Dibuka dengan apik dengan pandangan tentang bagaimana 'ilmu perempuan' (baca: feminisme) punya keterbatasan dalam memahami peranan wanita Melayu, hingga berujung mengartikannya sebagai pihak submisif dan mengabaikan dominasi yang tersirat dalam peranan mereka. Bagian ini ibarat Bab I dalam penelitian. Kebetulan, gaya penulisannya memang lekat dengan pendekatan metodologis ala penelitian ilmiah, minus narasi kering bertabur referensi.
Entah bagaimana mulainya, sampai halaman ini, yang medok malah penjelasan seluk beluk spiritualitas Jawa (baca: Kejawen). Belum ada kewanita-wanitaannya. Bukan, ini bukan protes. Bagian ini terasa tebal dan kaya sebagai konteks. Bukannya terasa diulur-ulur, malahan bikin penasaran.
Berhenti di halaman ini pun karena keingat besok masih kudu ngantor.
Entah bagaimana mulainya, sampai halaman ini, yang medok malah penjelasan seluk beluk spiritualitas Jawa (baca: Kejawen). Belum ada kewanita-wanitaannya. Bukan, ini bukan protes. Bagian ini terasa tebal dan kaya sebagai konteks. Bukannya terasa diulur-ulur, malahan bikin penasaran.
Berhenti di halaman ini pun karena keingat besok masih kudu ngantor.