Larasati Quotes

Rate this book
Clear rating
Larasati Larasati by Pramoedya Ananta Toer
1,875 ratings, 3.73 average rating, 185 reviews
Larasati Quotes Showing 1-30 of 39
“Ada yang membunuh. Ada yang dibunuh. Ada peraturan. Ada undang-undang. Ada pembesar, polisi, dan militer. Hanya satu yang tidak ada: keadilan.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Apa gunanya memaki? Mereka memang anjing. Mereka memang binatang. Dulu bisa mengadu, dulu ada pengadilan. Dulu ada polisi, kalau duit kita dicolong tetangga kita. Apa sekarang? Hakim-hakim, jaksa-jaksa yang sekarang juga nyolong kita punya. Siapa mesti mengadili kalau hakim dan jaksanya sendiri pencuri?”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Indahnya dunia ini jika pemuda masih tahu perjuangan!”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Dia seniman, hidup hanya di alam perasaan - Mardjohan”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Sia-sianya dunia ini kalau untuk meningkatkan satu orang yang lain mesti diinjak.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Rupanya di bumi jajahan ini setiap orang hidup atas dasar hancur menghancurkan.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Mereka berjabat tangan, seperti gunung berjabatan dengan samudera. Mereka hanya dua gumpal daging kecil, tetapi jiwanya lebih besar dari gunung, lebih luas dari laut, karena kereka ikut melahirkan sesuatu yang nenek-moyangnya dan bangsa-bangsa lain tidak atau belum melahirkannya: kemerdekaan.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Kalau mati, dengan berani. Kalau hidup, dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya bangsa asing bisa jajah kita.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Ibuku tinggal di sarang. Ini bukan rumah. Di negeri matahari ini, bahkan sinar matahari dia tidak kebagian!”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Aku juga punya tahan air. Jelek-jelek tanah airku sendiri, bumi dan manusia yang menghidupi aku selama ini. Cuma binatang ikut Belanda!”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Kalau kita menang perang, semua kita dapat rumah baik. Tapi sekarang negara lebih butuh uang dari pada kita semua.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Secacat itu tapi masih berjuang! Mestinya perjuanganku lebih dari dia. Aku tidak cacat. Lebih, mesti! Lebih!”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Berkhianat pada revolusi ini berarti berkhianat pada diri sendiri, pada publik yang membayarnya.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Seluruh kedudukan yang enak diambil orang-orang tua. Mereka hanya pandai korupsi... angkatan tua itu sungguh bobrok. Hanya angkatan tua yahg korup dan mengajak korup! Angkatan muda membuat revolusi melahirkan sejarah.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Anjing-anjing ini baik selama bisa diambil manfaatnya, salah-salah dia menggigit dalam keadaan gila.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Revolusi, dia adalah guru. Dia adalah penderitaan. Tetapi dia pun adalah harapan. Jangan khianati revolusi! Kembali ia pandangi dua orang tua itu, yang mungkin beberapa tahun lagi tewas digulung maut. Namun mereka meletakkan harapannya pada revolusi. Betapa mereka mengagumi lembaran uang, perwujudan revolusi.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Semuanya binatang nona, semuanya, juga aku - Sopir”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Apakah kesejahteraan hidup sama dengan kebusukan buat orang lain?”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Aku boleh seorang pelacur! Aku boleh seorang sampah masyarakat! Aku seorang bintang film gagal! Tapi beradat! Tidak. Aku juga punya tanah air. Aku Larasati, bintang ara. Sedang sebutan Miss pun aku tak pernah pakai. Ara! Cukup Ara. Mengapa mesti dengan Miss? Sebutan itu akan membuat aku berkulit putih. Apakah sebutan itu tantangan kaum pria, kalau aku milik siapa saja?”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Kakau mati dengan berani; kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Jangan lupa tuan kolonel, dia seniman---hidup hanya di alam perasaan.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Revolusi ini tidak memberi sesuatu pun, dia minta kepada setiap orang, segala-galanya.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Apa yang ditakuti bu? Kita semua hidup terus menerus dalam ketakutan. Apa kalian biasanya ketakutan? Tidak ada. Kalau revolusi menang, tidak seorang pun perlu takut lagi.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Dia sangat cinta pada republik, revolusi, dia mencintai kampung halamannya, biarpun busuk-busuk membumbungkan gas lumpur dan kotorannya sendiri.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“betapa beruntungnya jadi bintang film terkenal! Lawan dan kawan sama-sama membutuhkan.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Uang Jaya! Jaya! Seratus Jepang, satu republik, uang jaya - Kakek Mo”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Tak bakal mampu orang Indonesia punya babu dalam keadaan begitu sulit beras.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Kalau aku tak memiliki tubuh indah dan wajah cantik mungkin aku jadi sebagian dari mereka yang dibunuh pelan-pelan itu.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Dia tidak beranak, tidak berbini. Kalau perjuangannya menang, mungkin dia telah tewas, dan kemenangannya itu tidak dinikmati apapun di antara keluarganya sendiri, tetapi buat orang-orang lain.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati
“Dan sejak itu pula ia praktekan tafsiran bahwa kehormatan berarti uang.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

« previous 1