Jaman dan Kota Imajiner yang tak Memiliki Kita Quotes

Rate this book
Clear rating
Jaman dan Kota Imajiner yang tak Memiliki Kita Jaman dan Kota Imajiner yang tak Memiliki Kita by Bagus Dwi Hananto
236 ratings, 3.68 average rating, 56 reviews
Jaman dan Kota Imajiner yang tak Memiliki Kita Quotes Showing 1-6 of 6
“Di jaman ini, yang dapat kau sebut pohon, sebenarnya hanyalah hologram tembus pandang. Pohon-pohon telah digantikan oleh kenangannya saja.”
Bagus Dwi Hananto, Jaman dan Kota Imajiner yang tak Memiliki Kita
“Manusia diberitahu petugas tata ruang bahwa pohon pernah hidup dulu, dulu sekali, sebelum mereka habis ditebangi orang-orang jaman dahulu yang entah mengapa selalu merasa tak cukup.”
Bagus Dwi Hananto, Jaman dan Kota Imajiner yang tak Memiliki Kita
“Waktu akan segera mati,” katanya.
“Sekarang selesaikanlah segala urusanmu terlebih dulu sebelum kau siap untuk pergi.”
“Bagaimana dengan orang-orang terdekat kita. Seperti istriku?”
“Kau tidak bisa mengajaknya. Yang dipilih Tuhan hanya kau.”
“Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian dan hangus dilahap kiamat.”
Bagus Dwi Hananto, Jaman dan Kota Imajiner yang tak Memiliki Kita
“Barangkali nenek moyang kita mengunyah pohon-pohon itu,” kata seorang guru sekolah pada muridnya.
“Kenapa dimakan” tanya seorang bocah, datar.
“Karena mereka goblok.” Guru itu menjelaskan bahwa manusia rakus. Kata goblok di jaman kami ini berarti rakus di jaman dahulu.
Sekian lama aku hidup, kehidupan hanyalah kontinuitas yang membosankan.”
Bagus Dwi Hananto, Jaman dan Kota Imajiner yang tak Memiliki Kita
“Akulah sang Waktu, yang dirasa keberadaannya tapi tak dapat dilihat. Di jaman kami ini, semuanya akan sampai pada batas”
Bagus Dwi Hananto, Jaman dan Kota Imajiner yang tak Memiliki Kita
“Berkali-kali tendangan dan rasa sakit itu datang. Aku memencet telpon di tanganku dan memanggil Petugas Kesehatan. Lima menit kemudian datang sebuah ambulans di atas atap apartemen dan menurunkan sepasang petugas. Tandu yang mereka siapkan sudah akan membawaku pergi tapi kemudian sebuah suara membius kami; membikin kami terdiam beberapa saat dan tak jadi melakukan apapun. Suara yang berasal dari perutku.
“Taik, ah! Kami tak ingin keluar,” kata bayi itu.
“Bener, taik! Bila kami keluar sekarang, kami akan menyesal karena dunia telah bertambah jelek sejak jaman Masehi musnah,” ujar suara satunya lagi.”
Bagus Dwi Hananto, Jaman dan Kota Imajiner yang tak Memiliki Kita