Penaka Quotes
Penaka
by
Altami N.D.1,387 ratings, 4.30 average rating, 434 reviews
Penaka Quotes
Showing 1-11 of 11
“Susah ya buat nggak membandingkan. Itu kan sudah sifat alami manusia, Na. Jangan salah lho, membandingkan itu juga proses berkembang. Yang penting waktu membandingkan itu aku bisa mengukur diri sendiri, tahu apa yang aku mau dan tuju, jadi aku bisa membandingkan secara sehat. Bukannya tambah stres.”
― Penaka
― Penaka
“Mengapa selama ini aku sibuk menghitung apa yang tidak aku punya, jika sebenarnya yang kubutuhkan adalah cukup, bukan banyak? Mengapa selama ini aku sibuk memedulikan apa yang tidak aku miliki, padahal yang kumiliki sekarang tidak ada yang salah?”
― Penaka
― Penaka
“Semua orang punya medan perangnya masing-masing. Pun yang terlihat bahagia, bukan berarti mereka selalu baik-baik saja. Mereka hanya memilih tetap bahagia saat memutuskan untuk tidak menyerah. Tetap berjuang bukan berarti kita tidak boleh gembira, kan?”
― Penaka
― Penaka
“Itu juga gunanya keluarga, kan? Saling mendukung di segala keadaan, baik atau buruk, bukannya memperburuk? Apa kita nggak cukup dengan ada buat satu sama lain dan saling menguatkan? Tanpa dibebani ekspektasi kamu yang selalu ingin berkembang? Berkembang yang seperti apa dulu, Sof? Buat pengakuan orang lain? Supaya bisa diterima sama orang lain? Itu yang bikin kamu selalu membandingkan apa yang kamu punya dengan apa yang dipunya orang lain. Standar kamu. Ekspektasi kamu. Bikin silau!”
― Penaka
― Penaka
“Itu karena ekspektasi kamu! Memang kenapa kalau sebuah keluarga itu sedang nggak berhasil? Sedang nggak bisa berkembang? Memangnya salah kalau ada keluarga yang nggak selalu berhasil di segala hal? Semuanya itu nggak bisa dilakukan bersamaan, Sof! Ada kalanya naik, ada kalanya turun! Ada prosesnya! Semua ada waktunya masing-masing, itu yang seharusnya benar-benar kamu pahami.”
― Penaka
― Penaka
“Kamu tahu kan orangtua itu nggak cuma mewariskan harta ke anak-anak, Sof? Orangtua juga mewariskan kebiasaan, trauma, luka, dan cara menyelesaikan masalah ke anak-anaknya.”
― Penaka
― Penaka
“Oh ya? Bukan karena mau tahu hidup orang lain sampai mana? Kalau udah tahu, kamu merasa ketinggalan karena belum bisa melakukan apa yang orang lain lakukan itu. Ya, kan? Padahal seandainya kamu nggak tahu dan nggak melakukan pun, nggak apa-apa. Kamu jadi gelisah, khawatir jadi cupu, dan merasa jadi remahan rengginang di dasar stoples. Akhirnya kamu ngerasa yang kamu punya sekarang itu nggak cukup. Tahu nggak itu namanya apa? FOMO, Sof. Fear of Missing Out.”
― Penaka
― Penaka
“Yaelah, itu cuma highlight hidup! Dimasukin paling yang bagus-bagusnya doang. Biar setiap hari kelihatan seru. Jangan ketipu, Sof. Di dunia ini nggak ada keluarga yang sempurna. Kalau terlalu diumbar gitu, apa-apa di-post, apa nggak aneh? Seakan-akan ingin meyakinkan orang-orang kalau mereka bahagia. Padahal kalau bahagia ya bahagia aja, nggak perlu validasi dong? Artifisial banget perasaannya.”
― Penaka
― Penaka
“Tiap rumah tangga itu beda-beda, Sofia. Kita yang paling tahu. Nenek zaman dulu emang bisa ngelakuin semuanya, tapi apa benar mereka baik-baik saja? Nggak tahu, kan?”
― Penaka
― Penaka
