan selaksa perak mewah, dan garis-garis tata bangunan teramat jelas tergambar rapi. Di kota ini, ada banyak rumah yang dengan mudah melampaui kemegahan istana di Eropa.”
Honoré de Balzac, Voyage de Paris à Java / Un drame au bord de la mer
“Namun, tantangan dalam hidup bukanlah terletak pada panjang-pendeknya, tetapi pada kualitasnya, pada seberapa banyak kejutan heboh yang ditimbulkan.”
Honoré de Balzac, Voyage de Paris à Java / Un drame au bord de la mer
“Sementara tentang biji kopi, ia mampu menimbulkan kehangatan menyengat! Ia merasuk dalam otak ibarat kegembiraan Dewi Mainad yang dimabuk pesta. Ketika ia mulai meresap, nalarmu menjadi pendek dan kusut, pula polos dan kosong, mengkerut seperti sanca Dewi Pythia sang peramal; dan, pada puncak pengaruh, ia menjelma seorang pujangga mempermainkan seratus tafsir makna; ia mampu merusak jiwa sebagaimana anggur bisa merusak raga.”
Honoré de Balzac, Voyage de Paris à Java / Un drame au bord de la mer
“Eropa serasa tak punya daya, sebab hanya bangsa Asia dan Tuhan-lah yang mampu mencipta kenikmatan sebegitu rupa, yang tak bisa diucap melalui kata, ibarat dekap hangat dua hati yang melantunkan nyanyi mistis.”
Honoré de Balzac, Voyage de Paris à Java / Un drame au bord de la mer
“Malangnya, aku adalah seorang yang teramat buruk dalam hal ilmu alam, karenanya aku kerap mengabaikan banyak peristiwa ajaib melalui pengamatan yang hanya sepintas. Aku tak bisa menceritakan padamu berapa jumlah bulu sayap makhluk nan puitis ini, tak pula bisa menjelaskan di mana persisnya letak lubang hidung dalam paruhnya, atau apakah kedua rahangnya terhubung baik maupun bagaimanakah wujud tulang kakinya. Tapi bagaimanapun juga, gelatik ini adalah milikku...! Dia punyaku. Hanya aku yang mampu mendengar dan mengerti. Betul, burung ini, paling tidak pada kicauannya, adalah sebentuk rahasia antara jiwaku dan langit, seperti syair sendu terlukis dalam catatan Webber yang tetap menyimpan misteri antara dua orang yang saling mencintai.”
Honoré de Balzac, Voyage de Paris à Java / Un drame au bord de la mer
“Kelak, sendainya ketika pulau Jawa tak lagi punya hiasan berupa musim semi yang berlangsung sepanjang masa, tak lagi punya panorama alam yang memesona, juga tak lagi punya rimbanya yang perawan, pula tak lagi ada kota-kota yang ramai oleh beragam suku bangsa, di mana bisa kau jumpai perpaduan keanggunan ala India dan kemewahan khas Eropa; atau pada akhirnya ketika pulau itu bisa bersih dari para bidadarinya yang menggairahkan, dan menyisakan hanya kawanan burung gelatik, maka sudah seharusnya kunjungan ziarah ke tanah Jawa tetap dilakukan demi mempelajari samai pada tingkat mana alam liar ini bisa menandingi kemampuan manusia dalam mencipta irama.”
Honoré de Balzac, Voyage de Paris à Java / Un drame au bord de la mer
“Semua orang yang sudah tak punya gairah hidup atau jemu setelah kenyang kesenangan, semestinya juga pergi ke Jawa. Mereka akan menemukan sebuah hidup penuh warna bak lukisan kisah kematian raja Sardanapalus!”
Honoré de Balzac, Voyage de Paris à Java / Un drame au bord de la mer