Sergius Mencari Bacchus Quotes
Sergius Mencari Bacchus: 33 Puisi
by
Norman Erikson Pasaribu718 ratings, 3.89 average rating, 178 reviews
Sergius Mencari Bacchus Quotes
Showing 1-2 of 2
“Kekasihku
Kami bertemu lagi di taman.
Dulu ia bilang ia yang menciptakan langit biru,
tukang susu yang setiap pagi lewat depan rumahku,
tukang pos yang tak pernah mampir,
anak-anak kecil yang bermain burung dara bersama senja,
suara anjing hansip di tengah malam sunyi.
Semuanya dari tiada.
“Kenapa kita harus melalui hidup ini sendirian?” tanyaku.
Ia diam. Padahal biasanya langsung
berbicara panjang lebar.
“Kamu dan aku. Begini parah kita kesepian.”
Aku ingat ceritanya tentang cinta yang tak berbalas,
yang ia tanggung selama beribu-ribu tahun.
Tentang pengirim pesan yang ditimpuki batu,
dan ia yang kesepian di atas gunung.
Kakiku mulai kesemutan, dan ia tak juga bicara.
“Di gunung, kamu menulis untuk siapa?”
Ia tak juga bicara.
Langit biru agak berawan hari ini.”
― Sergius Mencari Bacchus: 33 Puisi
Kami bertemu lagi di taman.
Dulu ia bilang ia yang menciptakan langit biru,
tukang susu yang setiap pagi lewat depan rumahku,
tukang pos yang tak pernah mampir,
anak-anak kecil yang bermain burung dara bersama senja,
suara anjing hansip di tengah malam sunyi.
Semuanya dari tiada.
“Kenapa kita harus melalui hidup ini sendirian?” tanyaku.
Ia diam. Padahal biasanya langsung
berbicara panjang lebar.
“Kamu dan aku. Begini parah kita kesepian.”
Aku ingat ceritanya tentang cinta yang tak berbalas,
yang ia tanggung selama beribu-ribu tahun.
Tentang pengirim pesan yang ditimpuki batu,
dan ia yang kesepian di atas gunung.
Kakiku mulai kesemutan, dan ia tak juga bicara.
“Di gunung, kamu menulis untuk siapa?”
Ia tak juga bicara.
Langit biru agak berawan hari ini.”
― Sergius Mencari Bacchus: 33 Puisi
“Ia dan Pohon
Siang itu ia meminta maaf kepada satu-satunya pohon
di tepi lahan parkir kantornya, yang memayungi mobilnya
dari terik. Ia minta maaf untuk kakeknya yang adalah
pengusaha kebun sawit, untuk keluarga mereka yang
turun-temurun meyakini seorang tukang kayu sebagai anak tuhan.
Pohon itu meratap, teringat dengan kawannya
yang dicabut dari tanah ketika mereka kanak-kanak,
dengan alasan “terlalu dekat dengan bangunan”. Dari kejauhan
mereka biasa saling tatap dan berkedip, dan berpikir ketika
dewasa kelak dan burung atau kupu-kupu mulai hinggap sebentar
pada cabang serta pucuk mereka, mereka bisa saling menitipkan pesan.
Pohon itu menyesali tak sempatnya ia mengatakan
ia mencintai kawannya itu; ia ingin membawa kawannya itu
ke gereja, dan di depan altar mereka bisa dipersatukan di
hadapan tuhan yang bercabang tiga—seperti pohon—
dan anak-anak mereka bisa memenuhi lahan parkir itu,
sepetak demi petak, hingga kelak orang-orang lewat
mengira ada hutan di tengah kota. Pria itu pun memeluk pohon itu,
dan pohon itu memeluknya.”
― Sergius Mencari Bacchus: 33 Puisi
Siang itu ia meminta maaf kepada satu-satunya pohon
di tepi lahan parkir kantornya, yang memayungi mobilnya
dari terik. Ia minta maaf untuk kakeknya yang adalah
pengusaha kebun sawit, untuk keluarga mereka yang
turun-temurun meyakini seorang tukang kayu sebagai anak tuhan.
Pohon itu meratap, teringat dengan kawannya
yang dicabut dari tanah ketika mereka kanak-kanak,
dengan alasan “terlalu dekat dengan bangunan”. Dari kejauhan
mereka biasa saling tatap dan berkedip, dan berpikir ketika
dewasa kelak dan burung atau kupu-kupu mulai hinggap sebentar
pada cabang serta pucuk mereka, mereka bisa saling menitipkan pesan.
Pohon itu menyesali tak sempatnya ia mengatakan
ia mencintai kawannya itu; ia ingin membawa kawannya itu
ke gereja, dan di depan altar mereka bisa dipersatukan di
hadapan tuhan yang bercabang tiga—seperti pohon—
dan anak-anak mereka bisa memenuhi lahan parkir itu,
sepetak demi petak, hingga kelak orang-orang lewat
mengira ada hutan di tengah kota. Pria itu pun memeluk pohon itu,
dan pohon itu memeluknya.”
― Sergius Mencari Bacchus: 33 Puisi
