Grace Tjan’s Reviews > Destiny Disrupted: A History of the World Through Islamic Eyes > Status Update

Grace Tjan
Grace Tjan is on page 128 of 390
Ghazali had won the day. From his time forward, Greek-based Muslim philosophy lost steam and Muslim interest in natural science foundered. The same forces that squeezed protoscience out of Islamic intellectual life, the same forces that devalued reason as an instrument of ethical and social inquiry, acted to constrict the position of women.
Apr 18, 2011 09:10PM
Destiny Disrupted: A History of the World Through Islamic Eyes

flag

Grace Tjan’s Previous Updates

Grace Tjan
Grace Tjan is on page 130 of 390
Sometime during this period, the status of women in Islamic society seems to have changed as well. Various clues suggest to me that in the early days of Islam, women had more independence and a greater role in public affairs than they had later on. Khadija, the Prophet's first wife, was a powerful and successful businesswoman. Ayesha, his youngest wife, commanded armies in the field.
Apr 18, 2011 08:53PM
Destiny Disrupted: A History of the World Through Islamic Eyes


Grace Tjan
Grace Tjan is on page 105 of 390
2nd Caliph (Omar) killed by a "deranged Persian slave". 3rd Caliph (Othman) killed by a Muslim mob. 4th Caliph (Ali) killed by the Kharijites (= Khawarijs?). Hussein, grandson of the Prophet, killed by Yazid, the second Ummayad Caliph. Now, Abbasids vs Ummayads.
Apr 17, 2011 08:58PM
Destiny Disrupted: A History of the World Through Islamic Eyes


Comments Showing 1-9 of 9 (9 new)

dateUp arrow    newest »

Nanto soal al ghozali itu sih sebenarnya bisa dilihat dari sudut lain. saat itu perseteruan antara tiga tradisi keilmuan yang berkembang di komunitas islam (fiqih, tasawuf dan filsafat) itu begitu sengit. al ghozali sendiri tidak bisa disudutkan dengan akhir dari apa yang dia usahakan. ada beberapa pendapat yang menempatkan al ghozali layaknya Kant di barat ketika ia mempersandingkan fiqih dan tasawuf dalam satu koridor yang tidak melulu bertentangan.

tp lucunya ada pernah dalam sebuah diskusi ttg magnum opus dia yang lain (ihya ulumuddin) dikritik karena berbau hindu oleh seorang pegiat kampus yang jadi mitra diskusi saya. ini terbilang tuduhan berani. karena sebelumnya setau saya kalaupun ada kritik adalah pencantuman hadish yang tidak sepenuhnya tergolong kuat. tp buat saya, mulai saat itu saya lebih melihat dalam konteks dulu untuk kemudian menarik kesimpulan :D secara juga pengetahuan saya terbatas untuk menghakimi sejauh itu

kalau soal filsafat memang ada pendapat yang menyatakan buku dia yang membungkan "filsafat" itu juga tidak cukup kredibel karena luas sampel yang dia rujuk sebagai filsafat tidak mencakup filsafat diluar aristotelian. pendapat ini pun masih dari sumber kedua yang mengomentari buku itu. saya baru mau baca buku al ghozali yang berjudul tahafut al falsifa itu :D


Grace Tjan nanto wrote: "soal al ghozali itu sih sebenarnya bisa dilihat dari sudut lain. saat itu perseteruan antara tiga tradisi keilmuan yang berkembang di komunitas islam (fiqih, tasawuf dan filsafat) itu begitu sengit..."

Kalau tentang Ibn Tammiyah dan Abdul Wahab (pendiri Wahabi), setuju nggak sama ulasan Ansari? Yang gue tangkap tentang keduanya: penafsirannya cenderung literal dan 'keras', terutama soal kemurnian akidah dan hubungan dengan non-Muslim.

Kalau ajaran al Hallaj yang dibakar hidup2 itu ada hubungannya nggak sama ajarannya Syech Siti Jenar (manunggaling kawula gusti)? Kalau menurut Ansari, dia itu sebenarnya reformer Muslim pertama, seperti Martin Luther di Kristen.

Sorry nih nanya2, soalnya gue non Muslim, jadi banyak yang gue nggak ngerti. Matur nuwun kalau ada yang bisa ngasih komentar/penjelasan. : )


Nanto kalo al ghozali + ibn Taimiyah gue sepakat sama Ansari terutama dalam posisinya terhadap akal. dalam kasus al Ghozali terjadi pada akal bebas yang berkembang dalam bentuk tradisi filsafat islam. dalam kasus ibn Taimiyah berdampak pada ijtihad (penggunaan akal yang posisinya dalam menafsir berada pada urutan paling bawah setelah qur'an dan hadits). Ijtihad kalau tidak dikatakan mati. tp posisi kedua ulama ini dikalangan mayoritas muslim dominan positif.

beda dengan wahabi. dalam soal wahabi gue banyak sepakat sama Ansary. dalam perkembanganya Wahabi banyak pergesekan dengan aliran pemikiran dalam islam dan cenderung literal. hal itu salah satunya terkait juga dengan posisi wahabi yang dominan berkembang di semenanjung arabia terutama di daerah yang sekarang disebut Arab Saudi. penerapan aturan wahabi di daerah itu, yang didalamnya ada dua tanah suci umat islam, sempat menimbulkan perselisihan dengan para musafir haji yang datang dari latar belakang aliran yang berbeda. kalau tak salah akhirnya "perdamaian" itu dicapai dalam bentuk bahwa di Mekkah dan Madinah diterima praktek-praktek ritual non wahabi, termasuk penganut syiah dalam menjalankan ibadah saat ada di dua tanah suci itu.

hal itu banyak terjadi di era awal abad 21. saat itu sedang melemahnya Turki Utsmani dan bangkitnya isu pan-islam. salah satu yang disebutkan Ansary sebagai kelakuan Wahabi adalah merusah rumah yang diyakini sebagai tempat lahirnya Nabi Muhamad SAW. Hal itu dilakukan demi membasmi kurafat/dan kemusrikan karena "penyembahan" terhadap hal-hal yang berkaitan dengan Muhamad. Tp akibatnya hingga kini tidak pernah ada artefak yang menjadi semacam "museum/ pepunden" tempat itu. yang buat sebagian muslim lainnya tentunya penting untuk dijaga keberadaannya

kalau soal Al Hallaj dan Syekh Siti Jenar buat gue yang harus dijelaskan itu adalah, 1. apa itu ajaran Al Hallaj dan apa itu ajaran syekh siti jenar?

di sini gue sendiri tidak pernah membaca tulisan langsung tentang al Hallaj kecuali ucapan dia saat mabuk yang mengucap Ana Al Haq (aku lah Kebenaran/salah satu dari Asma Allah). dan itu secara literal memang tidak bisa dibenarkan, tp apakah dari sisi batin dia dapat dipersalahkan? ini yang jadi perdebatan. ajaran dia sendiri disebut wahdatul wujud (penyatuan wujud) yang menurut sebagian ulama pasti ditolak. sedangkan di sisi ajaran syekh siti jenar, apakah benar ia menjalankan konsep ajaran itu? karena dalam novel suluk abdul jalil, agus sunyoto berusaha membantah hal itu berdasarkan naskah yang tersimpan di cirebon yang menceritakan syekh siti jenar yang berbeda dari cerita yang umum beredar. bahkan sampai apakah syekh siti jenar itu benar dihukum pancung. dalam cerita versi novel agus sunyoto bahkan inti penyebaran agama di jawa oleh syekh siti jenar adalah kesetaraan dan pengakuan akan hak pribadi (aku) yang tidak ditemui di tanah jawa karena kuatnya konsep kawula-gusti. kesetaraan ini yang harus dikuatkan di tanah jawa selain tauhid itu sendiri. ini syekh siti jenar versi agus sunyoto yang menceritakannya dalam novel 6 jilid terbitan LKiS. saya baru beli kemarin :D

nah dari uraian itu saya rasa membandingkan al hallaj apalagi syekh siti jenar dengan Martin Luther King sepertinya tidak sebangun deh. ada kemiripan tp lebih perbandingan bebas barang kali.

di buku terjamahan Indonesia yang saya baca, Ansary ketika memperbandingkan hal itu bukan dalam arti analogi ketat tp sebagai permudahan saja. Ansary selalu menyebutkan bahwa ada perbedaan mendasar yang membuat analoginya tidak sepenuhnya ditujukan untuk mempersamakan.


itu pendapat gue, yang bisa jadi banyak yang harus dilengkapi atau dikoreksi


message 4: by Grace Tjan (last edited Apr 23, 2011 05:27AM) (new) - rated it 4 stars

Grace Tjan Makasih pencerahannya yang panjang lebar. : )

"salah satu yang disebutkan Ansary sebagai kelakuan Wahabi adalah merusah rumah yang diyakini sebagai tempat lahirnya Nabi Muhamad SAW. Hal itu dilakukan demi membasmi kurafat/dan kemusrikan karena "penyembahan" terhadap hal-hal yang berkaitan dengan Muhamad. Tp akibatnya hingga kini tidak pernah ada artefak yang menjadi semacam "museum/ pepunden" tempat itu. yang buat sebagian muslim lainnya tentunya penting untuk dijaga keberadaannya."

Gue kebetulan pernah ke makam Rumi di Konya, Turki dan waktu gue disana sempat nanya sama guide yang orang Turki, kenapa koq sekuriti disitu ketat sekali. Katanya karena sudah beberapa kali mau di bom oleh kaum "ekstrimis". Mungkin dianggap 'musyrik' kali ya. Kaum Wahabi ini kayaknya sifatnya ikonoklastik, mirip dengan beberapa gerakan Kristen, terutama Protestan abad ke 16 yang suka menghancurkan patung, lukisan, makam dan relik santo/santa yang ada di gereja. BTW, sumber ajaran ikonoklastik ini baik di Kristen maupun Islam sumbernya sama, yaitu dari larangan membuat 'graven images' oleh Nabi Musa.

"kalau soal Al Hallaj dan Syekh Siti Jenar buat gue yang harus dijelaskan itu adalah, 1. apa itu ajaran Al Hallaj dan apa itu ajaran syekh siti jenar?"

Gue pernah baca buku tentang walisanga (lupa karangan siapa) yang mendeskripsikan ajaran SSJ itu yang sepertinya mirip dengan ajaran al Hallaj di buku ini. Tapi memang kayaknya banyak hal tentang walisanga masih tidak jelas/ ada berbagai versinya. Entah mana yang benar. Bisa juga kematian SSJ lebih disebabkan karena masalah politik daripada agama.

"nah dari uraian itu saya rasa membandingkan al hallaj apalagi syekh siti jenar dengan Martin Luther King sepertinya tidak sebangun deh. ada kemiripan tp lebih perbandingan bebas barang kali."

Ini teks Inggrisnya:

The church arrested Huss and burnt him at the stake in a fire fueled with copies of the vulgate Bibles he had been promoting. In short, Christianity did to its first reformers what Islam had done to the proto-Sufi Hallaj."

Ya mungkin memang analogi gue kurang tepat. Maklum deh gue awam tentang teologi Islam jadi mungkin salah tompo. :D


Nanto Sandybanks wrote: "Kaum Wahabi ini kayaknya sifatnya ikonoklastik, mirip dengan beberapa gerakan Kristen, terutama Protestan abad ke 16 yang suka menghancurkan patung, lukisan, makam dan relik santo/santa yang ada di gereja. BTW, sumber ajaran ikonoklastik ini baik di Kristen maupun Islam sumbernya sama, yaitu dari larangan membuat 'graven images' oleh Nabi Musa."

yah itu tepat keknya. gue pernah denger soal itu di kristen dan di islam juga ada.

trus kalau soal wali songo, sebenarnya yang beredar di kalangan sejarawan dan kalangan umum bisa jadi masih besar perbedaanya. seperti di kalangan sejarawan jelas tidak menganggap songo/sembilan itu sebuah jumlah dari seluruh wali yang ada di tanah jawa. mungkin karena yang beredar di kalagan awam kebanyakan menyadur dari naskah tradisional tanpa megkritisi dulu kali yah. gak tau juga kenapa itu terjadi..

kalo soal Martin Luther dan Al Hallaj, keknya harus dibuka lagi apa yang dimaksud sama Ansary.

btw, soal akal bebas. dalam sejarah islam filsafat malah mendapatkan catatan buruk ketika kubu filusuf dekat dengan penguasa (salah satu dinasti abbasyiah) dalam polemiknya dengan salah satu pendiri aliran fiqih Hambali (yg kebetulan cenderung litaral dalam penafsiran kitab suci) malah melibatkan kekuasaan politik yang mengakibatkan Ulama fiqih tersebut meninggal di dalam penjara. Ini sebuah catatan gelap saat polemik melibatkan campur tangan kekuasaan. Hambali ini yang setau gue oleh Ansary digambarkan dengan metode Ibn Taimiyah.


Grace Tjan nanto wrote: "Sandybanks wrote: "Kaum Wahabi ini kayaknya sifatnya ikonoklastik, mirip dengan beberapa gerakan Kristen, terutama Protestan abad ke 16 yang suka menghancurkan patung, lukisan, makam dan relik sant..."

Ya kalau soal walisongo kayaknya kebanyakan sumbernya dari babad ya, jadi masih ada hal2 yang belum jelas ada dasar historisnya atau legenda/mitos.

Ini yang baru gue baca di detik hari ini :

http://www.detiknews.com/read/2011/04...

"Jenarisme = bom bunuh diri?" Masa sih?


Grace Tjan "btw, soal akal bebas. dalam sejarah islam filsafat malah mendapatkan catatan buruk ketika kubu filusuf dekat dengan penguasa (salah satu dinasti abbasyiah) dalam polemiknya dengan salah satu pendiri aliran fiqih Hambali (yg kebetulan cenderung litaral dalam penafsiran kitab suci) malah melibatkan kekuasaan politik yang mengakibatkan Ulama fiqih tersebut meninggal di dalam penjara. Ini sebuah catatan gelap saat polemik melibatkan campur tangan kekuasaan. Hambali ini yang setau gue oleh Ansary digambarkan dengan metode Ibn Taimiyah."

Biasanya memang kalau aliran keagamaan tertentu dekat dengan kekuasaan, pengikutnya akan dapat angin untuk 'menghabisi' golongan yang interpretasinya berbeda. Kalau di sejarah Kristen ini banyak contohnya, terutama waktu berbagai kontroversi tentang Trinitas, Kristologi dll. diselesaikan melalui Konsili yang hasilnya 'disetir' oleh kekuasaan kekaisaran. Pendeta/Uskup dan umat yang mendukung interpretasi yang berbeda nggak sedikit yang mengalami represi.

Kebetulan lagi baca bagian ini di Christianity: The First Three Thousand Years.


message 8: by Nanto (last edited Apr 24, 2011 07:44AM) (new) - rated it 4 stars

Nanto Sandybanks wrote: "Jenarisme = bom bunuh diri?" Masa sih?"

hahaha ngawur blas. gak usah make jenarian, setau gue sebagai orang jawa aja dah tau ungkapan "hidup dalam mati dan kematian dalam hidup" itu lebih ke arah pengendalian hawa nafsu. gak ada hubungan sama fatalisme yang muncul dalam bentuk aksi bom bunuh diri yang dia maksud.

ngawur blas tulisanya. thx buat linknya.

untuk soal konflik dalam tubuh kristen, gue sebagai anak HI dalam mata kuliah sejarah HI yang mainstream sering didongengin tentang perang 30 tahun yang melahirkan nation-state sebagai bentuk kompromi pemilahan penguasa-agama-masyarakat yang terjadi saat katolik dan protestan konflik di Eropa :D


Grace Tjan "untuk soal konflik dalam tubuh kristen, gue sebagai anak HI dalam mata kuliah sejarah HI yang mainstream sering didongengin tentang perang 30 tahun yang melahirkan nation-state sebagai bentuk kompromi pemilahan penguasa-agama-masyarakat yang terjadi saat katolik dan protestan konflik di Eropa :D"

30 Years War, kulminasi konflik Katolik-Protestan. Sampai sekarang juga masih sering 'perang', tapi perang doktrin doang udah nggak pakai kekerasan, kecuali di Irlandia Utara.

Katolik & Protestan = Sunni & Syiah di Islam. : )

Karena di Barat ada sejarah kelam peperangan dan represi karena agama, timbul ide "separation of church and state".


back to top