Lalita Quotes

Rate this book
Clear rating
Lalita Lalita by Ayu Utami
1,216 ratings, 3.69 average rating, 144 reviews
Lalita Quotes Showing 1-12 of 12
“Segala hal memiliki lawannya. Bukan musuh. Melainkan pasangan yang berkebalikan ... Dia yang tidak melihat bayang-bayangnya sendiri, dia tidak akan mendapatkan pembebasan.”
Ayu Utami, Lalita
“... Segala yang rupa ini membantu kita mencapai yang tanpa rupa.”
Ayu Utami, Lalita
“Mungkin kita tidak punya kemampuan untuk mengampuni. Yang bisa kita lakukan adalah berdamai dengan sisi lain manusia yang tak kita mengerti. Setidaknya itu membuat kita tidak mengutuk atau membalas dia.”
Ayu Utami, Lalita
“Barangkali manusia tidak punya kapasitas untuk mengampuni. Yang bisa dilakukan hanyalah berdamai.”
Ayu Utami, Lalita
“Setiap kita punya sisi gelap. Marja. Setiap kita punya bayang-bayang.”
Ayu Utami, Lalita
“Tahukah kau? Foto artinya sinar, grafi artinya gambar. Fotografi adalah sinar yang menggambar. Yang kau sebut fotografi digital itu palsu belaka, kataku. Pada digital, bukan sinar yang mencipta gambar. Huh, gambar itu terbuat dari pigmen! Pigmen yang disimpan di dalam baki mesin cetak. Fotografi palsu. Pada fotografi yang sejati-yang sekarang, dengan tidak adil, kau sebut fotografi analog-kami tidak menggunakan cat atau pigmen sama sekali. Itulah yang membuat fotografi berbeda dari seni lukis.”
Ayu Utami, Lalita
“Dia yang tidak bisa melihat bayang-bayangnya sendiri, dia tidak akan mendapatkan pembebasan.”
Ayu Utami, Lalita
“Pada perempuan ada sebuah liang, yang hanya bisa dicapai jika si perempuan sungguh membuka diri, dan si lelaki cukup lentur untuk mengalaminya. Wahai, kaum pria tidak bisa mencapainya dengan mengandalkan otot-otot maskulin yang kasar dan kaku. Mereka harus rela untuk menjadi lebih penari daripada prajurit. Dan kaum wanita tidak bisa mendapatkannya hanya dengan rebah laksana tanah. Mereka harus lebih binarang daripada kembang. Liang ini tidak bisa dicapai dalam pemerkosaan.'
PS: Hal tersebut yang dinamakan Lalita sebagai axis mundi kecil atau sensasi tutup sampanye oleh Yuda, yaitu sensasi rasa melekat kedap disumbatkan, dan dilepaskan bergantian.”
Ayu Utami, Lalita
“... Marja tidak. Marja tidak takut mengakui dosanya. Marja tidak takut menghadapi citra dan perasaan tidak menyenangkan. Marja tidak takut bercermin dalam telanjang. Dalam hal jiwa, sesungguhnya ia jauh lebih berani dibanding banyak orang. Juga dibanding kebanyakan karakter dan pembaca buku ini.”
Ayu Utami, Lalita
“Empat hal yang mengguncangkan kesadaran Siddharta saat ia dewasa
'Yang pertama adalah orang tua. Yang kedua, orang sakit. Yang ketiga, orang mati. Ia tidak pernah melihat tiga penderitaan itu sebelum ini, menjadi tua, sakit, dan mati adalah penderitaan manusia yang niscaya. Ia merenungkannya. Lalu ia mengalami perjumpaan dengan yang keempat. Yaitu dengan seorang pertapa nan mulia, yang damai dan tak lekat pada apapun sehingga terbebaskan dari ketakutan dan kesengsaraan penderitaan manusia. Ia melihat benih jawaban. Sumber penderitaan manusia adalah kemelekatan. Ketidakmelekatan membebaskan manusia dari itu.”
Ayu Utami, Lalita
“Orang yang tidak percaya Tuhan tidak perlu menjelaskan kenapa ada kejahatan. Hanya orang yang percaya Tuhan-lah yang harus menerangkan kenapa ada kejahatan.”
Ayu Utami, Lalita
“Jika kau tidak lagi percaya pada akal budi, ke mana kau akan pergi selain ke dalam kegelapan?”
Ayu Utami, Lalita