Pingkan Melipat Jarak Quotes

Rate this book
Clear rating
Pingkan Melipat Jarak Pingkan Melipat Jarak by Sapardi Djoko Damono
593 ratings, 3.78 average rating, 114 reviews
Pingkan Melipat Jarak Quotes Showing 1-7 of 7
“Selalu ada saat ketika kita tidak sempat bertanya kepada sepasang kaki sendiri kenapa tidak mau berhenti sejak mengawali pengembaraan agar kita bisa memandang sekeliling dan bertahan semampu kita untuk tidak melepaskan air mata menjelma sungai tempat berlayar tukang perahu yang mungkin saja bisa memberi tahu kita, Ke san, Saudara, ke sana.”
Sapardi Djoko Damono, Pingkan Melipat Jarak
“Ia beriman pada takdir, yang tidak mengenal seandainya.”
Sapardi Djoko Damono, Pingkan Melipat Jarak
“Kenangan adalah fosil, tidak akan bisa menjadi abu, malah memiliki kekuatan untuk mendikte jarum-jarum jam agar berputar ke kiri.”
Sapardi Djoko Damono, Pingkan Melipat Jarak
“Orang bergerak menyusuri waktu yang diciptakannya sendiri agar merasa bisa beranjak dari satu tempat ke tempat lain. Bahkan meskipun diam saja di tempat yang sama, orang bisa merasa bergeser ke tempat lain karena waktu membawanya ke sana.”
Sapardi Djoko Damono, Pingkan Melipat Jarak
“Dua ekor burung jantan dan betina menukik bersilangan di aliran udara yang bertubrukan di atas kapal. Dua ekor burung yang merindukan tempat untuk bertengger, merindukan tiang kapal yang tidak bergoyang-goyang agar bisa melepaskan lelahnya.

Selalu ada yang terjadi tidak untuk bisa dipahami, tampaknya. Selalu ada saat ketika kita tidak memiliki keberanian untuk bertanya dengan tulus kepada diri sendiri kenapa ini begitu dan kenapa itu begini. Selalu ada saat ketika kita tidak memiliki kemampuan untuk menatap tajam mata kita sendiri dan bertanya, Kenapa kau menyiasatiku begitu? Pertanyaan retoris yang sejawabannya tak lain, Kenapa kau menatapku tajam begitu? Selalu ada saat ketika kita tidak sempat bertanya kepada sepasang kaki sendiri kenapa tidak juga mau berhenti sejak mengawali pengembaraan agar kita bisa memandang sekeliling dan bertahan semampu kita untuk tidak melepaskan air mata menjelma sungai tempat berlayar tukang perahu yang mungkin saja bisa memberi tahu kita, Ke sana, Saudara, ke sana.

Selalu ada kapal yang mendadak bergoyang bahkan ketika tidak ada sama sekali angin di samudra bahkan ketika tidak ada pun yang terasa bergerak kecuali dua ekor camar yang sudah terbang terlalu jauh ke samudra dan merasa sangat letih tetapi tidak melihat apa pun yang bisa dihinggapinya kecuali sebuah bahtera yang bergoyang keras ke sana ke mari terlempar ke atas menghunjam kembali ke permukaan menciptakan percik-percik air dan melempar-lemparkan gumpalan-gumpalan air sehingga tidak mungkin dihinggapi tiang layarnya walau hanya sejenak. Walau demi dua ekor camar sangat letih yang terus-menerus terbang agar tetap bisa memelihara kasih sayang. Walau hanya sejenak.”
Sapardi Djoko Damono, Pingkan Melipat Jarak
tags: poetic
“Aku tahu ia mencintaiku, bisik Pingkan kepada dirinya sendiri. Ia pun tahu Sarwono mencurigainya selama ini. Dan ia pernah berpikir, Seandainya tidak pernah bertemu Sarwono, mungkin...

Kalimat itu tidak pernah bisa diselesaikannya. Tidak pernah ada keinginan untuk melengkapinya. Ia beriman pada takdir, yang tidak mengenal seandainya.”
Sapardi Djoko Damono, Pingkan Melipat Jarak
tags: poetic
“Dua ekor burung jantan dan betina menukik bersilangan di aliran udara yang bertubrukan di atas kapal. Dua ekor burung yang merindukan tempat untuk bertengger, merindukan tiang kapal yang tidak bergoyang-goyang agar bisa melepaskan lelahnya.

Selalu ada yang terjadi tidak untuk bisa dipahami, tampaknya. Selalu ada saat ketika kita tidak memiliki keberanian untuk bertanya dengan tulus kepada diri sendiri kenapa ini begitu dan kenapa itu begini. Selalu ada saat ketika kita tidak memiliki kemampuan untuk menatap tajam mata kita sendiri dan bertanya, Kenapa kau menyiasatiku begitu? Pertanyaan retoris yang sejawabannya tak lain, Kenapa kau menatapku tajam begitu? Selalu ada saat ketika kita tidak sempat bertanya kepada sepasang kaki sendiri kenapa tidak juga mau berhenti sejak mengawali pengembaraan agar kita bisa memandang sekeliling dan bertahan semampu kita untuk tidak melepaskan air mata menjelma sungai tempat berlayar tukang perahu yang mungkin saja bisa memberi tahu kita, Ke sana, Saudara, ke sana.

Selalu ada kapal yang mendadak bergoyang bahkan ketika tidak ada sama sekali angin di samudra bahkan ketika tidak ada pun yang terasa bergerak kecuali dua ekor camar yang sudah terbang terlalu jauh ke samudra dan merasa sangat letih tetapi tidak melihat apa pun yang bisa dihinggapinya kecuali sebuah bahtera yang bergoyang keras ke sana ke mari terlempar ke atas menghunjam kembali ke permukaan menciptakan percik-percik air dan melempar-lemparkan gumpalan-gumpalan air sehingga tidak mungkin dihinggapi tiang layarnya walau hanya sejenak. Walau demi dua ekor camar sangat letih yang terus-menerus terbang agar tetap
bisa memelihara kasih sayang. Walau hanya sejenak.”
Sapardi Djoko Damono, Pingkan Melipat Jarak
tags: poetic