Find & Share Quotes with Friends

Salah Asuhan Quotes

Rate this book
Clear rating
Salah Asuhan Salah Asuhan by Abdoel Moeis
2,107 ratings, 3.74 average rating, 175 reviews
Salah Asuhan Quotes Showing 1-4 of 4
“Segala orang harus menerima baik apa yang hendak dilakukan oleh sesama manusia atas dirinya sendiri,” sahut anak muda, yang dinamai Han oleh si gadis tadi, “asal perbuatan itu tidak mengganggu atau merugikan sesama manusia. Bila di dalam segala buatan, kita harus bertanya lebih dahulu kepada orang lain, apakah timbangan atas perbuatan itu, meskipun perbuatan itu tidak mengganggu kesenangannya, niscaya akan menjadi berat kehidupan manusia, Corrie.”
― Abdoel Moeis, Salah Asuhan
“Apakah keuntunganku masuk dipersamakan dengan bangsa Eropa? Bangsaku sendiri bangsa Melayu, menjauhkan diri daripadaku. Bangsamu, bangsa Eropa, memandang jijik kepada diriku. Janganlah bangsamu yang masuk lapisan di atas, sedang penduduk kampung, asal tersebut masuk bangsa Eropa, memandang dirinya jauh di atas diriku, dan tiadalah mereka suka bergaul dengan aku.”
― Abdoel Moeis, Salah Asuhan
“Ya, ibu mengucaplah ibu dengan setulus-tulusnya, barangkali Ibu akan mendapatkan ilham, lalu dapat berkata dengan benar. Pada hematku Ibulah juga yang banyak bersalah atas diriku, sudah tentu dengan tidak sengaja, melainkan karena pendapat yang berlainlain juga. Oleh karena menurut perintah Ibu saja, maka aku sampai begini sengsaranya. Nona Corrie, sebab takut pada Ibu, sudah enyah ke Betawi. Sekalian kawanku di sini, sebab mendengar hujah Rapiah, maka bercerai dengan aku. Jika aku tidak kasihan pada Ibu, niscaya kuturutkan Corrie ke Betawi, sudah tentu saat ini kami sedang hidup bersama-sama dengan kesenangan. Setelah kuturutkan kehendak Ibu, kuterima Rapiah itu, Ibu pula yang menimbulkan selisih antara kita berdua, karena baru sepatah aku berkata buat mengajar istriku, supaya ia mengerti sedikit-sedikit, Ibu sudah menjadi pembelanya, hingga ia makin teranja-anja. Amboi! Kerugian Ibu tentang menjadi kewajiban bagi seorang ibu menyerahkan anaknya ke sekolah? Apakah tidak secukupnya kubayar kembali dan masih akan kuteruskan membayarnya dengan bunga berlipat ganda pula daripada jumlah kerugian Ibu?”.”
― Abdoel Moeis, Salah Asuhan
“Benar Han! Sudah begitu fiil manusia. Jika pendapat atau perbuatan orang berlainan dengan dia, meskipun orang itu tidak mengganggunya, sudah galibnya ia turut memusingkan hal orang itu. Jadi jika hendak hidup aman, turutlah yang banyak di dalam hal adat kebiasaannya, 'Masuk kandang kerbau menguak, masuk kandang kambing mengembek', kata orang di tanah airmu. Itulah pakaian buat hidup, Han."

"Terima kasih, Piet. Nantilah hendak kupikir-pikir, apakah aku perlu akan pakaian yang serupa itu atau tidak."

"Kalau engkau hendak hidup, dan hidup aman, terpaksa," sahut Piet. "Dunia kita di negerimu ini memang sempit. Buat di negeriku, tanah Eropa, adalah berlapang-lapang sedikit. Di situ tidak perlu sekalian orang turut memikirkan apa yang hendak dilakukan oleh sesamanya manusia, asal ia tidak melanggar adat sopan santun; kalau itu yang diperbuatnya, niscaya polisilah yang akan merawati dirinya. Jika aku esok atau lusa mengisap rokok daun enau, sudah tentu sekalian surat kabar akan memperkatakan perbuatan itu."

"Ya," kata Hanafi, setelah bermenung sejurus, "kadang-kadang terpikirlah olehku, apakah harganya hidup ini, kalau seorang manusia masih tidak ada kemerdekaan atau kelonggaran kepada sesamanya manusia pula, di dalam hal melakukan kehidupannya sendiri?”
― Abdoel Moeis, Salah Asuhan