Surat-Surat Kartini Quotes

Rate this book
Clear rating
Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya by Raden Adjeng Kartini
139 ratings, 4.07 average rating, 11 reviews
Surat-Surat Kartini Quotes Showing 1-30 of 136
“Hidup ini penuh teka-teki dan rahasia. Manusia mudah berubah-ubah. Jangan selalu mencari sebabnya pada tabiat yang lemah. Ada kemungkinan terjadi peristiwa-peristiwa dalam hidup yang menjadikan seorang pahlawan tampak menjadi pengecut. Jangan menyalahkan, betapapun hina dan rendahnya suatu perbuatan yang tampak, sebelum kamu mengetahui apa yang mendorong orang berbuat seperti itu.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Pergilah, bekerjalah untuk mewujudkan cita-citamu. Bekerjalah untuk hari depan. Bekerjalah untuk kebahagiaan ribuan orang tertindas oleh hukum yang lalim, dengan faham yang keliru tentang benar dan salah, tentang baik dan jahat. Pergilah, pergilah, tanggunglah derita dan berjuanglah tetapi bekerjalah untuk sesuatu yang kekal.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kami mengira kami tahu banyak sekali tapi sesungguhnya kami tidak tahu apa-apa. Kami mengira kami mempunyai kemauan, kemauan besi. Kami mengira kami dapat memindahkan gunung tetapi nyatanya hanya setitik air mata pedih, sekejap pandangan mata duka cita dari mata yang kami sayangi dan patahlah kekuatan kami.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Tidak menjadi soal bagaimana caranya mengabdi kepada kebaikan, asalkan baik saja.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Saya malu sekali memikirkan kepentingan pribadi. saya berpikir-pikir dan mengelamun tentang keadaan saya sendiri dan di luar, di sekekliling saya demikian banyaknya orang yang hidup menderita dan sengsara. Seolah-olah udara tiba-tiba bergetar disebabkan oleh suara orang-orang menderita disekeliling saya yang menjerit, mengerang dan mengeluh. Lebih keras lagi dari suara mengerang dan mengeluh terdengar bunyi mendesing dan menderau dalam telinga saya: Bekerja! Bekerja! Bekerja! Berjuanglah membebaskan diri! Baru setelah kamu bekerja membebaskan diri, akan dapatlah kamu menolong orang lain! Bekerja! Suara itu saya dengar terang sekali.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Seorang guru bukan hanya sebagai pengasah pikiran saja, melainkan juga sebagai pendidik budi pekerti.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Saya mau, saya akan memperjuangkan kebebasan saya. Saya mau, Stella saya mau, mendengarkah kamu? Bagaimana mungkin saya memenangkannya, kalau saya tidak berjuang? Bagaimana saya akan mendapat, kalau saya tidak mencari? Tanpa perjuangan tidak akan ada kemenangan. Saya tidak gentar menghadapi keberatan dan kesusahan, saya merasa cukup kuat untuk mengatasinya.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Ia tidak wajib patuh kepada siapapun, siapapun juga, kecuali terhadap suara batinnya, hatinya.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Bermimpilah terus, bermimpilah terus, bermimpilah selama kamu dapa bermimpi! Apabila tiada mimpi, apakah jadinya hidup? Keadaan yang sesungguhnya biasanya sangat kejam.

Barang kali memang betul apa yang dikatakan orang, bahwa sebenarnya kami harus tinggal seorang diri di sebuah pulau yang tidak didiami manusia!

Tetapi jika demikian, orang lalu betul-betul akan memikirkan diri sendiri saja bukan? Saya kira kami harus hidup dengan dan untuk orang banyak. Itulah tujuan hidup, untuk membuat hidup indah!

Derita akan meluhurkan, sekurang-kurangnya kalau orangnya baik. Dalam hal lain derita justru akan merendahkan. Juga kami akan berubah. Bagaimana perubahan itu hanya Tuhan yang tahu. Yang kami ketahui hanyalah, kami bukanlah lagi anak-anak yang lela.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Hormati segala yang hidup, hak-haknya, perasaannya.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Apalah gunanya pemerintah memaksa orang laki-laki menyisihkan uang, kalau isteri-isteri mereka yang menyelenggarakan rumah tangga tidak mengenal tentang nilai uang?”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Tapi bukankah kegelapan ini justru akan membuat cahaya itu tampak lebih terang? Maksud Tuhan terhadap kita adalah baik. Hidup ini diberikan kepada kita sebagai rahmat dan tidak sebagai beban; kita manusia sendiri umumnya membuatnya jadi kesengsaraan dan penderitaan.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kalau terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan pada diri saya karena perbuatan orang lain, maka mendidihlah darah saya. Saya marah sekali, tetapi sesudah itu semacam rasa gembira meliputi diri saya. Saya senang karena merekalah yang berbuat demikian terhadap sayacdan bukan saya terhadap mereka, sebab jika demikian saya berakhlak rendah. Dan apabila saya menjadi sedih karenanya, maka hal itu disebabkan karena dengan berbuat hina itu mereka memperlakukan saya keji dan tidak adil.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Tetapi apalah artinya pandai dalam ilmu yang hendak diajarkan itu, apabila ia tidak dapat menerangkan secara jelas kepada murid-murid.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Tiada barang mustahil di dunia ini! Dan sesuatu barang yang hari ini kita teriak-teriakkan mustahil sama sekali, besok merupakan kenyataan yang tidak dapat disangkal!”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Alangkah ajaibnya rasa kasih sayang. Rasa cinta adalah surga dan neraka yang menjadi satu.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kami adalah anak manusia biasa, sangat biasa, campuran antara jahat dan baik, seperti jutaan anak yang lain. Boleh jadi pada saat ini dalam diri kami terdapat lebih banyak yang baik daripada yang jahat, tetapi sebabnya tidak perlu dicari lebih jauh. Orang yang hidup dalam lingkungan yang sederhana, tidak sukar untuk menjadi baik; seolah-olah dengan sendirinya dia akan menjadi baik. Sama sekali bukan hikmat, bukan suatu jasa untuk tidak berbuat jahat; apabila tidak terbuka kesempatan bagi kita untuk berbuat demikian. Kelak apabila kami telah meninggalkan sarang orang tua yang hangat dan aman; berdiri dalam kehidupan manusia sepenuhnya; di situ tidak ada lagi tangan orang tua yang setia memeluk kami. Jika di sekeliling hidup kami angin ribut mengamuk dengan garang, tidak ada tangan yang penuh cinta menopang dan memegang kami. Jika kaki kami goyang, barulah pertama-tama akan nyata, apa sebenarnya kami ini.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Walaupun saya tidak beruntung sampai kepada ujung jalan itu, walaupun saya akan patah di tengah jalan, saya akan mati dengan bahagia. Jalan sudah terbuka dan saya telah turut merintis jalan yang menuju ke kebebasan dan kemerdekaan perempuan Bumiputera.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Karena bila taraf hidup kesenian suaty bangsa tinggi, maka budi bangsa itu sendiri adalah suatu puisi.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Orang mencoba membohongi kami, bahwa tidak kawin itu bukan hanya aib, melainkan dosa besar pula. Telah berulang kali itu dikatakan kepada kami. Aduhai! Dengan menghina sekali orang sering kali membicarakan perempuan yang membujang!”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Apa yang lebih menyedihkan daripada kehidupan kanak-kanak yang sengsara, apa yang lebih sengsara daripada anak-anak yang semuda itu harus menanggung kepahitan hidup?

Dan gadis-gadis terutama sangat susah hidupnya, karena mereka telah berada di tempat dimana alam setiap hari diperkosa. Bukankah itu memperkosa kodrat alam namanya, apabila perempuan harus tinggal dengan damai serumah dengan madunya?

Sungguh, anak bangsa itu sendiri, orang perempuan harus memperdengarkan suaranya! Masih akan dapatkah dengan tenang orang mengatakan "keadaan mereka baik" kalau orang melihat dan mengetahui semuanya, yang telah kami lihat dan kami ketahui itu?”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Setiap orang tahu, bahwa pada umumnya gadis Jawa tidak diberitahu mengenai rencana perkawinan yang dibuat para pelindungnya untuknya. Dalam daerah Pasundan boleh jadi betul, bahwa anak perempuan dan anak muda yang bertunangan bisa saling mengenal, melihat, dan bertemu, tetapi tanyakanlah di tempat-tempat lain mana di Jawa hal itu terjadi.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Bagaimanapun jalannya, sekali-kali jangan lelah untuk berusaha gigih membela semua yang baik.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Sungguh-sungguh, sifat gadis tua, menyanjung-nyanjung kenangan lama.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Praktek teori "menderita dahulu baru bahagia" sangatlah berat penanggungannya!”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Memahami sesuatu itu teramat sukar bukan kekasih?! Sukar sekali untuk mempelajarinya, bagi mereka yang tidak ada pembawaan.

Mengerti akan membuat orang menimbang-nimbang dengan lunak, memberi ampun dan membuat kami baik.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Tetapi kalau angkatan muda bersatu, dapatlah kiranya kami dengan kekuatan yang bersatu mewujudkan sesuatu yang baik.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Dan terhadap pendidikan itu janganlah hanya akal yang dipertajam, tetapi budipun harus dipertinggi.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Tidak berhak menjadikan anak lahir kalau orang tidak mampu menghidupinya.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Kami anak-anak perempuan tidak boleh mempunyai pendapat, kami harus menerima dan menyetujui serta mengamini semua yang dianggap baik oleh orang lain.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya

« previous 1 3 4 5