“
ANATOMI CINTA
(dingin, klinis, nihilistik)
Aku masuk ruang autopsi itu dibayangi pretensi dan halusinasi.
Aku nyalakan lampu neon dingin yang mengiris mata.
Aku kenakan sarung tangan lateks dan pisau bedah #11.
Ini tubuh yang harus dibedah dengan presisi dan tanpa empati.
Aku mulai dari permukaan:
kulit tipis yang dulu kau sebut rasa.
Warnanya pucat, tak lebih dari jaringan mati
yang dibentuk oleh harapan yang tak pernah terwujud.
Dengan pisau mikro,
aku membuka lapisan idealisasi—
ia terkelu
...more
”
―
―
















