Mereka Bilang, Saya Monyet! Quotes
Mereka Bilang, Saya Monyet!
by
Djenar Maesa Ayu2,231 ratings, 3.27 average rating, 216 reviews
Mereka Bilang, Saya Monyet! Quotes
Showing 1-17 of 17
“Bukankah semua anak punya hak untuk bertanya?”
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
“Manusya muak. Segala sesuatu yang tidak dapat terjawab selalu berakhir atas nama Tuhan. Misalnya, mengapa seorang anak bisa jadi bajingan padahal orangtuanya santri? Dijawab, itu sudah takdir dari Tuhan. Sebaliknya, jika orangtuanya rusak tapi anaknya begitu bauk, dijawab, itulah kuasa Tuhan. Alangkah mudahnya. Tidak adakah penjelasan lain yang lebih memuaskan? Tidak adakah jawaban lain yang lebih masuk akal? Mungkin manusia sudah malas berfikir, pikir Manusya.”
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
“Lantas apa yang salah dengan pelacur? Adakah orang yang menulis di buku catatannya, cita-cita: pelacur. Mana yang lebih pantas dipertanyakan, takdir atau pelacur?”
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
“Imajinasi cenderung bebas tanpa moral dan konvensi masyarakat, bagaikan anjing "menggonggong" dan "menggigit" realitas yang munafik”
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
“Kebanggaan terbesar bagi ibunya adalah kebanggaan terhadap keberhasilannya sendiri sebagai seorang ibu. Begitupun sebaliknya, kebanggaan terbesarnya adalah menyaksikan kebahagiaan ibu.”
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
“Manusia dengan naluri anjing jauh lebih rendah daripada anjing.”
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
“Hidup ini memang fiksi. Sering kali hanya imajinasi.”
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
“Imajinasi, sesuatu yang tanpa batas, yang bukan hanya merasuki pengarangnya tapi juga bisa semua manusia.”
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
“Biarkan takdir yang menentukan. Biarkan takdir bekerja dan ia menjadi mediatornya.”
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
“Ada pergulatan aneh yang merasuki mereka berdua. Keinginan meledak-ledak untuk segera berjumpa dan keinginan untuk lebih lama bersama, bagai satu mata koin dengan dua sisi yang berbeda. Betapapun besar usaha mereka untuk memperpanjang kebersamaan, sebesar itu pulalah usaha mereka untuk segera menyudahi.”
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
“Tuhan tidak tidur, Tuhan pasti maklum.”
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
“Hanya mabuk yang mampu membuat Dia tidur. Hanya mabuk yang bisa membuat Dia pergi.”
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
“Tapi ada kalanya kita harus berbohong demi kebaikan.”
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
“Membunuh adalah membunuh.”
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
“- MEREKA BILANG, SAYA MONYET! -
- Saya katakan, jika saya seekor monyet maka saya satu-satunya binatang yang paling mendekati manusia. Berarti derajat saya berada di atas mereka. Tapi mereka bersikeras bahwa mereka manusia bukan binatang, karena mereka punya akal dan perasaan. Dan saya hanyalah seekor binatang. Hanya seekor monyet! - 3”
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
- Saya katakan, jika saya seekor monyet maka saya satu-satunya binatang yang paling mendekati manusia. Berarti derajat saya berada di atas mereka. Tapi mereka bersikeras bahwa mereka manusia bukan binatang, karena mereka punya akal dan perasaan. Dan saya hanyalah seekor binatang. Hanya seekor monyet! - 3”
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
“- MEREKA BILANG, SAYA MONYET! -
Saya katakan, jika saya seekor monyet maka saya satu-satunya binatang yang paling mendekati manusia. Berarti derajat saya berada di atas mereka. Tapi mereka bersikeras bahwa mereka manusia bukan binatang, karena mereka punya akal dan perasaan. Dan saya hanyalah seekor binatang. Hanya seekor monyet!”
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
Saya katakan, jika saya seekor monyet maka saya satu-satunya binatang yang paling mendekati manusia. Berarti derajat saya berada di atas mereka. Tapi mereka bersikeras bahwa mereka manusia bukan binatang, karena mereka punya akal dan perasaan. Dan saya hanyalah seekor binatang. Hanya seekor monyet!”
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
“Saya katakan, jika saya seekor monyet maka saya satu-satunya binatang yang paling mendekati manusia. Berarti derajat saya berada di atas mereka. Tapi mereka bersikeras bahwa mereka manusia bukan binatang, karena mereka punya akal dan perasaan. Dan saya hanyalah seekor binatang. Hanya seekor monyet!”
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
― Mereka Bilang, Saya Monyet!
