Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa Quotes
Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
by
Anand Krishna10 ratings, 4.30 average rating, 0 reviews
Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa Quotes
Showing 1-14 of 14
“Mereka lahir, hidup, dan mati dalam ketidakpuasan. Apa yang mereka bayangkan dan inginkan tidak pernah menjadi kenyataan. Mereka hidup dalam khayalan.”
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
“Pulau-pulau kecil yang terlihat olehmu, dipersatukan semuanya oleh laut. Setiap pulau beda, namun keberadaan mereka karena laut yang satu dan sama.”
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
“Cinta tidak perlu dibeli – karena ia gratis.
Ia tidak perlu diciptakan, tidak bisa diciptakan – karena ia selalu ada. Ia tidak dapat diciptakan, maka tidak pernah berakhir. Tidak bisa mati. Segala sesuatu yang romantis, puitis, bahkan segala macam filsafat, ada di dalamnya. Maka, sobatku, kadang cinta membingungkan. Karena, ia juga fisika, ia juga matematika, ia juga kimia”
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
Ia tidak perlu diciptakan, tidak bisa diciptakan – karena ia selalu ada. Ia tidak dapat diciptakan, maka tidak pernah berakhir. Tidak bisa mati. Segala sesuatu yang romantis, puitis, bahkan segala macam filsafat, ada di dalamnya. Maka, sobatku, kadang cinta membingungkan. Karena, ia juga fisika, ia juga matematika, ia juga kimia”
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
“Seorang pemimpin terlebih dahulu mesti mengakui hak-hak sipil rakyat. Janganlah mengharap rakyat memenuhi kewajibannya terhadap negara, bila hak-hak sipilnya tidak terlindungi.”
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
“Rakyat melahirkan para pemimpin.
Bukan sebaliknya.
Seorang pemimpin terlebih dahulu adalah anak bangsa. Bagian dari rakyat jelata. Bila rakyat tertindas, maka kemungkinan besar pemimpin yang lahir pun menjadi penindas. Ia sudah terbiasa ditindas, maka setelah meraih kekuasaan, terlebih dahulu ia akan membalas dendam.”
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
Bukan sebaliknya.
Seorang pemimpin terlebih dahulu adalah anak bangsa. Bagian dari rakyat jelata. Bila rakyat tertindas, maka kemungkinan besar pemimpin yang lahir pun menjadi penindas. Ia sudah terbiasa ditindas, maka setelah meraih kekuasaan, terlebih dahulu ia akan membalas dendam.”
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
“Sukarno seorang diri, Gandhi seorang diri, bahkan para nabi seperti Isa dan Muhammad pun seorang diri. Para bijak seperti Lao Tze dan Siddharta juga seorang diri. Namun, merekalah yang mengubah dan membuat sejarah.”
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
“Penindasan terjadi karena kelompok yang ditindas pasrah, rela ... mereka tidak bersuara. Mereka tidak berupaya untuk memperbaiki nasib mereka. Penguasa melakukan tirani karena rakyat bungkam, minder, lemah.”
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
“Demi kezaliman yang terjadi di Palestina, di Kashmir, di Afganistan, di Irak atau di manapun juga ... kenapa mereka rela menyengsarakan saudara-saudaranya yang sebangsa dan setanahair?
Berarti ada yang salah dengan rasa kebangsaan mereka. Mereka merasa lebih dekat dengan warga asing, dengan negara asing, ketimbang dengan saudara-saudaranya sendiri, dengan bangsa dan negaranya sendiri. Bagi mereka, padang pasir dan pohon kurma menjadi lebih penting ketimbang bumi yang subur ini.”
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
Berarti ada yang salah dengan rasa kebangsaan mereka. Mereka merasa lebih dekat dengan warga asing, dengan negara asing, ketimbang dengan saudara-saudaranya sendiri, dengan bangsa dan negaranya sendiri. Bagi mereka, padang pasir dan pohon kurma menjadi lebih penting ketimbang bumi yang subur ini.”
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
“Timur membutuhkan semangat dan dinamisme Barat.
Barat membutuhkan ketenangan dan kedamaian Timur.
Melaju dengan kecepatan tinggi tanpa rem, kecelakaan menunggu Barat. Berdiri malas di tempat tanpa semangat, Timur akan mati konyol. Pertemuan antara Barat dan Timur bermanfaat bagi keduanya.”
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
Barat membutuhkan ketenangan dan kedamaian Timur.
Melaju dengan kecepatan tinggi tanpa rem, kecelakaan menunggu Barat. Berdiri malas di tempat tanpa semangat, Timur akan mati konyol. Pertemuan antara Barat dan Timur bermanfaat bagi keduanya.”
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
“Dalam dua ribu tahun terakhir sejak kelahiran agama-agama besar di Timur itu, Bung, dunia ini telah berperang tiga ribu kali atas nama agama dan tuhan.”
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
“Rakyat yang nasionalis hendaknya belajar menghemat energi. Pemimpin dan pemerintahan yang nasionalis hendaknya memikirkan cara-cara penghematan, bukan mengeksploitas sisa sumber daya alam yang kita miliki.
Kembangkan sistem transportasi massal yang memadai, sehingga jumlah kendaraan di jalan raya berkurang. Dengan sendirinya pemakaian bahan bakar akan berkurang.
Hentikan pembangunan menara-menara perkantoran dan apartemen-apartemen tinggi di perkotaan. Biarlah penghijauan di kota-kota besar tetap terpelihara. Pembangunan di daerah-daerah terpencil lebih diperhatikan. Biarlah orang di desa mendapatkan pekerjaan di desanya sendiri. Sehingga mereka tidak perlu menambah beban metropolis. Pembangunan harus merata, harus horizontal, tidak vertikal.”
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
Kembangkan sistem transportasi massal yang memadai, sehingga jumlah kendaraan di jalan raya berkurang. Dengan sendirinya pemakaian bahan bakar akan berkurang.
Hentikan pembangunan menara-menara perkantoran dan apartemen-apartemen tinggi di perkotaan. Biarlah penghijauan di kota-kota besar tetap terpelihara. Pembangunan di daerah-daerah terpencil lebih diperhatikan. Biarlah orang di desa mendapatkan pekerjaan di desanya sendiri. Sehingga mereka tidak perlu menambah beban metropolis. Pembangunan harus merata, harus horizontal, tidak vertikal.”
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
“Setiap anak bangsa memiliki arti yang sama bagi bangsa dan negara. Di dalam kebangsaan sesungguhnya tak perlu ada yang namanya “mayoritas” dan “minoritas”. Mayoritas tidak perlu arogan. Minoritas tidak perlu minder. Kita semua sama.”
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
“Seorang penulis yang menulis tentang cinta, seorang penyair yang bersyair tentang cinta, tidak secara langsung dapat menyelesaikan kebencian di dalam dunia ini. Namun, tulisannya, syair-syairnya dapat melembutkan jiwa yang keras. Kemudian si jiwa lembut itu sendiri menyelesaikan kebencian di dalam dirinya.”
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
“Cinta memang pasaran.
Karena manusia hidup di tengah pasar dunia. Ia membutuhkan cinta pasaran. Bila ia ditempatkan di suatu tempat yang sangat tinggi di luar jangkauan manusia, maka ia tidak berguna bagi manusia.”
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
Karena manusia hidup di tengah pasar dunia. Ia membutuhkan cinta pasaran. Bila ia ditempatkan di suatu tempat yang sangat tinggi di luar jangkauan manusia, maka ia tidak berguna bagi manusia.”
― Indonesia Under Attack! Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa
