Mata yang Enak Dipandang Quotes

Rate this book
Clear rating
Mata yang Enak Dipandang Mata yang Enak Dipandang by Ahmad Tohari
1,405 ratings, 4.12 average rating, 274 reviews
Mata yang Enak Dipandang Quotes Showing 1-6 of 6
“Menundukkan sapi jantan yang binal harus dengan cambuk dan tali yang kuat,' kata Ibu. 'Tetapi bila sapi jantan itu adalah suami, kau takkan dapat menundukkan kecuali dengan cara istimewa. Tetaplah dalam kelemahlembutan istri sejati, itulah caranya. Apabila dengan cara itu kau masih dihinakan, tiba saat bagimu untuk berbuat membela martabatmu sendiri sebagai manusia. Tetapi sepanjang pengalamanku, Yuning, bagaimanapun gagah seorang laki-laki dia akan merunduk di hadapan citra seorang perempuan sejati. Boleh jadi kata-kataku berlebihan, namun cobalah uji kebenarannya.”
Ahmad Tohari, Mata yang Enak Dipandang
“... Di mata saya, seorang lelaki yang di ujung hidupnya sempat bercita-cita menjadi wong bener adalah orang baik. Entahlah bagi orang lain, entah pula bagi Tuhan.”
Ahmad Tohari, Mata yang Enak Dipandang
tags: social
“... Mata orang yang suka memberi tidak galak. Mata orang yang suka memberi, kata teman-teman yang melek, enak dipandang. Ya, kukira betul; mata orang yang suka memberi memang enak dipandang.”
Ahmad Tohari, Mata yang Enak Dipandang
“Karsim tersenyum. Baru kali ini sejak lahir sampai datang ajalnya tadi siang pada usia 69 tahun Karsim merasa diakui keberadaannya. Dan tahulah dia sekarang, agar keberadaannya diakui orang dia harus masuk dulu ke keranda dan diiring-iring ke kuburan.”
Ahmad Tohari, Mata yang Enak Dipandang
“Ketika itu Daruan sadar, yang sedang dibungkusnya bukan sekadar buku melainkan dirinya sendiri. Pembungkusnya hanya koran lusuh, bukan kain kafan.”
Ahmad Tohari, Mata yang Enak Dipandang
“... Wajah-wajah pengendara adalah wajah para raja jalanan. Wajah-wajah yang mengusung semua lambang kekotaan; keakuan yang kental, manja, dan kemaruk luar biasa. Pamer. Ah, tetapi Karsim tahu, pamer diri itu penting. Karsim pernah mendengar itu diucapkan oleh dalang dalam sebuah pentas wayang.”
Ahmad Tohari, Mata yang Enak Dipandang