Calon arang Quotes

Rate this book
Clear rating
Calon arang: Kisah perempuan korban patriarki : prosa lirik Calon arang: Kisah perempuan korban patriarki : prosa lirik by Toeti Heraty
85 ratings, 3.62 average rating, 12 reviews
Calon arang Quotes Showing 1-9 of 9
“riwayat Calon Arang, dikisahkan kini sebagai perempuan korban patriarki, mungkin memang ada peristiwa nyata di Kerajaan Erlangga abad kesebelasan, lalu mengalami berbagai distorsi kemudian mengalami Bali-nisasi.
Sementara persepsi masa kini mendudukkannya tanpa pretensi kebenaran sejarah hanya demi rehabilitasi dan empati dalam rentang waktu dan keabadian: secuil kebenaran dan keadilan.”
Toeti Heraty, Calon arang: Kisah perempuan korban patriarki : prosa lirik
“Ini hanya spekulasi, karena sangat faham peran ibu, nasib janda, dan perempuan elok sebagai komoditi jadi bulan-bulanan dalam masyarakat patriarki, tetapi kini tergantung perempuan, kehendaknya sendiri: apa yang ia kehendaki?”
Toeti Heraty, Calon arang: Kisah perempuan korban patriarki : prosa lirik
tags: women
“... Singkatnya begini, semakin kini perempuan tampil ke depan, tetapi semakin pula dipertanyakan sejauh mana tampil solidaritas wanita karena ada sindrom primadona ingin menjadi satu-satunya bintang.”
Toeti Heraty, Calon arang: Kisah perempuan korban patriarki : prosa lirik
“... untuk pria dan perempuan berbeda, kata orang Perancis 'hiduplah perbedaannya' dan satu hal tentang, obyek tentang yang namanya tubuh ini, terkait erat dengan rasa malu, diawali dengan daerah kemaluan yang sejak Adam dan Hawa, karena dosa dan asal lalu ditutupi. Mengapa? Karena seakan-akan punya kehendak sendiri, tapi itu hanya pada pria, adanya ereksi yang tak terkendali, jadi menyalahi kehendak kesadaran, yang menjadi ciri hewan unggulan akhirnya, yang membuat manusia mirip hewan, nafsu tak terkendali. Kemudian semakin berbulu semakin hewani: memang tubuh itu memalukan dan untuk kendala birahi, dipakailah busana yang manfaatnya ganda: menutupi malu, melindungi tubuh, memperindah dan memperelok dengan maksud meningkatkan daya tarik.”
Toeti Heraty, Calon arang: Kisah perempuan korban patriarki : prosa lirik
“... belum lagi kata orang 'tresno jalaraning kulino'
kita sayang karena terbiasa, tapi ada lagi pepatah
londo Inggris yang mengatakan 'familiarity breeds contempt' jadi keakraban penyebab pelecehan, terjemahannya kurang tepat, memang antar bahasa susah dicari kata padanannya.”
Toeti Heraty, Calon arang: Kisah perempuan korban patriarki : prosa lirik
“... Tapi memang perlu dibedakan, meskipun sukar, antara biologi dan budaya, apa pun penjelasan cinta-biologi dengan gamblang menyodorkan bahwa penerusan jenis manusia tidak mungkin tanpa naluri untuk senggama, dengan bonus kenikmatannya yang belum tentu sama untuk pria dan wanita:
ada lagu dari Perancis, yang dikenal unggul soal cinta:
'plaisir d'amour ne dure qu'un moment
chagrin d'amour dure toute la vie.' yang berarti nikmat cinta hanya sesaat, derita cinta sepanjang hayat.”
Toeti Heraty, Calon arang: Kisah perempuan korban patriarki : prosa lirik
“Itulah yang disebut misogini
yang menurut psikoanalisa sangat dalam akarnya:
kalau disebut wanita itu makhluk lemah lalu harus dilindungi, itu tidak benar dua-duanya
Lemah? Ia lebih bertahan di hari tua dan sebagai balita
dilindungi? Lebih tepatnya dieksploitasi yang penting harus dikekang kebebasannya.

Jelas lagi dia punya dua kelebihan ialah
dapat melahirkan anak, dan setiap saat
tidak menunggu ereksi, siap bersenggama
itu sangat dicemburui pria lalu apa ulahnya?”
Toeti Heraty, Calon arang: Kisah perempuan korban patriarki : prosa lirik
“Calon Arang, nasibmu yang malang
demi cinta lalu menghukum seluruh negeri
tapi anak sendiri mengkhianati,
demi cinta menjadi geram
demi cinta dimusnahkan oleh pendeta”
Toeti Heraty, Calon arang: Kisah perempuan korban patriarki : prosa lirik
“perkara kecil membelenggu wanita dengan tetek bengek yang malah disyukuri olehnya secara serius, dungu, dan syahdu”
Toeti Heraty, Calon arang: Kisah perempuan korban patriarki : prosa lirik