Salah satu bentuk kemalasan seorang perempuan adalah untuk mencari jati diri yang selanjutnya paska berumahtangga. Rasa kenyamanan memang bisa menghancurkan.
Hidup itu seperti headline surat kabar. Hari ini menjadi berita, besok jadi barang usang dan sudah tidak lagi dibicarakan orang. Jadi pembungkus cabai atau alas makanan.
Mungkin seharusnya aku menulis buku motivasi saja, mengutip ucapan para tokoh besar dunia dan meramunya dengan sedikit kisah perjuanganku menggapai mimpi. Pasar pembaca seperti itu tampaknya lebih luas—ada terlalu banyak orang yang sebentar-sebentar harus disuapi dengan petuah-petuah untuk memulai hari mereka. Mereka akan dengan rakus membeli dan melahap setiap buku-bukuku. Kelaparan mereka akan mengisi penuh pundi-pundiku. Akan tetapi tanganku terasa kaku setiap aku hendak memulai. Bagaimana aku bisa menulis dan menjadi inspirasi buat banyak orang bila aku sendiri merasa hidupku membosankan—dan hidup dalam rasa frustrasi berkepanjangan?
Mungkinkah setiap orang sebenarnya tidak pernah benar-benar mengenal pasangannya? Memahami kegelisahannya—atau rahasia terdalam yang disimpannya rapat-rapat?
Apapun teorinya, hari sial itu memang ada. Bila mungkin, ingin rasanya menghapus hari tersebut atau memulai segala sesuatu dari awal. Bagaimana bila kita memulai hari dengan cara yang berbeda, memikirkan dan melakukan hal-hal yang berbeda atau tidak mengambil keputusan-keputusan yang telah kita ambil di hari itu, akankah hidup membawa kita pada akhir yang berbeda?
Aku kadang bertanya, kenapa manusia suka sekali mendobrak kenyamanan yang sudah ada. Atas nama mengikuti passion, kata hati, atau mungkin juga hasrat dan nafsu terliarnya.