On a Journey Quotes

Rate this book
Clear rating
On a Journey On a Journey by Desi Puspitasari
46 ratings, 3.35 average rating, 15 reviews
On a Journey Quotes Showing 1-11 of 11
“Apa itu rindu?

Jarak yang membentang tanpa alat komunikasi. Itu artinya susah payah. Aku harus mencari telepon umum yang sulitnya setengah ampun. Telepon umum pertama, kabelnya putus. Telepon umum kedua, gagang teleponnya lengket. Telepon umum ketiga, tombol angkanya soak (angka 5 dan 9-nya bolong). Telepon umum keempat, jaraknya puluhan ribu kilometer barulah bisa digunakan dengan baik. Bisa saja aku menggunakan fasilitas telepon di minimarket di pangkalan bensin, tetapi aku selalu lupa mampir ke sana. Tidak ada yang buka 24 jam dan aku selalu ingat saat telah tengah malam.

Aku jadi berpikir mengenai kemungkinan lain. Aku akan menulis surat panjang. Panjang sekali karena aku akan bercerita mengenai segala hal. Dan, sekali dalam sepekan, atau sekali dalam sebulan, aku akan mendorong masuk surat tebal tersebut ke dalam kotak surat (atau aku akan mengirimkannya langsung melalui kantor pos). Selanjutnya, aku akan mengayuh sepeda, pergi melanjutkan perjalanan tanpa mengharap balasan. Aku sedang tidak memiliki alamat pasti, bukan?”
Desi Puspitasari, On a Journey
“Aku hanya jatuh cinta.” Aku berusaha menjawab dalam nada biasa. “Tapi, begitulah.”
Desi Puspitasari, On a Journey
“Aku patah hati lalu minggat naik sepeda rongsok. Aku terdengar begitu menyedihkan ya, Pak?”
Desi Puspitasari, On a Journey
“Semoga rindu dan kesedihanmu segera berganti dengan rasa bahagia.”
Desi Puspitasari, On a Journey
“Bagaimana itu hidup?

Seperti sebuah perempatan jalan. Tempat untuk bilang “hai” dan “da-dah”.”
Desi Puspitasari, On a Journey
“Stine bahkan tidak perlu menunduk membaca halaman buku. Dia menatapku sambil mengucapkan kalimat kesukaannya. “Koboi, angkat teleponmu. Rubi Tuesday sedang berbicara di jalur satu; aku merindukanmu.”

Stine terus saja menatapku.

“Aku juga merindukanmu, Rubi. Terima kasih. Itu saja, Pak Wili.” Dia kembali duduk.”
Desi Puspitasari, On a Journey
“Koboi, angkat teleponmu. Rubi Tuesday sedang berbicara di jalur satu; aku merindukanmu.”
Desi Puspitasari, On a Journey
“Orang tua memang begitu. Terutama perempuan. Sebelumnya mereka juga pendiam, tidak suka banyak bicara. Namun, ketika akhirnya mereka menjadi seorang ibu, atau juga ayah bagi anak laki-laki, mereka akan menjadi cerewet.”
Desi Puspitasari, On a Journey
“Perasaan kosong saat bangun di pagi hari bisa terasa sedemikian mematikan”
Desi Puspitasari, On a Journey
“Kau penulis yang terbiasa hidup dalam dunia khayalan, dalam artian positif. Kau penulis yang mengira selalu bisa mengendalikan tokoh-tokoh dalam ceritamu. Kau mengira laki-laki itu sebagai tokoh dalam cerita yang bisa kau kendalikan. Jadi, ketika laki-laki yang kau sukai itu bilang tidak, hal itu seperti mengguncang kesadaranmu. Penolakan itu seperti membangunkanmu dari tidur panjang. Kau lebih kaget daripada malu. Baru kemudian, bersedih karena patah hati.”
Desi Puspitasari, On a Journey
“Dalam menghadapi hal-hal yang tidak sesuai dengan pengharapanmu, dalam menghadapi kesedihan, kau bisa memilih satu di antara dua. Satu, hanya bersedih dan membiarkan hidupmu berlarut-larut pada kesedihan itu. Atau, dua, kau bisa bersedih, tapi ada usaha untuk melanjutkan hidup ke arah yang lebih baik. Kau bebas memilih.”
Desi Puspitasari, On a Journey