Mati, Bertahun yang Lalu Quotes
Mati, Bertahun yang Lalu
by
Soe Tjen Marching258 ratings, 3.69 average rating, 73 reviews
Mati, Bertahun yang Lalu Quotes
Showing 1-23 of 23
“Mengapa kesatu harus disebut pertama? Tapi, tidak ada kata lain untuk kedua, ketiga dan seterusnya. Mengapa kata "satu" harus dibedakan?
Kata berdua, bertiga, berempat adalah untuk menyatakan jumlah orang sesuai dengan akar kata yang terlibat.....
Tapi bersatu memberi arti lain-bersatu justru menunjukkan tidak ada satu orang yang terlibat. Kalimat "kita bersatu di sana" justru maksudnya tidak hanya satu orang, tapi banyak orang yang bersama. Satu yang banyak.”
― Mati, Bertahun yang Lalu
Kata berdua, bertiga, berempat adalah untuk menyatakan jumlah orang sesuai dengan akar kata yang terlibat.....
Tapi bersatu memberi arti lain-bersatu justru menunjukkan tidak ada satu orang yang terlibat. Kalimat "kita bersatu di sana" justru maksudnya tidak hanya satu orang, tapi banyak orang yang bersama. Satu yang banyak.”
― Mati, Bertahun yang Lalu
“...hidup seringkali dipenuhi dengan orang-orang yang berjalan dalam tidur, yang sebenarnya sudah tak menginginkan hidup itu lagi, namun mereka tidak tahu pilihan yang lain.”
― Mati, Bertahun yang Lalu
― Mati, Bertahun yang Lalu
“Bagi sel-sel ini, manusia layaknya alam semesta yang tak terjangkau, yang tak teraih, tak terlihat, tak dapat dipahami. Namun mereka dengan setia menjadi bagian dari kita, dan bekerja sama dengan seluruh milyaran sel lain demi hidup kita.”
― Mati, Bertahun yang Lalu
― Mati, Bertahun yang Lalu
“Bila hidup adalah guru, aku seperti murid yang tak mampu menjawab pertanyaannya di depan kelas. Yang kuinginkan adalah menghilang, menghilang, menghilang dari tatapan murid lain yang mengejek. Lenyap dari segala pandangan mereka”
― Mati, Bertahun yang Lalu
― Mati, Bertahun yang Lalu
“Ketuaan adalah sebuah proses, bukan lompat tinggi. Dan kalau kita bertambah tua, dan bertambah dekat dengan liang lahat, mengapa harus dirayakan dengan nyanyian panjang umurnya?”
― Mati, Bertahun yang Lalu
― Mati, Bertahun yang Lalu
“Ketiadaan adalah ada. Karena bila ketiadaan adalah tiada, maka ia tak perlu lagi disebutkan, dikatakan, atau digambarkan.”
― Mati, Bertahun yang Lalu
― Mati, Bertahun yang Lalu
“Salah seorang menyempatkan menyapa: "Kamu kok pucat?"
Tolong...aku mayat yang tersasar. Di dunia kehidupan.”
― Mati, Bertahun yang Lalu
Tolong...aku mayat yang tersasar. Di dunia kehidupan.”
― Mati, Bertahun yang Lalu
“Bagi manusia hidup, masa lalu adalah bagian dari mereka sekarang. Karena itu, masa lalu sebenarnya tidak pernah lalu, karena selalu menjadi bagian masa depan. Namun bagiku, ia hanyalah sekumpulan kisah di mana aku adalah pemeran utamanya.”
― Mati, Bertahun yang Lalu
― Mati, Bertahun yang Lalu
“Begitu cintanya mereka pada hidup. Hingga orang mati pun tidak diperkenankan tampil sebagai mayat.”
― Mati, Bertahun yang Lalu
― Mati, Bertahun yang Lalu
“Rupanya adat itu seperti bahasa. Ia diciptakan manusia dan kemudian ganti menciptakan mereka, sehingga akhirnya manusia harus menurut pada calo adat, ahli adat yang bisa menyuruh-nyuruh manusia.”
― Mati, Bertahun yang Lalu
― Mati, Bertahun yang Lalu
“Mayat Papa dijadikan rebutan. Padahal sewaktu hidup, jarang yang menggubris dia.”
― Mati, Bertahun yang Lalu
― Mati, Bertahun yang Lalu
“Lalu, apa hidup mereka bahagia setelah diselamatkan?" tanyaku.
"Tentu saja Mbak, kan mereka sudah selamat."
"Apa mereka pasti bahagia hanya karena bisa hidup?"
"Saya yakin mereka akan menikmati hidup dan bersyukur karenanya."
"Kok tahu?”
― Mati, Bertahun yang Lalu
"Tentu saja Mbak, kan mereka sudah selamat."
"Apa mereka pasti bahagia hanya karena bisa hidup?"
"Saya yakin mereka akan menikmati hidup dan bersyukur karenanya."
"Kok tahu?”
― Mati, Bertahun yang Lalu
“Percayalah, bila kamu tidak dapat mengalihkan perhatian pada hal lain yang fana..., dan hanya memikirkan kehidupan itu sendiri, kamu akan gila: karena ia akan mengalahkan dan merendahkanmu secara perlahan.”
― Mati, Bertahun yang Lalu
― Mati, Bertahun yang Lalu
“Ia menceritakan kisah tentang surga, di mana para manusia yang saleh dapat hidup dengan nikmat, senikmat-nikmatnya. Mereka bisa mendapat makanan dan minuman berlimpah, bidadari yang cantik-cantik (jadi, para bidadari tidak bisa menikmati surga karena mereka cuma budak seks di sana).”
― Mati, Bertahun yang Lalu
― Mati, Bertahun yang Lalu
“Tuyul ini adalah makhluk halus--ia sudah mati tapi tampak hidup seperti anak normal. Hanya ia tidak bisa besar. Ia berada di alam kanak-kanak selamanya. Waduh, kan kayak Peter Pan?”
― Mati, Bertahun yang Lalu
― Mati, Bertahun yang Lalu
“mereka begitu sibuk mengecat kembali rumah-rumah yang warnanya telah pias dan mewarnai kain dengan sumba yang kental. Baju-baju yang warnanya pudar dibuang, diganti dengan yang lebih mencerang. Mungkin kepiasan mengingatkan mereka pada kematian. Karena itu, ia harus dihindari.”
― Mati, Bertahun yang Lalu
― Mati, Bertahun yang Lalu
“kulihat kepulan hidupku yang terakhir, mendekati. Inilah kelebihan orang mati--ia bisa melihat wujud hidup.”
― Mati, Bertahun yang Lalu
― Mati, Bertahun yang Lalu
“Setahuku, Papa tidak benci hidup. Dia tidak pernah membenci hidup.
Tapi hiduplah yang membenci dia. Papa selalu meminta hidup untuk bersamanya dengan menggapai-gapai tumpukan pil dan masker oksigen. Bahkan ketika hidup akan meninggalkannya.”
― Mati, Bertahun yang Lalu
Tapi hiduplah yang membenci dia. Papa selalu meminta hidup untuk bersamanya dengan menggapai-gapai tumpukan pil dan masker oksigen. Bahkan ketika hidup akan meninggalkannya.”
― Mati, Bertahun yang Lalu
“Akhirnya mereka semua diam bukan karena tidak mau ribut-ribut di depan orang mati, tapi karena ada makhluk di dekat yang tak bernyawa, yang bisa sesenggukan.”
― Mati, Bertahun yang Lalu
― Mati, Bertahun yang Lalu
“Berdekatan dengan mereka selalu mengingatkanku pada kejaran pertanyaan "Mana suaminya? Mana anaknya?". Aku sendiri tidak penting. Bagi mereka, mempunyai suami dan anak jauh lebih penting dari diriku. Aku memang sudah mati sebelum mati.”
― Mati, Bertahun yang Lalu
― Mati, Bertahun yang Lalu
“Orang yang mati disebut pergi. Sedang aku belum pergi. Aku masih di sini. Tapi sungguh, aku sudah mati.”
― Mati, Bertahun yang Lalu
― Mati, Bertahun yang Lalu
“dan aku terkadang lupa untuk pura-pura hidup. Tubuhku terdiam. Denyutku hilang. Aku tidak bergerak sama sekali. Tapi, setelah terdiam beberapa lama, si kembar mulai menusuk-nusuk tubuhku dengan jari mereka, mengingatkan aku untuk berpura-pura hidup lagi”
― Mati, Bertahun yang Lalu
― Mati, Bertahun yang Lalu
“Aku merapikan semua kertas-kertas dan alat tulisku yang berceceran. Aku sudah mati, tapi masih melakukan segala rutinitas ketika masih hidup.”
― Mati, Bertahun yang Lalu
― Mati, Bertahun yang Lalu
