Arok dedes Quotes

Rate this book
Clear rating
Arok dedes Arok dedes by Pramoedya Ananta Toer
2,411 ratings, 4.26 average rating, 274 reviews
Arok dedes Quotes Showing 1-30 of 59
“Lihat, ini Arok, yang tetap mempertahankan Tumapel. Dia dan pasukannya akan mempertahankannya sampai titik darah terakhir. Bukan karena imbalan uang, emas dan perak dan singgasana. Hanya karena kesetiaan pada janji.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Tak ada brahmana angkuh. Mereka hanya lebih mengerti, lebih tahu daripada orang yang menganggap pengetahuan dan ilmu sebagai keangkuhan.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Dia yang terlalu tinggi di atas singgasana tidak pernah melihat telapak kakinya. Dia tak pernah ingat, pada tubuhnya ada bagian yang bernama telapak kaki. Pendengarannya tidak untuk menangkap suara dewa, juga tidak suara segala yang di bawah telapak kaki. Ia hanya dengarkan diri sendiri. Suara murid Bapa ini takkan sampai kepadanya. Untuknya yang paling tepat hanya dijolok.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Ada diajarkan oleh kaum Brahmana, orang kaya terkesan pongah di mata si miskin, orang bijaksana terkesan angkuh di mata si dungu, orang gagah berani terkesan dewa di mata si pengecut. Juga sebaliknya, Kakanda. Orang miskin tak berkesan apa-apa pada si kaya, orang dungu terkesan mengibakan pada si bijaksana, orang pengecut terkesan hina pada si gagah berani. Tetapi semua kesan itu salah. Orang harus mengenal mereka lebih dahulu.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Ya, Bapa, apalah artinya pengetahuan tanpa pendapat?”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Tidak semua kebenaran dan kenyataan perlu dikatan pada seseorang atau pada siapapun.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Pada dasarnya manusia adalah hewan yang paling membutuhkan ampun.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Wanita itu Dewa. Wanita itu Kehidupan. Wanita itu Perhiasan.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Berpendapat tanpa berpengetahuan hukuman mati bagi seorang calon brahmana. Dia takkan mungkin jadi brahmana yang bisa dipercaya.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Apakah gunanya pendapat kalau hanya untuk diketahui sendiri?”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Tanpa keberanian hidup adalah tanpa irama. Hidup tanpa irama adalah samadhi tanpa pusat.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Tak ada yang bisa bantah Sri Erlangga seorang pembangun besar. Satu yang pada waktunya akan Bapa Mahaguru katakan: hanya satu yang tidak pernah dibangunkannya kedudukan kaum brahmana... ”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Adakah Arok dan semua temannya pernah menghinakan orang? Mengapa kau takut dihinakan? Kau adalah semua yang pernah kau lakukan terhadap kita. Maju!”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Siapakah yang tahu rahasia para dewa kalau bukan kaum brahmana?”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Ada diajarkan oleh kaum brahmana: orang kaya terkesan pongah di mata si miskin, orang bijaksana terkesan angkuh di mata si dungu, orang gagah-berani terkesam dewa di mata si pengecut, juga sebaliknya Kakanda, orang miskin tak berkesan apa-apa pada si kaya, orang dungu terkesan mengibakan pada si bijaksana, orang pengecut terkesan hina pada si gagah-berani. Tetapi semua kesan itu salah. Orang harus mengenal mereka lebih dahulu.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Setiap kerusuhan di sesuatu negeri, bukan hanya Tumampel, adalah cerminan dari ketidakmampuan yang memerintah.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Mereka (brahmana) tidak perlu takut pada kedunguan. Mereka belajar setiap hari untuk tidak jadi dungu.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Makin jauh dari Mahadewa dia (manusia) makin kejam.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Apakah yang bisa diperbuat oleh seorang perempuan?”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Kalau hati sendiri pun tidak menjawab, itu lah tanda ketidakmampuan, dan ketidakmampuan itu memanggil kerusuhan.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Hyang Mahadewa tahu bagaimana membikin Jagad Pramudita seimbang. Kerusuhan mengimbangi kedunguan.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Barang siapa tidak tahu kekuatan dirinya, tidak tahu kelemahan dirinya. Barang siapa tidak tahu kedua-duanya, dia pusing dalam ketidaktahuannya.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Kesalahan tindakan tidak pernah terampuni, kecuali hanya oleh Hyang Mahadewa. Untuk itu aďa Mahadewa, karena manusia tidak bersikap pengampun.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Tidak semua kebenaran dan kenyataan perlu dikatakan pada seseorang atau pada siapapun”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Orang berilmu, berpengetahuan, dan berbakat itu tak boleh punah.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Wanita budak paling baik hanya untuk pria budak.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Yang lebih muda belum tentu lebih tidak tahu, belum tentu lebih pengecut dari pada kau.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Setiap penjahat harus diperlihatkan pada mereka yang telah dijahatinya, biar orang mengerti tampang dan sanubari penjahat!”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Senjata lebih berarti di tangan orang sebodoh-bodohnya dari pada keterpelajaran dari tubuh tanpa pelindung.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes
“Bukan ucapannya yang terakhir yang menjadi nilai dari seluruh dirinu. Laku durjana pada semua temannya adalah dosa yang tidak terampuni. Selama ada senjata pada kita seperti ini, kita adalah satria, sekalipun tidak karena kasta.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

« previous 1