Lho Quotes
Lho
by
Putu Wijaya38 ratings, 4.32 average rating, 11 reviews
Lho Quotes
Showing 1-8 of 8
“Dahulu, saudara-saudaraku orang banyak itu, selalu kubayangkan sebagai pihak yang selalu salah mengerti, salah tafsir, kejam memaksakan kehendak bersama mereka ke atas kemerdekaan pribadiku. Dahulu mereka kuanggap musuh yang harus dijebol, sebagai baksil-baksil yang menodai kemerdekaan hidupku, karena mereka selalu mendahuluiku untuk berpikir. Aku pernah membenci mereka, berusaha dengan licik untuk menimpakan kesalahan kepada mereka. Tetapi malam ini, pada saat mereka juga tidak memperkenankan aku mati, aku sadar. Ya Tuhan. Dengarkanlah suaraku di samping suara kodok dan suara daun cemara itu, aku telah memutuskan untuk kembali kepada mereka. Bukan karena aku merasa kalah, yah katakan kalah juga boleh, tapi terutama karena mereka baru saja mengatakan kepadaku, bahwa mereka bukannya tidak mengerti tingkah lakuku, hanya mereka tidak punya waktu untuk meladeninya, sebab mereka sendiri juga kepepet. Tuhan...”
― Lho
― Lho
“Begini: aku berjanji mulai sekarang untuk memahami, jadi bukannya memprotes atau menyuruh orang lain untuk mengerti aku. Karena merekalah, orang-orang banyak itu berada di pihak yang harus dimengerti. Dalam kedahsyatan jumlah mereka, dalam perbauran mereka yang menjadikan mereka kehilangan pribadi mereka seorang-seseorang untuk satu keutuhan yang besar. Mereka telah hidup dalam penderitaan batin yang laten. Apalagi mereka harus selalu tampak gembira, bersemangat, menyanyikan perjuangan hidup seperti yang diharapkan oleh slogan-slogan besar. Malam ini aku menyerahkan diriku ke tangan-Mu untuk kau serahkan ke tangan mereka.”
― Lho
― Lho
“Mereka. Orang-orang itu. Mereka selalu memaksakan kehendak mereka. Aku tidak pernah bisa melakukan segala sesuatu yang kusenangi kalau mereka tidak suka. Aku sudah hidup tertindas. Aku sudah berontak, tapi aku tak sanggup. Aku mengerti, mereka sendiri-sendiri juga seperti aku. Mereka juga baik seperti aku kalau sendirian. Tapi aku tak pernah bisa menemukan mereka sendiri. Mereka selalu bergerombol, mereka selalu beramai-ramai. Mereka selalu menindas. Kau lihat sendiri bagaimana aku tertindas?”
― Lho
― Lho
“Orang bilang kejujuran kadang kala berbahaya apabila saatnya tidak tepat. Sekarang aku pikir, untuk memperoleh saat yang tepat, paling banter orang akan jatuh pada kebijaksanaan-kebijaksanaan yang justru menjauhkan kejujuran. Kejujuran lebih baik diterima sebagai kepolosan yang tidak mempersyaratkan apa-apa. Ia bisa diumbar setiap saat. Kejujuran yang berlawanan dengan sembarang saat—adalah kejujuran yang palsu. Setidak-tidaknya inilah yang harus dikatakan, sebab sudah semakin sedikit orang mau bersikap jujur.”
― Lho
― Lho
“Saya kira dia ini tumbuh dari kultur yang berbeda. Sekarang orang tidak biasa menahan diri. Menahan diri bukan lagi menjadi corak orang yang ingin berpribadi seperti dahulu. Semua orang sekarang ingin sukses. Dan untuk sukses semua orang harus berani tampil, berani mengemukakan keinginan-keinginannya. Kebiasaan inilah yang membuat orang dengan santai mengungkapkan kelemahan-kelemahannya dan rasa putus asanya. Mungkin dia ini merasa dengan cara demikian dia telah menampilkan dirinya dengan jujur.”
― Lho
― Lho
“Kau tahu, kita semua telah tumpul karena digosok oleh ilusi tentang masa depan. Kita semua sudah jadi orang konyol, karena kita sudah memboroskan semua waktu kita untuk menjadi pemimpin, sementara diri kita sendiri perlu diselamatkan. Siapa yang akan menyelamatkan diri kita sendiri, kalau semua kita merasa jadi pemimpin?”
― Lho
― Lho
“Kalau aku mencari kejujuran, memang sekaranglah kutemukan. Tapi kejujuran terus-menerus setiap hari membuatku capek. Aku ingin kembali menemukan basa-basi. Di mana setiap orang berusaha untuk memoles dirinya sedikit dalam sikap maupun perbuatan, supaya manis. Dengan begitu, hidup memang palsu akan tetapi tidak menjemukan. Kupikir pada saat itu kebenaran akhirnya hanya elok kalau masih ada dalam harapan. Setelah di tangan menjadi beban.”
― Lho
― Lho
“Lama-lama rasanya sulit sekali untuk tetap membungkam—untuk terus tidak diperuntukkan sebagai tubuh yang berjiwa dan berkeinginan. Pada mulanya memang enak untuk dianggap sebagai orang sakit. Karena di baliknya ada harapan mereka bahwa aku akan sembuh. Sekarang rasa-rasanya mereka sudah tidak mengharapkan apa-apa lagi. Secara kasar maka hari depanku telah macet. Aku telah dikasih harga mati.”
― Lho
― Lho
