Perawan Dalam Cengkeraman Militer Quotes

Rate this book
Clear rating
Perawan Dalam Cengkeraman Militer Perawan Dalam Cengkeraman Militer by Pramoedya Ananta Toer
1,996 ratings, 3.74 average rating, 302 reviews
Perawan Dalam Cengkeraman Militer Quotes Showing 1-30 of 49
“Mungkinkah seorang anak yang cengeng dalam perkembangannya barang dua puluh tahun kemudian bisa berubah jadi penentang dan pelawan? Bisa. Penderitaan tak tertanggungkan bisa mengakibatkan tiga macam sikap: menyerah tanpa syarat, melawan, atau membiarkan diri hancur. Mulyati memilih melawan.”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Sering kulihat wanita dibebani barang bawaan cukup berat, menggendong, menyunggi, masih mendukung bocah, dan suaminya enak-enak jalan dengan berjual tampang hanya membawa tombak. Ait, terlalu. Pernah kutegur seorang diantara mereka, dan suaminya memang mau membantu. Tetapi pada kesempatan lain tetap juga membiarkan istrinya menjadi kuda beban. Kau tidak boleh begitu, Putih.”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Itulah dia, perempuan tua yang kau cari, wanita seperti ibumu, yang dilahirkan di pulau nenek-moyangnya, Jawa.”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Doa dan ucapan selamat jalan diucapkan oleh mulut dan tangan yang kami jabat. Tak seorangpun mengucapkan terimakasih. Dan memang kami tidak menuntut, tidak membutuhkan. Sayang, kami belum mampu berbuat lebih dari ini.”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Ia menyimpan dendam. Dendam yang terus menyala sebelum pembunuhan menutupnya. Dan dendam itu bisa menjalar jadi perang kampung.”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Adat kampung tidak membenarkan seorang anak menyebut nama orang tuanya selagi ia masih bergantung pada mereka - Pembicaraan Dengan Nait, Seorang Wanita Alfuru, Wai Lo”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Walau orang gunung kami tahu menghormat, tahu bagaimana sebaiknya menerima tamu. Ia akan mengambil celana untuk menghormati kami. (Orang-orang gunung ito bodo, tapi kase hormat. Yako punya hati ingin hormat) - Bambu, Seorang Alfuru Di Wai Loa”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Dari bumi ini aku lahir. Dari bumi ini aku makan. Aku akan mati dan kembali di bumi ini juga - Muka Jawa (Wanita Jawa Yang Disumpah Ketua Adat Buru Agar Tidak Meninggalkan Mereka)”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Sungguh mengguncangkan mengetahui adanya sejumlah orang yang sejak perawan remaja sampai jadi nenek tetap terbelenggu oleh perbuatan keji balatentara Jepang. Di masa kemajuan tekhnologi semaju sekarang ini.”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Bagaimanapun baik yang telah kalian peroleh dari kehidupan ini, masih ada saja yang kalian rasa kurang. Yang berada dalam kekurangan ingin terbebas dari kekurangan itu, ingin mendapatkan kemakmuran yang melimpah. Yang telah berada dalam kecukupan ingin lebih cukup lagi. Dari perasaan kurang itu, dari keinginan mendapatkan yang lebih baik itu, timbullah impian. Dan impian itu bisa menjadi padat, menjadi cita-cita. Dan cita-cita itu menjadi pola yang menjadi dasar dan petunjuk dari perbuatan.”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Alam dan manusia telah membikinnya tidak brdaya dalam umur yang baru setengah abad. Sejak meninggalkan kampung halaman dan keluarga ia hanya mengenal penderitaan, tindasan, dan aniaya. Kami hanya dapat menangis dalam hati. Dan itupun tidak berguna. Orang-orang Jepang yang telah menindasnya sampai ia jadi begitu sekarang mungkin hidup senang di tengah keluargaya. Ya, sejak 1950, mungkin sudah sejak 1945.”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Mengapa kau diam saja Ibu, Ibu? Lihatlah, ini aku datang menjengukmu. Apa aku bisa perbuat untukmu? Betapa sengsara hidupmu. Kau pergi meninggalkan kampung halaman dan keluarga untuk belajar, untuk bisa mengabdi lebih baik pada nusa dan bangsa dan untuk dirimu sendiri. Keberangkatanmu direstui dan didoakan selamat oleh orang tuamu. Dan kau fasis Jepang, kau telah menganiaya, memperkosanya, merusak semua harapan indahnya. Kau jatuh ke tangan orang-orang gunung ini, yang mengenalmu hanya sebagai wanita dan harta.”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Adat perempuan dibeli; adat orang tua menjual; kalau harta sudah di tangan apalagi akan dipersoalkan?”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Kau biarkan suamiku merampas istri orang; itu berarti kau ikut membangunkan kejahatan, kerusuhan, dan malapetaka.”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Orang jawa kulitnya licin, seperti ular.”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Tak akan ada kampung sebersih ini di atas gunung kalau tak ada kerukunan di antara para penghuni.”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Kuburan dengan hiasan dan sesaji seperti itu adalah tempat mayat seseorang yang rohnya menjadi tempat Pamali turun dikala masa hidupnya, dan sampai orang itu mati roh tersebut masih sering datang.”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Biasa: harta dengan kejamnya telah memisahkan ibu dari anak.”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Dalam keadaan waspada biasanya orang Alfuru,terutama yang masih terikat pada kepercayaan pamali, sangat pelit memberikan keterangan tentang kehidupan Alfuru”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Perempuan itu harta, musti turut lelaki punya mau - Siti F. Yang Ditemui Di Pulau Buru”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Seluruh halaman ditutup dengan pagar bambu anyaman tinggi, tak dapat dilihat dari jalanan. Apa sebab dipagar rapat tinggi? Agar orang tak tahu apa yang sedang terjadi di dalam.”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Jadi, sudah di tujuan pertama mereka dikurung dan dijaga. Itu tak lain artinya daripada hilangnya sekian banyak kebebasan mereka.”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Di atas pelupuh humatita orang damai dalam tidurnya, suami-istri berpelukan, anak-anak berserak tanpa baju tanpa celana. Hanya asap dan asap selimut mereka.”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Ngama Adat, heee, Polli sama Mantir ingin tolong," ujar Mana Sambur.

"Ha? Apa tidak tahu adat?" Bentak si Kakek. "Tidak lihat yako sedang apa? Pamali Keha yang memberi keselamatan. Opulastala yang menentukan segala. Jangan agungkan manusia.”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Perjalanan yang mengandung banyak peristiwa itu aku nilai berhasil. Kami telah temukan wanita yang kami cari itu. Benar sekali, ibu itu tidak bisa diajak bicara. Kami dapat memahami. Ia terikat pada sumpah Buru. Sampai hari tuanya, tanpa sesuatu harapan pun kecuali mati, ia tetap setia pada sumpahnya; sumpah untuk menyangkal diri, asal, kebudayaan, dan peradaban sendiri. Sumbernya tetap sama; malu kembali pada keluarga.”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Kami bermaksud baik Ngama. Ngama adat jangan sangsi. Kami ingin menolong yang sakit.”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Fina bara kurang ajar sama Ngama. Jangan kurang ajar sama Ngama. Hormati suamimu.”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Kau pukul dia sampai hampir mati. Kau hajar dia seperti babi. Apa kesalahannya? Kan dia istrimu sendiri? Kau harus kasihan padanya. Kalau kurang ajar peringatkan dengan baik. Kalau nasihatmu sudah berulang kali tak diindahkan apa boleh buat.”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Katakan pada saya, Ibu, nama ibu yang sebenarnya. Kami datang untuk mengenali Ibu, untuk mengetahui keadaan Ibu, dan ingin membantu Ibu bila kami mampu dan berkesempatan melakukannya. Ingin berbuat sesuatu yang patut untuk Ibu, biarpun kami hanya tahanan, tidak punya kebebasan. Katakanlah nama Ibu, sebutkanlah.”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer
“Tapi perintah tinggal perintah begitu saja.”
Pramoedya Ananta Toer, Perawan Dalam Cengkeraman Militer

« previous 1